bc

Bermain-Main Dengan Gairah

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
forbidden
stepfather
heir/heiress
drama
serious
cheating
enimies to lovers
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Irish tumbuh bersama dendam membara pada pelakor yang menghancurkan keluarganya, dan bertanggung jawab atas kematian mereka. Bertahun-tahun kemudian, wanita itu hidup bahagia sebagai istri konglomerat.

Kini giliran Irish. Dia akan merebut segalanya-suami, harta, dan kehormatan. Membalas luka masa lalu dengan permainan yang jauh lebih kejam.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
"Dia bahkan dua puluh tahun lebih muda darimu! Dia hanya mengincar uangmu! Sudah kubilang sejak awal, tapi kamu terlalu tuli untuk mendengarnya! Sekarang lihat, semuanya hancur! Bisnis bangkrut, reputasi jatuh, harga diri tercabik-cabik... dan satu-satunya yang bisa kamu lakukan sekarang hanyalah minta maaf?" "Sayang, aku mohon..." "Irish ingin jadi dokter! Impian itu harusnya mudah kita wujudkan! Tapi karena kebodohanmu, masa depan anak kita ikut lenyap! b*****t!" Suara itu menggema, tajam seperti pisau yang mengoyak daging lama yang belum sempat sembuh. Itu adalah pertengkaran terakhir yang pernah Irish dengar dari kedua orangtuanya sebelum mereka menghilang... selamanya. Irish terbangun dengan tubuh menggigil, peluh dingin membasahi tengkuknya. Nafasnya memburu, matanya liar mencari kenyataan. Mimpi buruk itu kembali lagi, menghantuinya untuk entah keberapa kalinya. Semua bermula dari satu perempuan. Seorang mahasiswi muda dengan paras polos dan senyum penuh tipu daya. Wanita itu berhasil merebut hati ayahnya, menyusup masuk ke dalam keluarganya, mengaduk semua ketenangan jadi kehancuran. Dia tidak hanya merebut harta, tapi juga kewarasan orangtuanya. Menghisap habis sampai yang tersisa hanya amarah, aib, dan hutang menumpuk. Tekanan demi tekanan menjerat. Ancaman dari rentenir, cemooh dari kerabat, dan bisik-bisik tetangga mengiris perlahan kewarasan kedua orangtuanya. Sampai akhirnya... mereka menyerah. Malam itu, setelah ribut besar, rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada piring pecah, tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang ganjil. Seperti badai yang selesai mengamuk, meninggalkan keanehan dalam sunyi. Ibunya memasak. Meja makan tertata rapi dengan hidangan favorit Irish. Sup jagung hangat, ayam kecap manis, dan teh melati yang aromanya menenangkan. Irish sempat merasa lega, mungkin semuanya akan membaik, pikirnya polos. Ayahnya menyodorkan piring sambil tersenyum getir. "Maafkan Papa dan Mama, ya, Nak." Irish mengernyit, tapi menuruti. Ia baru 13 tahun saat itu, terlalu muda untuk mencium aroma keputusasaan di balik senyum yang dipaksakan. Ia mengira orangtuanya sudah berdamai. Ia bahkan tersenyum kecil, merasa semua akan kembali seperti dulu. Namun setelah suapan ketiga, kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya mulai mengabur. Dan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, ia sempat melihat tangan ayah dan ibunya saling menggenggam. Mereka tersenyum. Tapi itu bukan senyum bahagia. Itu adalah senyum terakhir penuh luka, penuh pamit. Mereka menaruh racun dalam makanan. Pilihan terakhir dari orang tua yang sudah terlalu lelah untuk hidup. Mereka memilih mati bersama. Tapi Tuhan belum mengizinkan Irish ikut dalam rencana itu. Ia ditemukan keesokan paginya oleh tetangga yang curiga karena rumah mereka tak menyalakan lampu, tak ada suara, dan tak ada aktivitas. Tubuhnya lemah, tapi jiwanya mulai mengeras sejak hari itu. Ketika ia akhirnya tahu siapa akar dari semua tragedi itu. Wanita itu! Sang perusak! Kini hidup nyaman dalam kemewahan. Menikah dengan konglomerat muda, dipuja media sebagai sosialita sekaligus dermawan. Nama dan wajahnya terpampang di mana-mana. Senyumnya memancar seolah tak pernah ada darah yang ia tinggalkan di belakangnya. Tapi Irish tidak lupa. Dia menyimpan dendam itu. Membiarkannya tumbuh bersama waktu. Membiarkannya mengeras bersama luka. Kini Irish berusia 24 tahun, usia yang sama dengan wanita itu saat menghancurkan keluarganya. Dan dia sudah siap. "Dulu kamu menghancurkan keluargaku di umurmu yang ke-24. Sekarang, di usiaku yang ke-24, aku akan hancurkan hidupmu. Dari keluarga, kekayaan, hingga reputasimu. Aku ingin kamu tahu, apa rasanya kehilangan segalanya." ****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook