Rita Pradana menatap punggung menantunya itu dengan penuh kemarahan dan kebencian. Dia tidak habis pikir dengan perubahan sikap Tiara yang biasanya patuh dan santun walaupun caci maki lolos dari mulutnya. Tapi kini wanita itu berubah.
“Kurang ajar. Dia bisa melawan juga hah?” Dia mendelik pada Andika kemudian. “Lihat tuh, wanita yang kau pilih itu menjadi tak tahu di untung. Andai aku tak merestui pernikahan kalian itu, sekarang aku tak akan mencak-mencak begini.”
Andika terdiam, dia tak mempedulikan ibunya. Hanya menatap kepergian Tiara dengan kosong. Perasaannya tak nyaman dan terganggu dengan perubahan sikap istrinya itu.
“Sudahlah, Bu. Tiara dulu tidak seperti ini.” Andika membela tapi percuma saja.
“Seperti apa? Dari dulu juga Ibu lihat dia kurang ajar. Belum lagi keluarganya miskin. Berapa uang yang kau berikan padanya untuk rumah ini hah? Kau bahkan tak memberi Ibu uang sebanyak kau memberikannya pada wanita miskin itu. Udah miskin mandul pula.”
“Tapi Bu, uang rumah itu aku tidak —”
“Halah. Kau mau membela dia? Basi, Dika! Ibu capek tau. Capek ngingetin kamu buat gak nurutin semua kemauan dia yang gak ada gunanya. Sekarang lihat, rumah berantakan, dia malah pergi keluar pagi-pagi.” Rita marah-marah, napasnya memburu, kepalanya terasa pening.
Sementara Andika hanya berdiri di samping ibunya sambil menghela napas karena tak diberi kesempatan untuk bicara lebih.
“Eh!” Rita tiba-tiba berseru. Matanya memancarkan kilatan aneh, seperti binar yang menemukan sesuatu. Dia menatap putranya itu. “Apa jangan-jangan dia bertemu laki-laki?”
Dahi Andika mengerut mendengar ibunya itu.
“Apa maksudmu, Bu?”
“Coba pikirkan. Dia pergi pagi, pulang sore. Tidak mau membereskan rumah, bahkan tidak lagi patuh pada suaminya. Apa lagi kalau dia tidak bertemu laki-laki di luar sana?” Pikiran itu melintas begitu saja dari Rita. Seulas senyum licik muncul di bibirnya yang dipoles lipstik merah merona.
Namun, atas apa yang ibunya katakan itu, Andika teringat hari di mana dia mengantar Adelina ke rumah sakit. Sekilas dia seperti melihat siluet Tiara bersama seorang pria.
Di dalam rumah, Adelina menuruni anak tangga dengan pelan, pandangannya mengedar seolah tengah mencari sesuatu atau mungkin kesempatan. Dia celingukan, melangkah pelan dengan raut wajah yang biasa saja, tidak ada riak mual trimester pertama, tidak ada raut manja yang melas kesakitan, tidak ada drama apapun. Dia layaknya wanita sehat.
“Ke mana mereka?” Dia bergumam. “Uh, astaga. Sial!” Umpatannya tertahan begitu melihat wastafel yang penuh dengan barang kotor, aromanya tak sedap karena semalaman tak dicuci. “Kemana sih orang itu? Babu kok nggak cuci piring? Uh. Soal! Bikin mual aja.”
Langkahnya membawanya ke ruang tengah dan mendapati Andika bersama ibunya yang masih menatap kepergian Tiara.
Dia menarik napas, bersiap untuk melakukan aktingnya lagi, berlagak seolah dia memang lemah karena bawaan janin.
“Masss,” panggilannya dengan suara manja.
Andika menoleh dengan cepat, pun Rita.
“Astaga, Adel. Kok turun?” Rita panik, tergopoh menghampiri wanita itu. Sosok yang selalu dia inginkan menjadi menantunya.
“Lapar, Bu. Tapi rasanya pusing banget pas turun. Maunya nggak sedap, bikin perut mulas,” katanya sambil drama hendak muntah.
“Dika, kamu ngapain? Bawa Adel duduk, dong,” tegur Rita.
Andika menurut, menuntun Adelina untuk duduk di sofa ruang tamu yang masih terbilang bersih dan harum, belum terkotori oleh makanan dan drama.
