“Aku tahu kalau aku lebih keren dari pria yang kamu ingin buat cemburu, tapi memeluk tanganku seperti ini hanya membuat orang berpikir kamu habis menculik orang untuk kamu bawa ke acara ini.”
Ucapan Samudra membuat Kinara menoleh pada pria yang tengah ia peluk lengannya erat.
“Ish, aku peluk tangan mas Sam itu biar kelihatan mesra aja,” jawab Kinara sambil melepaskan lengan Samudra setengah menghempas.
Tanpa kata Samudra segera meraih jemari tangan Kinara dan menggenggamnya erat.
“Seperti ini saja sudah cukup memberitahu orang kalau kita datang sebagai pasangan,” bisik Samudra sambil berjalan menuju lobby hotel dimana acara reuni digelar.
“Kinaraaa…”
Panggilan teman-teman Kinara membuat gadis itu menoleh dan langsung sibuk menyapa mereka dengan wajah sumringah. Samudra tersenyum tipis ketika melihat raut wajah Kinara berubah riang. Raut yang jarang sekali terlihat sejak ia melihat gadis itu 10 hari yang lalu.
“Sana, berbaurlah dengan temanmu,” bisik Samudra ketika Kinara kembali menghampirinya.
“Ini teh siapa atuh?” goda Santika sambil melirik Samudra terang-terangan.
“Pacarnya Kinara,” jawab Samudra singkat, mendahului Kinara yang hampir keceplosan.
“Wah, Kinara mah rejekinya alus,” celetuk Santika. “Dulu Fey, sekarang naik kelas.”
Samudra tersenyum tipis. “Naik kelasnya kebanyakan bercanda,” balasnya ringan, membuat tawa kecil pecah di antara mereka.
“Kalau ada satu lagi yang begini, aku mau daftar,” Santika berseloroh.
“Antre dulu,” jawab Samudra santai, lalu menggenggam tangan Kinara. “Yang ini sudah ada pemiliknya.”
Santika tertawa dan mengalah. Melihat kelakuan temannya Kinara hanya tertawa renyah dan membiarkan Samudra menggandeng tangannya dan mengajaknya ke dalam.
Lagi-lagi nama Fey disebut membuat Samudra semakin penasaran dengan sosok yang pria itu.
“Kita duduk dimana?” tanya Kinara pada Delia dan pembicaraan itu terdengar oleh Samudra.
“Lebih baik kita duduk disini saja, berada ditengah tak jauh dari panggung sehingga bisa melihat acara dengan leluasa,” ucap Samudra segera memilih meja dan duduk bersama Santika.
Kinara dan Delia berjalan mengikuti tapi langkah Kinara terhenti ketika melihat seseorang yang duduk di meja yang berada didepan dan sejajar dengan mejanya. Fey.
“Mas, kita pindah meja saja,” bisik Kinara tiba-tiba.
“Nggak ah, kita duduk disini saja. Gimana?” tolak Samudra lalu meminta persetujuan pada Santika dan kedua teman Kinara yang lain yang ikut bersama mereka.
“Dimana pun Aa duduk, kami ikut duduk,” ucap Fitria diiringi gelak tawa yang lainnya.
Sedangkan Delia dan Kinara saling tatap sesaat sebelum akhirnya Kinara ikut duduk di sisi Samudra bersama teman-temannya yang lain. Melihat Kinara duduk di sisinya– Samudra segera menarik kursi Kinara agar lebih dekat dengannya dan merangkul pinggangnya mesra.
“Mas, mau apa biar aku ambilkan?” tanya Kinara cepat mengalihkan rasa canggungnya, tiba-tiba saja ia takut Fey melihat sikap Samudra yang mesra padanya.
“Aku ingin sesuatu yang ringan saja, perutku masih terasa kenyang setelah kita makan tadi,” jawab Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Kinara membuat gadis itu spontan menundukan pandangannya dan segera berdiri meninggalkan meja bersama Delia.
“Siapa itu, Kin?” tanya Delia penasaran dengan sosok Samudra.
“Sepupu.”
“Masa sepupu sikapnya seperti itu? Dia beneran pacar kamu? Atau kalian sedang dekat? Kamu gak mau bilang karena ada Fey, kan?” cecar Delia tak puas dengan jawaban Kinara.
“Ck! Aku sudah melupakan Fey,” jawab Kinara cepat dan segera mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Delia.
“Bagus kalau gitu! Awas aja kalau kamu tiba-tiba curhat sambil nangis karena rindu sama Fey! Dia itu gak setia, Kin! Gak ada ceritanya setelah putus sebulan trus langsung pacaran sama cewe lain dan perempuan itu juga teman dekat kamu! Mereka pasti sudah selingkuh lama!” ancam Delia setengah berbisik seolah mengingatkan apa yang terjadi pada Kinara.
Kinara hanya diam dan mengalihkan pandangannya sesaat pada sosok pria yang sedari kemarin ia ingin temui. Fey.
Ditempat yang lain, Samudra tengah melayani pengagumnya sambil mencuri pandang pada sosok pria yang tengah duduk bersama teman-temannya dengan seorang wanita yang selalu menempel mesra.
Banyak pria tampan yang hadir malam itu, tetapi entah mengapa instingnya mengatakan bahwa pria yang duduk tak jauh dari mereka adalah Fey–mantan kekasih Kinara. Melihat reaksi Kinara yang gugup dan langsung menjaga jarak dengan Samudra membuat pria itu semakin yakin dengan dugaannya.
