8. RIYT

1070 Kata
Tiara baru saja keluar dari kamarnya, sunyi menyambut. Tidak ada bisik manja, suara orang yang mau muntah, tidak ada ucapan romantis yang membuat isi perut Tiara bergolak. Pagi ini hening walau jam menunjukkan pukul tujuh pagi. “Hm. Terserah.” Tiara mendengus tak peduli, memilih untuk pergi ke dapur dan membuat sarapan yang terlambat dari biasanya. Tapi, langkahnya terhenti. Dia menghela napas panjang saat obsidiannya menyapu ruangan yang berantakan dengan aroma tak sedap yang cukup mengganggu indra penciumannya. Gelas kopi yang setengah kosong dengan sisa noda mengering di pinggirnya dibiarkan begitu saja di atas meja kayu. Di sampingnya, beberapa bungkus camilan yang isinya sudah melempem dibiarkan terbuka, mengundang barisan semut hitam berkumpul di sana. Tiara memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Rasa mual yang sempat hilang kini merayap naik lagi ke kerongkongan, dipicu oleh aroma asam dari sisa makanan semalam yang mulai membusuk di sudut wastafel. "Benar-benar gak tahu diri," gumam Tiara pelan. Dia melangkah mendekati wastafel, mengabaikan piring-piring kotor yang menumpuk tinggi. Tiara hanya mengambil satu gelas bersih, mengisinya dengan air putih hangat, lalu meminumnya perlahan untuk meredakan rasa perih di lambungnya. Dia tidak berniat menyentuh satu pun sampah atau piring kotor milik mereka. Biar saja rumah ini berubah jadi tempat pembuangan sampah kalau memang tidak ada yang tahu cara membersihkannya. Saat Tiara baru saja meletakkan gelasnya, suara langkah kaki yang diseret terdengar dari arah tangga. "Tiara!" Suara serak Andika memecah keheningan pagi. Pria itu berjalan turun dengan kaos oblong yang kusut dan rambut berantakan. Wajahnya tampak sangat lelah, kantung matanya menghitam karena begadang semalaman menemani Adelina yang terus mengeluh sakit perut. Tiara tidak menyahut. Dia hanya membalikkan tubuh, bersandar pada konter dapur sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Tatapannya dingin, memperhatikan penampilan suaminya yang tidak lagi rapi seperti biasanya. "Kamu sengaja ya gak bangun pagi?" tanya Andika langsung menuduh saat kakinya menapak di lantai dapur. Matanya melirik ke arah kompor yang masih dingin. "Adelia dari subuh mual-mual, Ra. Dia butuh bubur hangat. Dan ini, kenapa dapur masih berantakan begini? Kamu gak beresin dari semalam?" Tiara hampir saja terkekeh mendengar pertanyaan konyol itu. "Gak beresin?" Tiara mengulangi kalimat Andika dengan nada datar. "Yang bikin sampah ini berserakan siapa, Andika?" Sesaat, Andika terdiam mendengar panggilan Tiara yang berubah. Tidak ada lagi sapaan sayang atau mas, atau sesuatu yang penuh hormat pada suami versi Tiara. Tidak ada lagi kelembutan dari sorot mata wanita yang selalu ada tiga tahun terakhir. Tapi, kenyataannya ada sosok yang kini membutuhkan hadirnya. "Ya, tapi kan kamu yang biasanya urus rumah, Ra! Kamu gak lihat Adelina lagi lemas begitu di atas? Ibu juga masih tidur karena kecapekan bantu jaga semalam. Masa hal sepele begini harus aku yang kerjakan?" Andika mulai menaikkan nada bicaranya, tampak frustrasi karena tidak mendapatkan kepatuhan Tiara seperti biasanya. "Itu urusan kalian," sahut Tiara santai. "Rumah ini berantakan karena ulah kalian sendiri. Jadi, silakan bereskan sendiri. Aku bukan pembantu di sini." "Tiara! Jaga bicaramu!" bentak Andika. Langkahnya maju satu jengkal, menatap Tiara dengan mata melotot kesal. "Dia itu lagi hamil anakku! Bisa gak kamu punya sedikit rasa empati? Jangan egois jadi perempuan!" Mendengar kata 'anakku' dan 'egois' keluar dari mulut Andika, pertahanan Tiara yang dingin hampir saja retak oleh rasa muak yang luar biasa. Dia menatap suaminya lurus, membuat Andika yang tadinya berapi-api