BAB 1
Ayaka Nakamura membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, seolah enggan berpisah dari sisa mimpi yang masih menempel. Ia menutup wajah dengan tangan, mengerang pelan, lalu menarik napas panjang. Cahaya matahari menembus tirai tipis jendela kamar, membuat matanya silau.
Ia menguap lebar, merenggangkan tubuh, lalu berguling malas dari tempat tidur. Langkahnya diseret menuju meja di depan jendela. Lampu meja masih menyala, ia mematikannya, kemudian menatap keluar.
Langit London cerah. Jarang sekali. Musim semi akhirnya datang. Ayaka membuka jendela, membiarkan udara segar masuk, menarik napas dalam-dalam. Udara dingin menusuk kulit, membuatnya buru-buru menutup kembali jendela sambil menggosok kedua tangan.
Matanya lalu jatuh pada jam kecil di meja. Ia terkesiap. “Oh, dear,” gumamnya.
Tanpa pikir panjang, ia berlari ke pintu kamar. Pintu terbuka keras, membuat Alexa dan John yang sedang duduk di dapur menoleh kaget.
“Apa yang terjadi?” tanya Alexa, gadis jangkung berambut merah panjang, berkacamata, masih dengan piama bergaris dan wajah mengantuk.
“Aku terlambat!” Ayaka panik, berlari ke kamar mandi. “Aku ada jadwal syuting video musik hari ini!”
Alexa mengangkat alis, lalu mendesah. “Kau berlebihan. Kau tidak pernah benar-benar terlambat. Paling hanya bangun sepuluh menit lebih siang. Kau pulang larut malam, kau berhak istirahat.” Ia menyesap kopi, wajahnya muram. “Kasihan kita, harus tetap bekerja di Sabtu seindah ini.”
Suara Ayaka terdengar dari kamar mandi, tertahan busa pasta gigi.
John, pria tinggi berambut hitam, menoleh sambil tersenyum. “Hei, Sayang, kau mau wafel dengan selai apel buatanku? Kau tahu rasanya bisa bikin kau lupa dunia.”
Ayaka hanya bersuara tak jelas dari dalam. John menoleh ke Alexa. “Apa katanya?”
Alexa mengangkat bahu. “Mungkin dia menolak melayang di angkasa.”
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka keras. Ayaka melesat ke kamar, membuka lemari dengan tergesa, gantungan baju berjatuhan ke lantai.
“Jangan panik begitu, Sayang,” seru John. “Kau bisa melukai dirimu sendiri.”
Suara gedebuk terdengar. “Aku tidak jatuh! Aku baik-baik saja!” teriak Ayaka.
Alexa dan John saling berpandangan, lalu mengangkat bahu.
Beberapa menit kemudian Ayaka keluar, sudah berpakaian lengkap dengan sepatu bot dan topi.
“Ngomong-ngomong, kau syuting untuk siapa?” tanya Alexa.
“Penyanyi Korea. Aku tidak kenal. Yang menarik konsepnya, seperti film pendek,” jawab Ayaka cepat.
Alexa menatapnya dengan mata berbinar. “Romantis?”
Ayaka mendesah. “Tentang pria yang diam-diam jatuh cinta, selalu membantu dari jauh tanpa menunjukkan diri.”
Alexa tersenyum senang. “Itu romantis sekali.” John mengangguk.
“Menurutku agak menakutkan,” balas Ayaka. “Mengawasi dari jauh, membantu tanpa wajah. Bukankah itu seperti orang sakit jiwa?”
John menggeleng. “Kuharap sutradara tidak menyesal memilihmu. Kau cocok jadi bintang film horor.”
Ayaka tersenyum, mendorong bahu John. “Aku pergi dulu.”
John mengangkat piring wafel. “Kau yakin tidak mau sarapan? Kau sudah kurus. Jangan jadi tulang berjalan.”
Alexa memutar bola mata. “Lihat siapa yang bicara. Koki paling kurus sedunia.”
John tertawa. “Tubuhku memang tidak bisa gemuk. Kalian kurus karena tidak makan.”
Ayaka merogoh tas besar, memastikan dompet, kunci, ponsel sudah ada. “Model memang seharusnya kurus,” gumamnya pelan.
“Apa?” tanya John.
“Tidak apa-apa.” Ayaka tersenyum, menutupinya. Ia tak punya waktu untuk ceramah John.
“Aku ingin sekali makan wafelmu, tapi ini darurat. Aku benar-benar tidak sempat.” Ia melirik jam tangan, terkesiap. “Oh, dear. Aku harus berlari ke stasiun. Dah!”
Tanpa menunggu balasan, Ayaka berlari menuruni tangga flat lantai dua, keluar ke jalan. Ia melirik jam sekali lagi. Ya, ia harus berlari. Tidak ada waktu menikmati langit biru atau udara musim semi. Semua itu harus menunggu.
***
Sudah hampir tiga tahun sejak Ayaka tiba di London. Sejak itu ia tinggal bersama Alexa dan John di Hampstead, pinggiran kota yang tenang namun ramai. Flat mereka berdiri tepat di atas Robin’s Nest, pub Irlandia tua yang selalu dipenuhi suara tawa dan musik. Kadang suara dari bawah terdengar sampai ke kamar, tapi Ayaka tidak pernah keberatan. Ia justru merasa lebih nyaman dengan keramaian dibanding kesunyian.
Flat itu sederhana, tiga kamar tidur, satu kamar mandi, dapur sempit, dan ruang duduk kecil. Alexa menempati kamar utama karena ia yang lebih dulu tinggal di sana, lalu mengajak John bergabung. Musim panas dua tahun lalu, Ayaka ikut pindah. Ia tidak pernah suka tinggal sendiri. Sejak kecil, ia selalu bersama saudara kembarnya, Aiko. Kadang ia masih khawatir meninggalkan Aiko di Tokyo, tapi email terakhir dari Aiko yang bercerita tentang tetangga baru membuatnya sedikit lega.
Empat puluh lima menit kemudian, Ayaka sudah tiba di Hyde Park. Sebuah tenda sederhana berdiri di dekat Serpentine Lake, menjadi pusat aktivitas kru produksi. Ia duduk di kursi lipat, memperhatikan sekeliling. Area taman itu berubah menjadi lokasi kerja yang sibuk. Orang-orang Korea lalu-lalang, mengangkut peralatan, memasang kabel, menyiapkan kamera. Suara mereka bersahutan, cepat, penuh energi, dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Ayaka hanya duduk diam, menunggu instruksi. Ia sadar, selain Bobby Shin sang sutradara dan seorang penata rias, tidak ada staf lain yang bisa berbahasa Inggris. Tapi ia sudah terbiasa bekerja di luar negeri, menghadapi bahasa asing, jadi ia berusaha menyesuaikan diri.
“Ini tehmu.”
Ayaka menoleh. Penata riasnya, Yoon, menyodorkan secangkir teh hangat. Senyum Ayaka mengembang. Baru saat itu ia sadar perutnya kosong. Ia menyesap teh, merasakan hangatnya mengalir ke tubuh.
“Kau lapar?” tanya Yoon dengan logat Korea yang kental. Ia mengangkat sekotak donat.
Ayaka menatap donat itu, perutnya bergemuruh. “Terima kasih. Kau benar-benar penyelamatku,” katanya sambil mengambil sepotong donat cokelat. Ia tahu seorang model harus menjaga tubuh, tapi ia juga tahu tidak ada gunanya menahan lapar.
Kotak donat diletakkan di meja. Ayaka sempat melirik, bertanya-tanya apakah ia boleh mengambil lagi nanti.
“Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu lawan mainmu?” tanya Yoon sambil mulai menggulung rambut Ayaka dengan rol besar.
Ayaka menatap cermin. “Belum. Aku bahkan belum tahu namanya.”
Mata Yoon berbinar. “Park Hyun-Sik. Lebih dikenal sebagai William Park.”
Ayaka berhenti mengunyah.
“Dia sangat terkenal di Korea,” lanjut Yoon. “Sering membintangi iklan dan video musik. Kau tidak perlu khawatir. Dia baik, dan… tampan sekali. Kau bisa jatuh pingsan melihatnya.”
Ayaka menunduk, menatap teh di tangannya. Kehangatan yang tadi ia rasakan mendadak hilang.
“Lihat, itu dia!” bisik Yoon sambil menepuk pundaknya.
Ayaka menoleh. Di luar tenda, seorang pria berjaket abu-abu dan bertopi putih berdiri, menyapa kru dengan senyum lebar. Ia melepas topi, berjabat tangan, membungkuk sopan.
“Ups, hati-hati. Tehmu hampir tumpah,” ujar Yoon cepat.
Ayaka tersentak, menyadari cangkir di tangannya hampir terlepas. “Oh, dear. Maaf,” gumamnya.
“Nah, kubilang juga apa,” kata Yoon sambil tersenyum puas. “Kau memang terlihat hampir jatuh pingsan.”
Ayaka memalingkan wajah ke cermin, tapi bayangan William tetap terlihat di sana. Yoon mengangkat sisir, berseru, “Hei, William!”
Ayaka membeku. ‘Oh, tidak…’
William menoleh. Mata mereka bertemu lewat pantulan cermin. Hanya sedetik, tapi cukup membuat Ayaka buru-buru mengalihkan pandangan.
“Dia ke sini,” kata Yoon bersemangat. “Akan kuperkenalkan kau padanya.”
Ayaka mencengkeram lengan kursi erat-erat. Nafasnya tertahan.
‘Ya Tuhan…’