“Fey itu mantan kekasihku mas, ia seniorku dan kami sempat memiliki hubungan hampir 3 tahun. Tetapi setelah lulus ia langsung memutuskan hubungan dengan alasan hendak meneruskan sekolahnya diluar. Menurut teman-temanku, setelah putus tak lama kemudian Fey berpacaran dengan Tasya.”
Ucapan Kinara kembali terngiang di telinga Samudra saat dirinya menanyakan siapa Fey untuk Kinara. Sesaat Samudra mencari sosok Kinara di antara keramaian orang-orang yang ada karena acara sudah akan dimulai.
Tak lama, Kinara pun kembali dengan sepiring cemilan dan segera air untuk Samudra. Pria itu segera menarik Kinara agar duduk menempel dengannya dan merangkul pinggangnya erat.
“Mas–”
“Diamlah,” bisik Samudra seolah tak ingin dibantah dan menahan tubuh Kinara yang mencoba menjauhkan dirinya dari Samudra.
Kinara hanya diam dan mencoba menyimak acara yang segera dimulai walau pikiran dan konsentrasinya pecah saat melihat Tasya yang tengah duduk bersama Fey dan teman-temannya merangkul pria itu dari belakang dan meletakan dagunya di bahu Fey.
Samudra malah tenggelam menyimak acara yang ada, ia baru menyadari bahwa Kinara sudah tak ada disisinya ketika acara resmi selesai tinggal mingle dengan rekan sejawat.
Perlahan Samudra berdiri untuk mencari Kinara dan akhirnya ia melihat Kinara tengah berdiri di sudut memandang ke arah seseorang. Gadis itu berdiri mematung menatap Fey yang tengah berbincang riang dengan teman-temannya seolah tak mempedulikan kehadiran Kinara yang sebenarnya tak jauh dari sana.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Samudra ditelinga Kinara.
Kinara menoleh ke arah suara dan menatap Samudra dengan tatapan yang berkaca-kaca. Samudra segera menarik Kinara agar berdiri dihadapannya dan perlahan melingkarkan kedua tangan Kinara di pinggangnya.
“Rangkul pinggangku, tatap wajahku dan jangan menangis,” perintah Samudra setengah berbisik sambil memberikan senyuman manis pada Kinara.
Disuruh untuk tidak menangis, air mata Kinara malah menetes deras.
“Mereka sudah bertunangan,” isak Kinara pelan sambil menatap Samudra sedih. Samudra semakin melebarkan senyumannya ketika melihat seseorang tengah berjalan ke arah mereka dan segera menempelkan keningnya ke kening Kinara sebelum akhirnya ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Orang itu adalah Fey.
Disudut matanya Samudra bisa melihat bahwa langkah Fey terhenti ketika melihat Samudra menarik Kinara dalam pelukannya.
“Hapus air matamu perlahan, jangan sampai ada yang melihat kamu menangis,” bisik Samudra sambil menatap tajam Fey dari balik rambut Kinara. Pria itu segera membalikan tubuhnya dan berjalan menuju kekasihnya dan tak menoleh lagi.
“Ayo aku antar kamu pulang. Basuh wajahmu dulu, tunggu aku di lobby, aku ingin merokok sebentar,” suruh Samudra.
Kinara segera mengangkat wajahnya dan mengangguk lalu pergi meninggalkan Samudra untuk membasuh wajahnya dan menenangkan diri. Setelah merasa dirinya lebih baik, Kinara segera berjalan menuju lobby dan menunggu Samudra disana.
“Kinara,” panggilan seseorang membuat Kinara menoleh dan berdiri mematung saat menyadari yang memanggilnya adalah Fey yang berdiri hanya satu meter dari sisinya bersama Tasya.
“Apakabar Kin?” sapa Tasya kikuk dan melepaskan rangkulan tangannya pada Fey seolah tak enak hati karena Kinara melihat kemesraan mereka.
Kinara hanya bisa diam, ia terlalu syok untuk membalas panggilan dan pertanyaan Fey juga Tasya. Pandangan mata Kinara dan Fey bertemu. Ada pandangan sedih dan seolah banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Kinara. Pria tampan itu menatap Kinara begitu dalam rindu tanpa Tasya sadari.
“Sayang,” sapa Samudra tiba-tiba sudah berada disisi Kinara.
Mendengar sapaan Samudra pada Kinara membuat Fey dan Tasya menoleh kearah Samudra, begitu pula Kinara yang hanya diam membisu.
“Halo, temannya Kinara kah? Perkenalkan Saya Samudra–kekasih Kinara,” ucap Samudra ramah segera mengulurkan tangannya untuk menyalami Tasya dan Fey.
Sepasang kekasih itu membalas uluran tangan Samudra dan Samudra bisa merasakan genggaman erat Fey dan pandangan mata Fey yang berubah tajam ketika mereka saling menatap.
“Kami duluan ya,” pamit Samudra sambil mengambil jemari tangan Kinara ketika mobil yang menjemput mereka berhenti di depan lobby.
Kinara hanya diam dan mengikuti langkah Samudra untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dari dalam mobil Kinara masih tak bisa melepaskan pandangannya dari Fey, begitu pula Fey yang terus menatap mobil yang membawa Kinara pergi sampai tak terlihat lagi.
“Hei–”
Samudra segera menutup mata Kinara dengan telapak tangannya seolah menyadarkan gadis itu dari pandangannya pada Fey. Ada perasaan yang tak enak melihat Kinara menatap Fey penuh cinta. Pandangan Kinara mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu ketika ia masih mencintai seseorang begitu dalam.
Bersambung.