BAB 35. Rayuan Hangat. “Besok malam aku harus ke gudang itu. Tapi, bagaimana caranya?” Elara berjalan mondar-mandir di kamarnya. Lelah yang melanda membuat ia tertidur. Cahaya matahari pagi yang menyinari kamar seolah tidak mampu menghilangkan dingin yang meresap di tulang Vania/ Elara. Kertas itu masih tergenggam erat di tangannya, tulisan-tulisannya seolah mengincar jiwanya. Gudang nomor 3, malam ini sebelum matahari terbenam. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, bersaing dengan pesan yang membuat darahnya membeku. Ia berdiri, kaknyai masih terasa lemah. Elara melangkah ke jendela. Di luar sana sudah ramai, anggota Rafael mulai berkumpul di area puluhan box container. Di kejauhan, ia melihat gedung gudang yang berbaris rapi – dan di antaranya, gudang nomor 3 yang berdiri sendiri