“Kamu mau makan sesuatu Sayang?” Rita menawari begitu Adelina duduk mempet Andika, bermanja ria.
“Iya, Bu. Tapi nggak tega mau ngomong. Takut Mbak Tiara marah,” katanya sambil menunduk, membuat raut muka yang bersalah.
Andai Tiara melihatnya, dia pasti sudah larik ke wastafel atau kamar mandi untuk muntah.
“Kok bilang gitu, sayang? Ngomong aja, gak apa-apa. Biar tuh si mandul masak, belajar jadi ibu rumah tangga yang patuh sama suami dan madunya.”
“Bu!” Andika menegur, tidak suka dengan apa yang ibunya katakan barusan.
“Apa sih, Dika? Ibu benar. Tiara itu mandul. Dia udah gak lagi manut sama kamu loh, Dika. Kamu gak mau kan dia jadi duharka ke suami. Makanya paksa dia buat tetep di rumah, beresin rumah, biar gak bau. Janin di perut Adel pun aman.”
Adelina yang bersandar di d**a Andika menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi dari pandangan pria itu. Dia sengaja meremas pelan kemeja Andika, menambah bumbu dramanya pagi ini.
"Mas, Ibu benar. Aku juga gak mau Mbak Tiara marah terus sama aku. Tapi, bayinya pengen makan sup ayam yang hangat. Dari kemarin perutku rasanya dikocok terus," cicit Adelina dengan nada yang teramat melas, mendongak menatap Andika dengan sepasang mata yang dibuat berkaca-kaca. "Kalau Mbak Tiara gak mau masak, biar aku aja yang masak sendiri, Mas. Gak apa-apa kok kalau aku harus pingsan di dapur ...."
"Jangan! Enak saja!" sergah Rita cepat, matanya melotot tidak terima. "Kamu itu lagi hamil, Adel. Kandunganmu lemah. Biar si mandul itu yang kerjakan semua! Tugas dia di rumah ini memangnya apa lagi kalau bukan mengurus kita?"
Rita lalu berkacak pinggang di depan putranya.
"Dika! Telepon istri kamu sekarang juga! Suruh dia pulang! Enak saja kelayapan seharian sementara calon cucu Ibu kelaparan di rumah. Bilang sama dia, kalau dia masih punya harga diri sebagai istri, cepat pulang dan buatkan Adelina sup ayam!"
Andika menghela napas berat. Di satu sisi, ucapan ibunya terdengar keterlaluan, tapi di sisi lain, ego lelakinya juga terusik karena Tiara berani mengabaikan perintahnya tadi. Apalagi ingatan tentang siluet Tiara bersama pria lain di rumah sakit kembali berputar di kepalanya, memicu rasa curiga dan jengkel yang membakar d**a.
"Iya, Bu. Nanti Dika telepon," sahut Andika ketus. Dia lalu menunduk, mengusap kepala Adelina dengan lembut. "Kamu tenang ya, Sayang. Jangan banyak pikiran. Nanti biar Tiara yang buatkan supnya."
Adelina mengangguk manja, menyembunyikan binar kemenangan di matanya. Dia sengaja mengeratkan pelukannya pada lengan Andika, sementara Rita tersenyum puas melihat betapa putranya begitu tunduk dan peduli pada wanita pilihan ibunya ini.
Di mata mereka, Tiara tak lebih dari sekadar pelayan yang wajib tunduk, tanpa tahu apa yang tengah Tiara rencanakan di luar sana. Mereka tidak sadar bahwa semua yang ada saat ini adalah hasil dari pengorbanan dari Tiara.
“Ya sudah, kamu telepon dia, Adel istirahat di atas. Bilang ke dia, jangan lama-lama di luar sana. Nyusahin saja jadi istri,” kata Rita jengkel.
“Iya, Bu. Aku telepon sekarang.” Andika lebih memilih untuk mengalah pada ibunya. “Sayang, aku telepon dulu ya, supaya Tiara pulang dan masak sup untukmu dan bayi kita,” katanya lembut pada Adelina.
“Iya, Mas.” Adelina melepaskan dirinya dari Andika dengan tidak rela.
Begitu Andika pergi untuk mengambil ponsel, senyum tipis hadir di wajah keduanya, tatapan mereka saling beradu dengan alis yang terangkat seolah merayakan keberhasilan rencana mereka untuk membuat sandiwara dalam mendepak Tiara.