“Pak Wisnu?” tegur Haya kemudian, sementara Wisnu masih menatapnya dengan kening yang semakin mengerut. “Bapak lupa pasti sama saya.” “Iya. Tapi samar-sama saya ingat pernah ketemu,” ujar Wisnu. “Ayo duduk dulu sambil memanggil ingatan lama,” sambungnya ramah. Baru saja mereka menempati kursi masing-masing, putra sulung Wisnu dan keluarga kecilnya datang bergabung. Di Vienna, Ditya menjalankan profesinya sebagai IT experts dan istrinya mengelola sebuah kafe serta jasa pembuatan furniture. “Mantan terindah, Dad?” tanya Ditya pada Wisnu, usil. Wisnu tergelak seraya mencengkeram surai sang putra yang turut tertawa renyah. “Kalian tuh ya, senang banget ngeledekin orang tua,” ujar Haya. Tak marah, hanya tak habis pikir. “Ibu risih ya? Maaf ya, Bu?” Justru Widi yang khawatir. “Ngga. Lucu