Jam menunjukkan pukul dua belas siang saat Tiara memasuki restoran di kawasan Bandung. Pada jam makan siang itu tempat tersebut cukup ramai.
“Ra! Siniiiiii!” Sebuah panggilan memanggilnya dengan nyaring tanpa peduli dengan sekitar.
Orang-orang yang semula asik makan, menyantap makan siang sambil berbincang santai, sontak melirik sosok itu dengan beragam ekspresi terkejut, heran, bingung, dan lainnya. Tak hanya itu, sebagian juga militik Tiara yang wajahnya terasa panas.
“Kamu berisik tau,” tegur Tiara begitu dia sampai di meja itu, tempat seseorang yang heboh memanggilnya sambil melambaikan tangan.
“Ya biar aja. Toh, bahagianya aku bukan bahagianya mereka,” sahut wanita itu yang merupakan teman baiknya Tiara.
Netty Fatma, sobat karib Tiara yang baru kembali dari luar negeri setelah mengambil pendidikan lanjutan. Wanita itu memang ambisius dalam mengejar ilmu, berdedikasi tinggi dan selalu memegang teguh prinsipnya.
Keduanya saling berpelukan erat, melepas rindu yang tersimpan cukup lama.
“Duh, Ra, kamu kok kurus?” Netty menatap Tiara dengan dahi berkerut tajam.
Tiara yang duduk di depannya mengangkat tangan, menyentuh pipinya yang sedikit hangat.
“Sungguh? Belakangan ini emang kurang enak badan sih, Ty. Tapi nggak apa-apa, kok,” katanya seraya tersenyum kecil, mencoba menutupi ketidakbaikannya.
Tapi Netty tak hanya sekali dua kali mengenal Tiara, dia tahu temannya itu berbohong tapi melihat bagaimana cara Tiara menghindarinya, dia tahu ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan sekarang.
“Ya sudahlah,” gumamnya, mencoba menahan diri. “Kalo sakit jangan ditahan ya, Ra. Pergi ke dokter, periksa dan cek seluruhnya biar tau apa yang sakit,” pesannya.
Tiara mengangguk kecil.
“Dan dari yang aku perhatiin, itu bukan sakit biasa sih, Ra. Kamu kayak kecapean gitu. Lingkar matamu itu ….”
“Ty ….” Tiara memanggil dengan nada memelas. Mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak meneruskannya.
“Iya, deh, iya.” Netty mengangguk, mengalah.
Tiara tersenyum lagi. “Gitu dong, makasih Bestie,” ucapnya.
Netty mendengus.
Tanpa sahabatnya tahu, Tiara baru saja mendapatkan panggilan telepon dari suaminya, Andika, yang memintanya untuk kembali ke rumah dan masak sup untuk calon madunya. Tiara yang awalnya ingin kembali untuk sang suami untung begitu mendengar kalau kehadirannya di rumah hanya untuk dijadikan pembantu. Tidak. Tentu saja, Tiara menolak tegas. Dia memilih bertemu Netty.
“Jadi, mana oleh-oleh yang kamu bilang itu, Ty? Kamu bilang ada oleh-oleh yang wajib aku ambil sendiri. Dan di sini aku sekarang.” Tiara menatap sahabatnya itu yang justru cengar-cengir.
“Sabar dong, Ra. Gak sabar amat.”
“Penasaran dong, Netty. Apa sih yang kamu kasih kali ini setelah tiap bulan kirim paket dari seberang samudra cuma buat aku?” Tiara mengungkit pemberian Netty untuknya yang dikirim lewat ekspedisi khusus. “Itu barang jadi numpuk di rumah Ibu, loh, Ty.”
Dia tidak mencantumkan alamat atas nama rumahnya untuk paket itu, tapi alamat rumah ibunya yang sudah Netty hafal. Dua tahun sahabatnya di negeri orang, Jepang, selama itu pula rutin mengirimkan paket pada Tiara, bermacam-macam, ada yang aneh juga kirimannya, ada juga yang membuat Tiara menahan malu sampai tidak berani mengeluarkan barang itu lagi.
Tapi Netty malah tertawa mendengar aduan Tiara itu, mengulang keluhannya di telepon saat menerima paket tersebut. Tiara mengomel, tentu saja.
“Mentang-mentang kaya, jadi bisa beli apa saja, bahkan yang aneh. Kamu kayak lupa aja sih, Ty, kalo aku lebih kaya darimu,” katanya tanpa maksud menyombongkan diri.
Tawa Netty semakin lepas saja sampai membuat Tiara terpaksa membungkamnya dengan roti pesanannya. Dia tak peduli saat sahabatnya itu tersedak.
“Gitu amat sama bestie, sih, Ra.”
“Salah sendiri. Malu-maluin aja ih.” Dia mendengus. Ingin sekali segera pergi dari sana.
“Ya, sorry, Ra. Tapi beneran, aku bahagia dengernya,” ungkapnya.
Netty kemudian mengambil sebuah tas belanja yang ada logo khususnya. Menaruhnya di atas meja, mendorong pelan ke arah Tiara.
“Ini, oleh-oleh kali ini itu kayak doa. Doa buat Bestie aku yang cantik paripurna, yang baiknya sejagat raya. Doa supaya segera jadi ibu setelah penantiannya tiga tahun.” Seulas senyum lebar tercetak jelas di bibir Netty.
Tiara tertegun sesaat mendengar apa yang sahabatnya itu sampaikan.
Menjadi ibu, ya? Tiba-tiba dia ragu, mengingat dia akan punya madu. Mencoba mengabaikan itu, Tiara membuka tas itu, isinya sepasang sepatu bayi lucu, dan sebuah bola kristal yang di dalamnya ada patung ibu dan anak.
Mata Tiara berembun melihat itu. Hatinya tiba-tiba menghangat.
“Cantik.” Netranya terpaku pada patung kecil itu. Ikon seorang ibu yang duduk di kursi kayu, di bawah pohon maple yang rindang. Di pangkuannya ada bayi mungil. Tanpa sadar, setetes air mata terjun melewati pipinya. Betapa dia ingin itu, mimpi menjadi seorang ibu, harapan yang sampai saat ini ada di dalam hatinya, nyaris terkikis oleh kenyataan bahwa dia telah dikhianati suaminya sendiri.
“Kamu suka, Ra?” Netty yang memperhatikan sahabatnya itu, dari gestur, raut wajah bahkan perubahan kecil pun akhirnya bertanya. Dia tahu Tiara senang, dia tahu Tiara menderita, dan dia tahu Tiara menunggu keajaiban itu datang padanya.
“Suka. Suka sekali, Ty. Makasih ya,” ucapnya dengan senyum tulus yang terpatri lebar di wajah cantiknya yang pucat.
“Sama-sama. Seneng dengernya, Ra.” Netty turut tersenyum.
Setelah puas mengagumi buah tangan dari Netty, pesanan makan siang mereka akhirnya tiba. Aroma gurih sup iga hangat dan ayam bakar bumbu merasuk, memenuhi indra penciuman mereka. Keduanya mulai menyantap makanan sambil berbincang santai.
Netty bercerita dengan menggebu-gebu tentang pengalamannya selama di Jepang, sementara Tiara lebih banyak mendengarkan dan sesekali menanggapi dengan tawa kecil.
Di sela-sela obrolan, Tiara teringat sesuatu. Dia meletakkan sendoknya, lalu meraba tas selempang yang berada di samping kursi.
"Bentar ya, Ty. Aku minum suplemen dulu. Akhir-akhir ini rutin aku minum tiap siang, katanya bagus buat nutrisi rahim biar cepat isi," kata Tiara sambil mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari dalam tasnya.
Tiara membuka tutup botol itu dengan santai, hendak mengambil satu butir kapsul di dalamnya. Namun, gerakan tangan Tiara terhenti ketika Netty tiba-tiba merebut botol kaca itu dengan gerakan yang sangat cepat.
Tiara mendongak, berniat memprotes, tapi suaranya tertahan di tenggorokan begitu melihat ekspresi wajah Netty. Sahabatnya yang semula ceria itu kini mematung. Netra Netty membelalak sempurna, menatap butiran kapsul di dalam botol tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Wajah Netty memucat, napasnya mendadak memburu, dan tangannya yang memegang botol itu mulai gemetar hebat.
"Ra ... kamu … kamu dapat dari mana obat ini?" tanya Netty, suaranya berubah rendah, dingin, dan bergetar menahan sesuatu yang sangat besar.
"Itu? Itu suplemen vitamin yang dikasih buat aku, Ty. Katanya bagus buat kesuburan," jawab Tiara polos, heran melihat perubahan drastis pada sahabatnya yang seorang dokter kandungan itu. “Kenapa? Itu resep yang dikasih dokter kandungan tempat aku periksa dan konsultasi selama ini, Ty.”
Netty menggeleng kuat, rahangnya mengeras, dan kilatan amarah yang begitu pekat mendadak menguar dari tatapannya. Dia tahu persis jenis obat apa ini. Ini bukan suplemen penambah kesuburan, melainkan obat penahan kehamilan dosis kuat yang sengaja disamarkan.
"Berhenti minum ini sekarang juga, Tiara!" desis Netty dengan napas memburu, membuat Tiara tersentak di kursinya.