mendadak bungkam melihat tatapan kosong dari netra cokelat milik istrinya. "Empati?" Tiara tersenyum sinis, senyuman yang belum pernah Andika lihat selama tiga tahun pernikahan mereka. "Kamu minta aku empati pada perempuan yang mengandung anak hasil perselingkuhan suamiku? Di rumahku sendiri?" "Ra, jangan mulai lagi,” Andika membuang muka, egonya terusik karena tertampar kenyataan yang diucapkannya sendiri. "Aku tidak mulai, Andika. Aku hanya memperjelas posisi kita sekarang," potong Tiara cepat sebelum suaminya sempat membela diri. "Aku mau keluar. Urus saja istrimu yang satu lagi itu." "Kamu mau ke mana lagi? Kemarin sudah pergi seharian sampai gak bisa dihubungi, sekarang mau pergi lagi? Tugasmu di rumah ini belum selesai, Tiara!" Andika kembali menuntut, tangannya menunjuk ke arah tumpukan piring kotor di wastafel. Tiara tidak memedulikan teriakan suaminya. Dia melangkah melewati Andika begitu saja, berjalan kembali ke arah kamar tamu untuk mengambil tas dan ponselnya. Baginya, setiap detik yang dia habiskan di ruangan yang sama dengan Andika hanya akan membuat penyakit di perutnya semakin parah. Saat Tiara sedang meraih tasnya di atas kasur, suara langkah kaki terburu-buru kembali terdengar mendekat ke arah kamar tamu. Pintu kamar yang setengah terbuka itu didorong kasar dari luar. "Tiara! Kamu benar-benar keterlaluan ya!" Suara melengking ibu mertuanya kembali memenuhi indra pendengaran Tiara. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan daster sutranya, menatap Tiara dengan pandangan penuh kebencian. Di belakangnya, Andika mengekor dengan wajah yang masih diliputi kekesalan. "Ibu dengar kamu menolak masak buat Adelina? Kamu mau membunuh cucu Ibu, hah?!" tuduh mertuanya tanpa bukti. "Dasar wanita mandul gak tahu diuntung! Sudah untung kamu gak langsung diusir dari sini setelah Andika bawa Adelina pulang! Harusnya kamu sadar diri, layani madumu dengan baik!" Tiara menutup risleting tasnya dengan tenang, lalu menyampirkannya di bahu. Dia membalikkan badan menghadapi dua orang di depannya. Rasa perih di ulu hatinya kembali datang menghantam, membuat perutnya terasa melilit hebat. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya, tapi Tiara tetap menegakkan punggungnya. Dia menolak terlihat menderita dan lemah di depan mereka. "Kalau Ibu begitu mengkhawatirkan cucu Ibu, kenapa tidak Ibu saja yang masak?" tanya Tiara dingin, nadanya tenang tanpa emosi yang meledak-ledak. "Atau suruh Andika beli di luar. Uang Andika banyak, bukan? Kenapa harus repot-repot menyuruh wanita mandul ini?" "Kamu—!" Ibu mertuanya menunjuk wajah Tiara dengan jari gemetar, kehabisan kata-kata karena menantunya yang biasanya penurut kini berani melawan secara terang-terangan. "Andika! Lihat istrimu ini! Dia sudah berani menginjak-injak harga diri Ibu!" Andika yang merasa terdesak langsung menatap Tiara tajam. "Tiara, minta maaf sama Ibu sekarang! Dan jangan pergi dari rumah ini sebelum semua pekerjaan dapur selesai!" Tiara hanya menatap Andika dengan pandangan meremehkan. Pria plin-plan itu benar-benar sudah kehilangan wibawanya sebagai seorang suami di mata Tiara. "Aku tidak akan meminta maaf, dan aku tetap akan pergi," jawab Tiara mutlak. “Urusan kalian itu bukan urusan aku. Jadi jangan buat aku capek dengan apa yang gak aku perbuat. Jadi silakan beresin sendiri. Sampai aku pulang nanti, aku harap rumah udah beres.” Setelah mengatakan hal itu, dia melangkah maju, membuat ibu mertua dan suaminya terpaksa bergeser mundur karena aura dingin yang dipancarkan Tiara. Dengan langkah tenang tapi pasti, Tiara berjalan melewati mereka menuju pintu depan, meninggalkan rumah yang kini terasa seperti neraka dunia baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN