bc

Pemuas Hasrat Sang Paman

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
love-triangle
family
forced
opposites attract
badboy
boss
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
city
secrets
affair
friends with benefits
wild
like
intro-logo
Uraian

Faraya Angelia, gadis 23 tahun asal desa, melangkah ke kota dengan lugu tanpa kecurigaan sedikit pun. Ia memenuhi undangan sang tante, Sonya Andreas, untuk tinggal di kediamannya yang mewah. Faraya tidak pernah tahu alasan pasti di balik permintaan itu—sampai sebuah kenyataan getir menghantamnya tanpa ampun.

.

"Faraya, tujuan saya meminta kamu tinggal di sini... jadilah b***k seks suamiku," ucap Sonya tanpa ragu.

.

Dunia Faraya seakan runtuh seketika. Ia menggeleng tegas, menolak mentah-mentah permintaan tak berakal tersebut. Baginya, Devan Andreas adalah sosok yang sangat ia hormati dan sudah dianggap seperti saudaranya sendiri, meskipun Sonya hanyalah kerabat jauh dari ibunya. Namun, Devan tak tinggal diam. Ia menyodorkan tawaran yang begitu menjerat.

.

"Kalau kau mau menjadi b***k seksku, aku akan memberikan 15 bidang sawah untuk orang tuamu dan hidupmu di sini terjamin. Sonya sudah tidak bisa melayaniku lagi karena kanker yang dideritanya, dan aku sangat membutuhkan anak sebagai penerus takhtaku."

.

Tersudut di antara janji kesejahteraan untuk keluarga di desa, penderitaan sang tante, dan batas kehormatan yang dipertaruhkan, Faraya terjebak dalam dilema yang menyiksa. Haruskah ia mengorbankan masa depannya demi mengikat janji yang kelam, atau melarikan diri dari pusaran takdir yang siap menelannya bulat-bulat? Sebuah kisah penuh kepasrahan, pengorbanan, dan rahasia kelam di balik kemegahan keluarga Andreas.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 01
Hawa dingin pegunungan menyapu lembut pipi Faraya Angelia. Gadis berusia 23 tahun itu duduk termenung di teras rumah sederhana berbahan kayu milik orang tuanya. Dengan kedua tangan menopang dagu, pandangannya menatap kosong ke arah pelataran tanah yang basah oleh embun pagi. Helaan napas berat berulang kali terdengar mengudara dari bibirnya yang tipis. Sudah beberapa bulan terakhir ini, kesulitan keuangan menghantam keluarga kecil mereka tanpa ampun. Hasil panen sawah yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup hancur dihantjam hama, sementara utang untuk membeli pupuk dan kebutuhan sehari-hari kian menumpuk. Faraya merasa sangat tidak berguna. Sebagai seorang anak sulung yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah, ia belum mampu berbuat banyak untuk meringankan beban orang tuanya. Pikiran tentang dari mana mereka harus mencari uang besok pagi terus berkecamuk di kepalanya. "Faraya! Faraya, Nak!" Suara panggilan yang penuh kegembiraan mendadak memecahkan lamunan Faraya. Dari arah samping rumah, ibunya tergopoh-gopoh berlari mendekatinya. Napas wanita setengah baya itu tersengal-sengal, namun wajahnya yang biasanya kusam oleh gurat kelelahan kini dipenuhi senyum sumringah yang sangat cerah. Faraya dengan cepat bangkit dari duduknya, merasa khawatir melihat sang ibu yang berlari tanpa memedulikan langkahnya. "Ada apa, Ibu? Kenapa berlari-lari seperti itu? Hati-hati, nanti jatuh." "Kabar baik, Faraya! Ada kabar sangat baik untuk keluarga kita!" ujar sang ibu sembari memegang kedua bahu Faraya dengan tangan yang agak gemetaran karena gembira. Faraya mengerutkan keningnya, tidak mengerti. "Kabar baik apa, Bu?" "Baru saja Bibi Sonya menelepon Ibu," terang sang ibu dengan mata berbinar-binar. "Kamu ingat Bibi Sonya, kan? Saudara jauh kita dari garis kakekmu yang tinggal di kota besar. Dia bilang, dia membutuhkan bantuanmu di sana. Bibi Sonya meminta kamu datang ke kota untuk tinggal bersamanya karena ada pekerjaan yang bisa kamu lakukan!" Mendengar kata 'pekerjaan', binar kebahagiaan seketika terpancar dari iris mata Faraya. Rasa sesak yang mengimpit dadanya sejak tadi seolah terangkat begitu saja. "Benarkah, Bu? Bibi Sonya menawarkan pekerjaan untuk Faraya?" "Iya, Nak! Sungguh!" jawab ibunya mantap. "Bibi Sonya bilang, kehidupannya di kota sangat berkecukupan dan dia ingat pada kita di desa. Dia tahu kita sedang kesulitan, jadi dia ingin membantumu bekerja di sana." Faraya tersenyum lebar. Tanpa ragu sedikit pun, ia menganggukkan kepala setuju. Sama sekali tak ada terbesit rasa curiga atau prasangka buruk dalam benaknya. Bagi Faraya, tawaran ini adalah jawaban atas doa-doanya selama ini. Ia membayangkan kehidupan baru di kota, bekerja keras dengan jujur, dan mengirimkan uang yang banyak setiap bulan untuk memperbaiki rumah sederhana mereka serta melunasi semua utang orang tuanya. --- Beberapa hari kemudian, Faraya telah berpisah dengan kedua orang tuanya di stasiun bus desa. Perjalanan panjang menembus antarkota ia tempuh dengan d**a yang bergemuruh penuh harapan. Ketika kendaraan yang membawanya akhirnya memasuki kawasan ibu kota, mata Faraya tak henti-hentinya menatap kagum pada gedung-gedung pencakar langit dan kemewahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sesuai petunjuk yang diberikan, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggunya di terminal penjemputan. Sopir pribadi berjas rapi menyambutnya dengan sopan dan membawanya menuju kawasan perumahan elite di pinggir kota. Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi tempa yang tinggi, yang kemudian terbuka secara otomatis memperlihatkan sebuah hunian megah bak istana. Inilah kediaman keluarga Andreas. Rumah mewah berarsitektur modern dengan pilar-pilar besar, taman yang terawat asri, dan kolam renang yang jernih. Faraya melangkah keluar dari mobil dengan menggenggam erat tas pakaian sederhananya. Ia merasa sangat kecil di tengah segala kemegahan itu. Pintu utama yang tinggi besar terbuka, dan seorang wanita bergaun elegan menyambutnya. Dia adalah Sonya Andreas. Meskipun riasan wajahnya terlihat sempurna, Faraya dapat menangkap kesan pucat dan letih dari raut wajah tantenya itu. "Selamat datang di rumah kami, Faraya," panggil Sonya dengan suara lembut namun terdengar agak serak. "Terima kasih banyak, Tante Sonya," balas Faraya penuh hormat sembari mencium tangan kerabat jauhnya itu. "Terima kasih sudah mau menerima Faraya di sini." Namun, keramahan awal itu tidak bertahan lama. Setelah menyuruh Faraya membersihkan diri dan beristirahat sejenak di sebuah kamar tamu yang sangat luas, Sonya memanggil Faraya untuk berbicara secara pribadi di ruang kerja lantai dua. Di sana, suasana hangat berubah menjadi dingin dan kaku dalam sekejap. Sonya duduk di balik meja kerja kayu jati yang tebal. Di sampingnya, berdiri seorang pria bertubuh tegap, berparas tampan, dan memancarkan aura dominan yang dingin—Devan Andreas, suami Sonya. Devan memandang Faraya dari atas ke bawah dengan tatapan kalkulatif yang membuat Faraya merasa tidak nyaman. "Faraya," buka Sonya tanpa basa-basi, menatap lurus ke dalam mata keponakannya. "Tujuan saya meminta kamu datang dan tinggal di rumah ini bukan untuk pekerjaan biasa. Saya ingin kamu menjadi b***k seks suamiku." Dug! Kata-kata itu menghantam kesadaran Faraya seperti petir di siang bolong. Tubuhnya membeku seketika. Lidahnya terasa kelu, dan jantungnya berdegup kencang karena terkejut yang luar biasa. Ia menatap Sonya dan Devan bergantian, berharap apa yang baru saja didengarnya hanyalah lelucon yang buruk. "T-Tante... apa maksud Tante berbicara seperti itu?" bisik Faraya dengan suara gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak! Faraya tidak mau! Faraya datang ke sini untuk bekerja secara halal!" Bagaimana mungkin hal sepicing itu diminta darinya? Devan Andreas adalah suami dari tantenya sendiri. Meskipun Sonya hanya saudara jauh dari garis kakeknya, Faraya tetap memandang Devan sebagai sosok paman dan kerabat yang harus dihormati layaknya saudara sendiri. Membayangkan hubungan semacam itu saja sudah membuat tenggorokannya terasa mual. Melihat penolakan keras dari Faraya, Devan melangkah maju. Suara langkah sepatunya yang menginjak lantai marmer terdengar begitu mengintimidasi. Pria itu menatap Faraya dengan pandangan yang tajam dan tajam. "Dengarkan aku baik-baik, Faraya," kata Devan dengan nada suara yang berat dan penuh penekanan. "Jika kamu menuruti keinginan kami dan menjadi b***k seksku, aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan tangan kosong. Aku akan memberikan 15 bidang tanah sawah yang subur atas nama orang tuamu di desa. Lebih dari itu, seluruh biaya hidupmu dan keluargamu akan aku terjamin sepenuhnya." Faraya mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh, menahan tangis yang siap pecah. Devan melanjutkan dengan dingin, "Istriku, Sonya, menderita kanker rahim stadium lanjut. Dia sudah tidak bisa lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri maupun memberikanku keturunan. Sementara itu, aku membutuhkan seorang anak laki-laki untuk menjadi penerus seluruh bisnis dan takhta keluarga Andreas. Kamu muda, sehat, dan memiliki garis keturunan yang sama dengan keluarga ini. Ini bukan sekadar penawaran, Faraya. Ini adalah kesepakatan yang akan menyelamatkan keluargamu dari kemiskinan." Suasana ruangan menjadi sangat hening dan mencekam. Faraya berdiri terpaku di tengah ruangan mewah itu. Di satu sisi, ia teringat wajah ibunya yang gembira dan berharap besar ppadanya, serta kondisi ayahnya yang semakin tertekan oleh utang di desa. Namun di sisi lain, harga diri, norma agama, dan kehormatannya sebagai seorang wanita dipertaruhkan dalam perjanjian iblis ini. Faraya merasa dunia tempatnya berpijak telah hancur berkeping-keping, meninggal kannya sendirian dalam kepungan dilema yang sangat menyiksa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Eat Me, Daddy!

read
36.5K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
61.4K
bc

BRIANNA [Affair]

read
137.0K
bc

Lara, Ketika Cinta Tak Memilih

read
335.1K
bc

Nona-ku Canduku

read
110.4K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
168.5K
bc

Ayah Tiriku Sugar Daddyku

read
77.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook