2. RIyT

1181 Kata
"Tiara Nareswari." Suara itu mengulang menyebut namanya diikuti langkah kaki yang tampak tak sabar untuk memastikan. "Ternyata ini beneran kamu." Sosok itu muncul di depan Tiara yang membelalakkan matanya. "Nathan ...." Nama itu lolos dari bibirnya tanpa suara. Benar, Tiara mengenalinya, teramat sangat kenal. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Pertanyaan bodoh itu tersampaikan yang justru membuat seulas senyum di wajah tampan itu kian mengembang. "Kangen kamu, loh, Ra," ucap pria itu dengan santainya. Mulut Tiara terbuka, tatapannya lurus pada Nathan yang masih mematri senyum lebarnya. Binaran di matanya begitu sarat akan kerinduan yang akhirnya luruh ketika bertemu. "Kamu apa kabar, Ra?" Nathan bertanya tanpa mengubah nada suara yang bersahabat, ramah, dan sialnya membuat Tiara seperti menemukan ketenangan dan lupa bahwa dia tengah memergoki ketidakbiasaan suaminya di tempat umum. Tapi Tiara diam, dia hanya menatap Nathan dengan pandangan yang sulit diartikan. Melihat Tiara yang diam saja, Nathan menatapnya heran. Senyumnya luntur tapi tidak dengan raut bahagia atas pertemuan itu. "Kenapa sih, Ra? Kok, kayak liat hantu," kata Nathan. "Kamu kan hantunya," celetuk Tiara membalas perkataan Nathan. Detik berikutnya kedua mata Tiara membola, nyaris keluar dari tempatnya ketika suara Nathan menggema di lobi rumah sakit, mengundang tatapan heran, bingung, kaget dan ragam jenis lainnya. Tiara sendiri terkejut, menatap Nathan tak percaya. "Nathan ih! Malu!" Bisik Tiara sambil menunduk. "Kenapa, Ra?" Nathan bertanya tapi raut wajahnya justru tampak puas karena tertawa. "Kamu gak berubah sama sekali ya, Tiara. Masih seceplos itu. Gemes nih aku." Dahi Tiara mengerut, dia tidak suka dengan apa yang Nathan katakan. "Seseorang gak bakal mudah berubah kalo gak dari dirinya sendiri. Dan seseorang itu kadang palsu," tutur Tiara. Sekali lagi, Nathan tertawa. "Nathan!" Tiara menegur kali ini, malu dengan tingkah Nathan. "Ini rumah sakit loh, Than, berisik tau." Nathan berhenti tertawa, dia menatap Tiara cukup lama seakan menyelediki setiap letak tahi lalat di wajah cantik perempuan itu. Sosok yang penampilannya sederhana tapi memiliki aura yang tidak biasa baginya. "Kalo gitu, mau bicara berdua aja, gak?" "Hah?" "Kenapa? Punya janji?" Spontan Tiara menggelengkan kepalanya. Detik berikutnya dia mengerjapkan mata polos. Nathan menahan tawa melihat kepolosan Tiara yang membuatnya ingat masa lalu. "Baguslah. Ayo pergi, kita bicara." Tiara diam saja saat Nathan berbalik hendak pergi. Pria itu menyadarinya. "Kenapa?" "Mau apa, sih, Than? Kita kan udah gak ada lagi hubungan apapun," kata Tiara mengingatkan. Sesaat Nathan terdiam, tak bereaksi. "Ada atau nggak, aku gak peduli, Ra. Aku kan cuma mau ngobrol aja sama kamu setalah sekian tahun. Kencan kali," Nathan nyengir santai tanpa peduli dengan tegangnya Tiara. "Jangan ngaco. Aku udah punya suami." Tiara sekali lagi mengingatkan. Dia tahu Nathan ingat pernikahannya tiga tahun lalu. Mendengar itu Nathan sempat mengetatkan rahangnya, tatapannya menggelap untuk sesaat. "Siapa peduli, sih? Aku kan cuma mau temu kangen sama kekasihku. Jadi, ayo pergi Ra, di sini banyak mata. Kita jadi tontonan gratis. Mereka pikir kita romantis kali, ya?" Cengiran Nathan muncul lagi membuat Tiara terdiam. Sekali lagi tubuh Tiara menegang ketika tangan besar Nathan bergerak di punggung tangannya lembut, dan hangat, lantas menggenggamnya. "Ayo pergi." Senyumnya adalah penenang yang telah lama hilang bagi Tiara, yang membuatnya lupa akan alasan mereka berpisah dulu, tiga tahun lalu, atau bahkan mungkin lebih dari itu. Sentuhan lembut di punggung tangannya seolah menjadi daya pikat yang menarik paksa kesadaran Tiara. Langkah kakinya bergerak mengikuti tarikan pelan Nathan, membelah kerumunan koridor rumah sakit yang mulai padat. Namun, tepat sebelum tubuhnya benar-benar berbelok menuju pintu keluar lobi, Tiara menoleh ke belakang sekali lagi. Ke arah deretan kursi antrean apotek, tempat di mana suaminya berada. Di seberang sana, entah karena ikatan batin atau sekadar kebetulan, Andika tiba-tiba menegakkan kepala. Perasaannya mendadak tidak tenang, seolah ada sepasang mata yang sejak tadi menguliti punggungnya. Andika mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut lobi dengan kerutan dalam di dahi. Detik itu juga, netra Andika menangkap sekelebat bayangan gaun yang sangat dia kenali. "Tiara?" gumam Andika lirih. Andika memicingkan mata. Di ujung koridor yang berbatasan dengan pintu keluar, dia melihat siluet seorang wanita yang sangat mirip dengan istrinya. Namun, yang membuat jantung Andika berdesir aneh adalah keberadaan seorang pria bertubuh jangkung di samping wanita itu. Pria asing yang mengenakan kemeja kasual namun berwibawa, tampak menggenggam jemari sang wanita dengan begitu erat. Mereka berjalan beriringan, tampak begitu dekat. "Mas? Ada apa?" Suara lembut wanita di sampingnya memecah fokus Andika. Wanita berambut kecokelatan itu menyentuh lengan Andika, menatapnya dengan binar sarat ketergantungan. "Ah, tidak. Mas sepertinya melihat Tiara," jawab Andika, dia masih berusaha melongokkan kepala, mencoba mengejar bayangan yang kini telah hilang di balik pintu kaca otomatis rumah sakit. Rasa penasaran dan ego lelakinya mendadak terusik. "Untuk apa Tiara ke sini? Dan siapa pria itu? Gak mungkin Tiara berani bergandengan dengan pria lain," batin Andika berkecamuk. "Nyonya Adelina Maharani!" Panggilan lantang dari pengeras suara apotek seketika membuyarkan spekulasi di kepala Andika. "Mas, itu namaku sudah dipanggil. Obat penguat kandunganku sudah siap," ujar Adelina sambil mengelus perutnya yang masih rata, memberikan senyum manja yang selalu berhasil meluluhkan Andika. Andika tertegun sesaat, menatap pintu keluar yang kosong, lalu beralih menatap Adelina. Rasa bersalah sebagai pria yang ingin menjadi pahlawan bagi masa lalunya seketika mengambil alih. Dia mengembuskan napas panjang, mengusir bayangan Tiara dari benaknya. "Ya sudah, ayo kita ambil obatnya dulu. Kamu jangan banyak berdiri, nanti capek." Andika menuntun Adelina, sepenuhnya mengabaikan firasat yang baru saja mengetuk hatinya. Sementara itu, di area parkir luar yang berangin, Tiara langsung menarik tangannya dari genggaman Nathan begitu mereka menjauh dari pintu kaca. "Kenapa, Ra? Takut suamimu lihat?" tanya Nathan. Nada suaranya terdengar santai, tapi ada kilat getir yang melintas cepat di matanya yang tajam. Tiara membenarkan tasnya, menatap Nathan. "Aku menghargai pernikahan ini, Than. Tolong jangan bikin rumit." Nathan terkekeh pelan, seolah ucapan Tiara hanyalah angin lalu. "Rumit gimana? Aku cuma ajak makan siang, bukan ajak kabur. Kamu pucat banget, Ra. Kayak belum sarapan seabad." Tiara meraba pipinya yang terasa dingin. "Aku mau pulang," bisik Tiara, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru mesin kendaraan di sekitar mereka. Nathan memperhatikan dalam diam, menyadari ada yang salah. Binar jenaka di wajah tampannya itu hilang seketika berganti dengan raut menyelidiki. "Ra, kamu sakit?" Nathan bertanya, kali ini suaranya rendah dan penuh penekanan. Sifatnya yang menggebu-gebu di luar, seketika berubah menjadi ketenangan yang menuntut kepatuhan saat menghadapi seseorang yang tampak tidak sehat. "Cuma agak mual," dusta Tiara singkat, enggan memperpanjang urusan. "Aku bisa pulang sendiri." "Jangan keras kepala. Wajah kamu itu gak bisa bohong dari dulu," potong Nathan tegas. Dia langsung memberi isyarat pada mobil SUV hitamnya yang terparkir tak jauh dari sana. "Masuk ke mobilku. Aku antar pulang, atau aku seret kamu ke ruang IGD sekarang juga. Pilih mana?" Tiara menatap obsidian Nathan yang keras tak terbantah. Di saat suaminya sendiri mengabaikan ratusan pesannya demi wanita lain, di sinilah pria dari masa lalunya berdiri, menatapnya dengan seluruh atensi yang begitu menghangatkan sekaligus menakutkan. Tiara menghela napas pasrah, menyadari bahwa tubuhnya memang sudah terlalu lelah untuk berdebat. Dia melangkah menuju mobil Nathan, membawa serta sepotong tanya baru dari dalam rumah sakit, tanpa menyadari bahwa mobil suaminya masih terparkir beberapa meter di belakangnya. Di dalam mobil hitam itu, rahasia pernikahan tiga tahunnya mulai retak. Sementara di dalam tubuhnya sesuatu merayap perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN