3. RIYT

1125 Kata
"Katanya mau antar pulang, kok malah nyeret ke sini?" Tiara protes. Kenyataan kalau Nathan memaksanya untuk mengantarkan pulang tapi malah mendudukan paksa dirinya di kursi restoran. "Ya. Nanti anter kok, Ra, setelah makan. Lagian ini kan udah masuk jam makan siang juga. Kalo kamu mual, kemungkinan mag, jadi makan dulu, sekalian temenin aku," balas Nathan. Tiara hanya menghela napas pasrah. Dia tahu Nathan tak akan pernah bisa dibujuk bila sudah seperti ini. "Jangan sembarang dong pesannya. Satu menu buat aku, Than," ujar Tiara saat Nathan mengabsen menu sebelah pelayan mencatatnya. "Dua spaghetti bolognese dan 2 jus jeruk, itu aja ya Mbak," kata Tiara pada pelayan. "Apa yang dia sebutin jangan dicatat. Terima kasih." Pelayan itu tersenyum kecil lantas berlalu setalah mengangguk. "Kok satu aja, sih, Ra?" Nathan protes. "Ya itu cukup, Nathan. Aku harus segera pulang. Nanti suamiku nyariin. Aku harus masak juga buat suamiku." Tiara menegaskan kata suamiku udah menyadarkan Nathan bahwa dia bukan lagi seorang perempuan bebas yang bisa diajak kemana saja oleh pria, sekalipun pria itu yang dikenal baik olehnya. Bagaimanapun juga, Tiara harus punya izin suami. "Ya nggak apa-apa kan, Ra. Kita reunian juga. Siapa peduli kamu udah punya suami atau belum. Bagiku kamu adalah Tiara, bukan istri orang," kata Nathan keras kepala. "Egois banget," komentar Tiara. Nathan hanya mengedikkan bahunya acuh. Dia tidak peduli, dan dia tahu itu. Untuk beberapa saat hanya ada hening. Tiara memperhatikan ponselnya, tidak ada notifikasi masuk. Padahal, dia berharap setidaknya Andika membuka pesan di aplikasi dan membalasnya. Tiara tahu kalau Andika sempat melihat dirinya. Di seberang meja, Nathan memperhatikan dalam diam. Dia tahu Tiara sudah menikah 3 tahun lalu. Tahun kedua Nathan di Inggris. Binar jenaka di matanya redup, berganti dengan sesuai yang sedikit. Sesuatu yang hanya dia tahu. Dalam gelap itu ada luka. "Kamu ngapain di RS, Ra?" Nathan bertanya, kembali seperti tadi. Dia menatap Tiara, menaruh ponselnya di kantong celana dalam mode hening. "Ya ngapain lagi kalo gak cek kesehatan, Than? Sebagai dokter kenapa pertanyaan itu yang terlontar. Aneh," sahut Tiara. "Ya, nggak juga sih, Ra. Kan mau tau aja, kali aja cek kandungan," balas Nathan. Tapi hal itu justru membuat Tiara diam, wajahnya mendung dan menunduk. Seketika Nathan merutukin dirinya sendiri menyadari hal itu. "Doain aja cepet jadi benih, Than." Pada akhirnya dia berkata demikian, berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. Tapi Nathan tahu, dan dia mengenal seperti apa mode kebohongan Tiara. Nathan mengangguk. "Mau aku titipin benihku gak, Ra?" Uhuk! Tiara berbatuk heboh mendengar celetukan Nathan itu. Tapi si pelaku malah menatapnya polos sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang baru saja dia ucapkan. "Gak usah ngaco. Dasar gila!" Dia melotot tajam pada Nathan usai menguasai diri. "Nggak kok, Ra. Dengan senang hati. Lagian yang aku inginkan ya kamu," katanya santai. Kelewat santai malah. "Nathan. Gila!" Tapi Nathan tertawa. Dia mengenal Tiara, cukup mengenalnya, dan jika umpatan itu muncul dia tahu Tiara teralihkan walau untuk sesaat. "Mau ya, Ra? Dijamin benihku unggul," lanjutkan. "Nathan. Edan. Eling, eling dong, ah." Nathan tertawa. "Awas ngakak lagi, aku sumpal nih pake kaos kaki," ancam Tiara seolah tahu kalau Nathan akan melepaskan tawa kerasnya seperti di rumah sakit. Tapi meski begitu, Nathan tetap tertawa. Tapi tidak seperti di rumah sakit, dia hanya tertawa lepas, membuat pipi Tiara bersemu merah karena malu. "Aku pulang aja, ah!" Tiara hendak berdiri, tapi Nathan menahannya. "Jangan dong, makan dulu." "Makanya diem, balem, anteng, kagak usah godain mulu, dasar mantan." Nathan terkekeh. Dia duduk tenang, melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus pada perempuan di depannya. Walau penampilannya sederhana, Tiara punya aura yang tak biasa. Bagi Nathan sendiri Tiara itu seperti magnet, di mana dia berada Nathan selalu bisa mengenalinya, seperti di rumah sakit tadi. "Meski udah jadi mantan, gini-gini juga pernah ngasih kehangatan kan, Ra." Cengiran Nathan muncul lagi, membuat Tiara mendesah lelah. "Terserah kamu aja." Karena Tiara tahu Nathan ada benarnya. Pesanan datang tak lama kemudian. Tapi Tiara justru diam begitu menu terhidang di depannya. Pelayan udah pergi, dan Nathan tengah bersiap untuk menyantap makanannya. Tapi dahi Tiara mengerut dalam, perasaannya tidak nyaman. Aroma bumbu tomat dari spaghetti yang menguar kuat justru membuat hulu hati Tiara terasa perih. Ada rasa mual yang mendadak menyodok kerongkongannya, jauh lebih kuat dari yang dia rasakan sesaat tadi. Dia mencengkeram garpu dengan erat, mencoba menenangkan gejolak di perutnya agar tidak memuntahkan cairan lagi di depan Nathan. "Kenapa gak dimakan, Ra? Keburu dingin," tegur Nathan yang menyadari Tiara hanya menatap piringnya. Tiara menatapnya sesaat. "Iya, ini mau makan." Dengan perlahan, Tiara menggulung sedikit mi dengan garpunya lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa asam manis saus itu menyentuh lidahnya. Tiara mengunyah lambat, mengabaikan rasa tidak nyaman yang semakin meremas lambungnya. Dia harus makan agar Nathan tidak curiga dan memeriksanya untuk periksa. Dia tidak mau suaminya mendapati rumah dalam keadaan kosong di jam makan siang, meski Andika sendiri mungkin sedang sibuk bersama perempuan tadi itu. Pikiran tentang Andika kembali menyelinap, membuat suapan kedua Tiara terasa semakin hambar. Di seberang meja, Nathan mengunyah makanannya sambil terus memperhatikan Tiara. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, instingnya bergerak saat melihat cara Tiara menelan makanan yang tampak begitu kepayahan, seolah-olah sedang menelan batu. Wajah perempuan itu juga perlahan kehilangan rona alaminya. "Sausnya kemanisan ya, Ra?" tanya Nathan menyelidiki. "Enggak kok, pas," sahut Tiara pelan. Dia segera meraih gelas jus jeruknya, berniat membasuh rasa kesat di tenggorokannya. Namun, baru satu teguk cairan asam itu mengalir ke kerongkongannya, lambung Tiara seperti terbakar. Rasa nyeri yang tajam menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Tubuh Tiara refleks menegang. Dia meletakkan gelas dengan gemetar, satu tangannya bergerak meremas perut bagian atasnya di bawah meja. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. "Ra? Kamu beneran gak apa-apa?" Nathan menyimpan garpunya. Raut wajahnya berubah total, tak ada lagi sisa cengiran jenaka yang tadi dia tunjukkan. Sorot matanya menajam, mengunci pergerakan Tiara. "Gak apa-apa, Than. Cuma mag biasa karena telat makan," jawab Tiara dengan suara yang agak bergetar. Dia mencoba tegak, menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. "Aku mau ke toilet sebentar." Tanpa menunggu balasan Nathan, Tiara segera berdiri. Langkahnya agak terburu menuju toilet restoran, meninggalkan Nathan yang menatap punggungnya dengan dahi berkerut dalam. Di dalam toilet yang sepi, Tiara langsung mengunci pintu bilik. Dia membungkuk di depan kloset, membiarkan tubuhnya memuntahkan kembali sedikit makanan yang baru saja masuk. Perutnya terasa diaduk-aduk dengan hebat, menyisakan rasa perih yang begitu menyiksa di hulu hati. Tiara mencengkeram dadanya yang terasa sesak, air matanya menetes menahan rasa sakit yang tidak biasa ini. Setelah beberapa menit, dia melangkah ke wastafel untuk membasuh wajahnya yang kini tampak pucat pasi di cermin. Tiara menatap pantulan dirinya sendiri dengan napas memburu. "Kenapa magku gak biasa? Padahal, kemarin baik aja," batinnya cemas. Dia merapikan rambutnya dan mencoba tersenyum, memastikan dirinya terlihat baik-baik saja sebelum keluar untuk menghadapi Nathan yang pasti sudah menunggunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN