bc

CINTA DI BALIK DENDAM MAFIA

book_age18+
467
IKUTI
1.0K
BACA
revenge
dark
BE
family
opposites attract
brave
mafia
single mother
gangster
drama
bxg
serious
mystery
city
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang yang harus kamu hancurkan?

Itulah dilema yang dihadapi Rafael Wiratama dan Vania Larasati.

Vania, sebagai anggota intelijen, ia dilatih untuk tidak memiliki perasaan.

Ia menyamar menjadi Elara, masuk ke pelukan Rafael Wiratama, seorang pebisnis dunia bawah yang dikenal dingin dan tak punya belas kasih. Vania hanya perlu mencari bukti, lalu pergi.

Namun Rafael justru memberikan sisi dirinya yang tidak pernah dilihat dunia. Di tengah kemewahan kasino dan bahaya perdagangan gelap, Rafael menjadikannya pusat dunia pria itu.

Sayangnya, takdir ternyata sebercanda itu. Vania bukan sekadar agen yang menyamar, ia adalah putri dari musuh besar yang menghancurkan masa lalu Rafael.

Saat topeng masing-masing terbuka, tidak ada lagi ruang untuk sembunyi. Hanya ada dua ujung dari kisah mereka, menarik pelatuk senjata, atau membuang dendam demi satu kesempatan untuk bersama.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Malam Di Pelabuhan
Bab 1 – Malam di Pelabuhan “Lima menit lagi. Pastikan barangnya utuh " Nada suara yang rendah, tenang, namun memberi tekanan yang membuat siapa pun ingin segera patuh. Luca, tangan kanan Rafael, menunduk cepat. “Sudah dicek tiga kali, Bos. Cuma tim pengintai bilang ada kapal tak terdaftar dari arah utara.” Langit Jakarta seperti kain hitam yang terkoyak, menelan cahaya kota di kejauhan. Asap dari kapal kargo menebal di udara, bercampur dengan bau logam dan bahan bakar yang sangat menusuk hidung. Di dermaga nomor tujuh, belasan pria bersenjata menunggu dalam diam. Suara langkah sepatu mereka bergema di antara peti-peti besi berkarat. Rafael Wiratama berdiri di ujung dermaga. Jas hitamnya pas di tubuhnya yang tegap, pandangannya dingin dan tajam, seperti sedang membaca setiap gerak bayangan di sekitar. Angin laut menerpa rambut hitamnya hingga sedikit acak-acakan, namun ia tetap berdiri tegak, tanpa ekspresi. Rafael menatap laut yang gelap. Pupilnya menangkap cahaya merah dari lampu sinyal di kejauhan. “Kapal tak diundang biasanya bawa masalah.” Ia menyalakan rokok. Asapnya yang melingkar, hilang terbawa angin laut. “Suruh orang-orang siaga. Kalau mereka bukan rekan, pastikan mereka nggak sempat untuk buka mulut." Suara mesin kapal semakin dekat. Dari balik kabut, lampu sorot menembus gelap, menyilaukan mata. Luca memberi isyarat dengan tangan, dan anak buahnya segera membentuk barisan. “Turunkan senjata!” suara berat terdengar dari kapal itu. Rafael hanya menaikkan alis. “Menarik." Rafael melangkah pelan ke depan. Sepatu kulitnya beradu dengan kayu basah di dermaga. Ledakan suara tembakan memecah malam. Luca langsung berteriak, “Semuanya! Lindungi Bos!” Suara peluru bersahutan, kayu pecah, serpihan beterbangan. Rafael berlutut di balik drum besi, pandangannya fokus pada kilatan api dari kapal lawan. “Damn! Aku nggak suka kejutan." Ia menarik pistol perak dari balik jas, membidik, lalu menembak. Satu peluru menembus udara dan pria di kapal seberang jatuh ke laut, lenyap tanpa suara. Tiba-tiba terdengar jeritan perempuan. Rafael refleks menoleh. Dari kapal lawan, seorang wanita melompat ke laut. Tubuhnya menghantam air dengan suara keras. Ia berusaha berenang, akan tetapi arus terlalu kuat. Rafael tidak berpikir panjang. Ia menembak dua kali ke arah musuh yang menodong senjata ke wanita itu, lalu berlari dan menyusul terjun ke laut. Air asin menampar wajahnya, udara dingin pun menggigit kulit. Ia berenang dengan cepat, menarik bahu wanita itu ke permukaan. “Bertahan!” teriaknya di antara suara ombak dan peluru yang masih meletus di belakang. Wanita itu setengah pingsan, bibirnya membiru. Rafael menahan napas saat tubuh mereka menghantam sisi dermaga. Ia mendorong wanita itu ke atas, berusaha mengangkatnya dengan tenaga terakhir. Luca dan dua anak buahnya segera menarik mereka ke atas. Begitu sampai di atas, Rafael menidurkan wanita itu di lantai kayu basah. Rambut panjangnya menempel di wajah yang telah pucat. “Dia masih hidup?” suara Luca terdengar panik. Rafael menempelkan dua jari ke leher wanita itu. Ada denyut, lemah tetapi cukup jelas. “Masih. Bawa ke mobil.” Rafael berjalan lebih dulu meninggalkan Luca yang sedang tertatih karena membopong gadis itu. --- Bentley hitam melaju di bawah hujan deras. Lampu jalan memantul di genangan, menciptakan bayangan seperti kota yang sedang menangis. Di kursi belakang, Rafael memandangi wanita itu yang tertidur di pangkuannya. Tarikan napasnya tidak begitu panjang, namun teratur. Gaun malam yang sobek memanjang, lengan kirinya berdarah.Terlihat jelas kalau dia bukan pelaut ataupun pengedar. “Kira-kira dia siapa, Bos?” tanya Luca dari depan, matanya menatap lewat spion. “Itu yang mau kita cari tahu.” Tatapan Rafael masih terpaku pada gadis itu. --- Jam berdentang empat kali saat mereka tiba di kediaman Wiratama. Hujan mulai reda, meninggalkan bau tanah basah dan kayu yang lembab.. Pintu besar berukir lambang kepala singa terbuka. Beberapa pelayan langsung menunduk, menyingkir memberi jalan. Rafael berjalan cepat ke ruang tamu. Ia menurunkan wanita itu di sofa panjang, lalu membuka mantel basah dari tubuh gadis itu. Luka di lengan si gadis dalam dan berdarah. “Ambilkan kotak P3K,” perintah Rafael dengan intonasi yang menggema. Seorang pelayan berlari. Rafael menatap wajah wanita itu lekat-lekat di bawah cahaya lampu gantung kristal. Garis wajahnya lembut, bulu matanya panjang, bibir pucatnya sedikit bergetar. “Cantik,” gumamnya pelan, lebih seperti berpikir keras daripada bicara. Luca datang membawa perban dan antiseptik. Rafael menanganinya sendiri. Tangannya bergerak cepat dan tenang, seperti sudah terbiasa dengan darah. Begitu alkohol menyentuh luka, wanita itu mengerang pelan. “Tenang. Kau aman sekarang.” Suaranya turun satu oktaf, lembut, nyaris tidak terdengar. Namun saat ia menunduk, pandangannya menangkap sesuatu di leher wanita itu. Seperti bekas luka lama, garis miring halus seperti bekas sayatan. Bekas yang sama yang pernah ia lihat di foto salah satu perwira intel yang telah membunuh banyak anak buahnya. Jantung Rafael berdetak lebih cepat, namun wajahnya tetap tenang. “Siapa namamu?” suaranya kini rendah, hati-hati. Wanita itu membuka mata perlahan. Irisnya abu-abu muda, seperti kabut di laut utara Jakarta . “E–Elara,” bisiknya. “Aku...?" Pandangan gadis itu mengelilingi ruangan megah yang ia huni. "Ini di mana?" “Di kediamanku,” jawab Rafael pendek. “Dan kamu beruntung masih hidup.” Elara kembali menatap sekeliling dengan mata bingung, tubuhnya bergetar. “Mereka... mencoba membunuhku. Aku nggak tahu kenapa?" Nada suara gadis itu sedikit bergetar, namun di baliknya Rafael menangkap sesuatu. Bukan ketakutan. Lebih seperti mengatur agar setiap kata bisa terkontrol. Seolah ia tahu persis apa yang akan ia ucapkan. “Kamu yakin? Orang yang jatuh ke laut di jam dua pagi, biasanya punya alasan besar. Apalagi dilihat dari penampilanmu yang—" Elara menunduk, menarik napas dalam. “Aku cuma penyanyi di kapal itu. Mereka menuduhku mencuri salah satu barang yang berharga. Saat mereka menodongkan senjata, tanpa pikir panjang, aku memilih melompat." Rafael menatapnya lama. Rahangnya mengeras, uratnya menegang. Ada sesuatu yang tidak selaras dari nada suara gadis itu. Namun tatapan mata yang tadinya dingin menusuk, perlahan mencair. “Ok. Kalau kamu bohong,” katanya tenang. "Kamu akan tahu sendiri gimana aku, Rafael Wiratama memperlakukan seorang pembohong.” Elara membalas tatapannya. Meski lemah, akan tetapi terlihat tegas. “Aku buka wanita gila yang mau menceburkan diri ke laut tanpa sebab." Elara berkata dengan mantap, dan juga membalas tatapan Rafael. Hening membisu. Kesunyian pun menggantung. Hanya suara jam antik berdetak di ruangan itu. Rafael akhirnya berdiri. Ia mematikan rokok di asbak marmer dan berjalan ke arah pintu. “Kamu sementara boleh tinggal di sini. Jangan sampai aku tahu siapa kamu sebenarnya.” Elara bersandar lemah di sofa. “Memangnya siapa aku? Dan apa yang akan terjadi?” Rafael berhenti di ambang pintu. Tatapan keduanya beradu pandang. Kilatan bola mata yang tajam tak membuat Elara gentar. “Maka aku akan menyesal sudah menyelamatkanmu. Tentu saja untuk itu ada konsekuensinya. Rafael mendekati Elara. Tubuh wanita itu mendadak membeku. “Ka-kau mau apa?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.7K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.1K
bc

Chiko, Let's Play!

read
23.9K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook