Bab 2. Misteri Elara
Rafael mengernyit, lalu ia mengambil mantel yang basah di dekat Elara. Gadis itu menghela napas lega.
“Ternyata menjadi penyanyi malam, membuat pikiranmu juga kelam.” Setelah berkata sarkas, pria tinggi dan tegap itu meninggalkan Elara. Kemudian Luca memerintahkan pelayan untuk mengantar Elara ke kamar tamu.
Malam itu, Elara berbaring di kamar tamu besar. Di meja samping tempat tidur, terletak makanan dan minuman yang ditujukan untuk dirinya.
Ia menatap ukiran kepala singa di langit-langit, lalu berbisik nyaris tanpa suara.
“Misi intel fase pertama, berhasil. Target sudah termakan umpan”
—----
Rafael berdiri di balkon ruang kerjanya. Hujan telah reda, meninggalkan kaca jendela yang masih basah. Dari tempat itu ia bisa melihat halaman belakang yang remang, di mana air menetes dari ujung atap seperti hitungan waktu yang berjalan dengan perlahan.
Luca masuk membawa segelas kopi. “Bos, nggak tidur?”
Rafael menatap jauh ke halaman. “Periksa identitas perempuan itu. Aku mau tahu siapa dia. Sebelum pagi, info sudah harus aku dapatkan!”
“Sudah, Bos. Kami cari di data pelabuhan, nama Elara nggak ada. Sepertinya dia baru muncul malam ini.”
Rafael menoleh perlahan, matanya menyipit. “Semua orang punya info tentang masa lalu, Luca. Kalau nggak ada jejak, berarti dia berusaha menghapusnya.”
Luca tersentak. “Apa perlu aku...?”
“Tidak! Jangan sentuh dia dulu. Aku mau lihat sejauh mana dia bisa berakting.” Rafael berjalan menuju meja, membuka map laporan yang masih basah di ujungnya. “Kapal itu milik siapa?”
“Terdaftar atas nama perusahaan pengiriman dari Batam. Tapi setelah kami cek, perusahaan itu udah bubar tiga tahun lalu.”
“Berarti kapal hantu.” Rafael menutup map itu. Pandangannya menajam. “Itu artinya, perempuan itu bukan sekedar penyanyi.”
---
Pagi datang dengan kabut tipis di halaman belakang rumah Wiratama. Elara duduk di kursi dekat jendela besar, masih mengenakan baju tidur sutra yang disiapkan pelayan. Rambutnya yang panjang tergerai, sebagian menutupi luka di lengannya yang mulai mengering.
Ia menatap taman yang basah oleh embun, akan tetapi hati dan pikirannya bergejolak. Setiap detail rumah itu ia hafalkan, letak kamera, jumlah penjaga, bahkan arah koridor menuju ruang kerja Rafael. Semua sudah terekam jelas dalam kepalanya.
Suara pintu terbuka membuatnya refleks berpaling. Rafael masuk tanpa mengetuk.
“Kamu kelihatan segar pagi ini.” Tatapan Rafael menelusuri wajah Elara. “Tidurmu nyenyak?”
“Seharusnya iya, setelah hampir mati tenggelam,” jawab Elara dengan senyuman nakal setengah menggoda.
Rafael mendekat, berdiri di belakang kursinya. Aroma tembakau dan cologne maskulin memenuhi udara. “Kau belum menjawab pertanyaanku semalam.”
Elara menegakkan tubuhnya. “Tentang apa?”
“Kenapa kamu di kapal itu. Dan kenapa seseorang ingin membunuhmu.”
Ia menatap bayangan wajah Rafael di jendela. “Aku udah bilang, kalau aku cuma diundang untuk menyanyi. Setalah itu mereka menuduhku mencuri.”
Rafael mencondongkan tubuh, cukup dekat hingga embusan napasnya terasa di kulit leher Elara. “Aku nggak suka orang yang berbohong.”
Elara tercekat Gadis itu menelan saliva. Pahit, getir. Namun cepat menguasai keadaan. “Kalau begitu, buktikan aku berbohong.”
Mata keduanya beradu. Keheningan menggantung cukup lama, seolah udara di ruangan itu ikut menahan napas.
Rafael tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah sampai ke mata. “Kau berani juga.” Ia berbalik dan berjalan keluar. “Siapkan dirimu. Malam ini kau ikut aku ke kasino.”
“Kasino?”
“Ya. Kau bilang penyanyi, bukan? Buktikan suaramu memang berharga.”
Rafael keluar tanpa menoleh. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Elara masih terpaku di kursi, Detakan jantungnya begitu kencang.
---
Sore hari, Luca memeriksa jam tangannya sambil menunggu di ruang tamu. Elara muncul mengenakan gaun hitam yang terlihat sederhana, tetapi bermerek Rambutnya diikat rendah, bibirnya diberi warna lembut.
“Kamu kelihatan beda kalau nggak basah kuyup,” celetuk Luca dengan nada bercanda.
Elara tersenyum sekilas. “Terima kasih. Tapi aku lebih suka kalau kalian tidak menolongku tadi malam.”
“Ck, sungguh gak tahu diri,” cibir Luca sambil berjalan ke depan.
Rafael pun turun dari lantai dua, dengan jas hitam yang selalu rapii. Ia menatap Elara dari kepala sampai ujung kaki. “Cukup,” katanya singkat, lalu berjalan ke arah pintu. “Ayo.”
Di sepanjang perjalanan menuju kasino, mobil mereka melaju di bawah langit Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil seperti kilatan kenangan yang tak diinginkan.
Elara melirik ke arah Rafael. “Kau selalu seserius ini?”
“Bisnis tak mengenal humor.”
“Apakah hidupmu hanya bisnis?”
Rafael memutar kepala sedikit. Tatapannya tajam, namun suaranya tenang. “Hidupku tentang bertahan, dan orang yang terlalu banyak bicara biasanya nggak bertahan lama.”
Elara menahan senyum. “Aku catat itu.”
Mobil berhenti di depan bangunan mewah dengan lampu-lampu neon merah. Musik jazz mengalun pelan dari dalam. Rafael turun lebih dulu, menunggu Elara di sisi lain. Saat gadis itu melangkah turun, pandangan mata pria itu sekilas melunak.
“Malam ini kau hanya penyanyi yang aku pekerjakan. Jangan bikin masalah.”
Elara menatap balik. “Masalah? Justru aku berharap kamu jangan menyesal, karena mengajakku.”
Senyum Rafael terangkat samar, dingin sekaligus berbahaya. “Kita lihat nanti.”
Mereka melangkah masuk ke kasino.
Kasino “Sable Noir” berdiri di tengah distrik bisnis Jakarta, gedung bertingkat dengan dinding kaca hitam dan logo singa emas yang sama seperti di kediaman Rafael. Musik mengalun lembut, para tamu berpakaian mahal berbicara pelan sambil berjudi. Aroma alkohol dan parfum bercampur jadi satu, menutup bau uang dan dosa yang menempel di udara.
Elara melangkah di belakang Rafael. Setiap langkahnya menggema di lantai marmer. Semua mata beralih menatap ketika ia lewat, sebagian karena penasaran, sebagian karena ingin tahu kenapa seorang wanita asing bisa berdiri di sisi Rafael Wiratama.
Seorang manajer kasino mendekat dengan tergesa. “Bos, penyanyi malam ini batal datang. Katanya demam tinggi.”
Rafael menatap Elara tanpa ekspresi. “Masalah selesai. Wanita ini akan menggantikannya.*
Elara terkejut. “Apa?”
“Panggung menunggumu.”
Ia menatap panggung kecil di tengah ruangan, lampu sorot menyoroti mikrofon tunggal di tengah suasana yang penuh asap rokok. “Aku bahkan belum latihan.” Elara berusaha menolak.
“Kau bilang penyanyi. Kalau itu bohong, lebih baik kau berhenti bernapas sebelum lagu pertama selesai.” Rafael berkata datar lalu menuju bar, meninggalkannya berdiri di tengah tatapan puluhan orang.
Elara menghela napas dalam. Di d**a kirinya, alat kecil bulat menyerupai bros baju seukuran koin paling kecil tersentuh ujung jarinya. Yup, itu adalah mikrofon penyadap. Ia mengaktifkannya dengan gerakan ringan sebelum melangkah ke atas panggung.
Musik pelan mulai mengalun. Denting piano pun menyusul. Elara memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup terlalu cepat. Lalu ia mulai bernyanyi.
Suaranya lembut, dalam, mengalir seperti alunan gelombang laut yang pernah hampir menelannya. Para tamu terdiam, suara percakapan berhenti perlahan. Rafael yang sedang menyesap minuman di bar ikut menoleh. Ada sesuatu dalam suara gadis itu, seperti kesedihan yang nyaris tak bisa dijelaskan.
Luca mencondongkan tubuh. “Bos, ternyata dia memang penyanyi. Apakah dia penyanyi yang berbahaya?”
Rafael tidak menjawab. Matanya tak lepas dari panggung. Ia memperhatikan tiap gerak bibir Elara, tiap cara wanita itu menatap ruangan, seolah sedang membaca sesuatu yang tak tertulis.
Lagu berakhir dengan tepuk tangan pelan. Elara menunduk sopan, lalu turun dari panggung. Ia berjalan menuju bar, berusaha tetap tenang. Rafael menatapnya dari kursinya, jari telunjuknya mengetuk gelas berkali-kali.
“Bagus.” Rafael mengangguk pelan. “Tapi aku masih belum percaya.”
Elara menatapnya. “Percaya? Percaya tentang apa?”
“Bahwa kau tidak menyembunyikan sesuatu.” Rafael mencondongkan tubuh. “Tadi malam kau nyaris mati. Tapi, pagi tadi kau terlihat segar. Kemudian malam ini kau bernyanyi seperti ratu panggung. Sungguh, sikapmu ini terlalu tenang untuk seseorang yang hampir kehilangan nyawa.”
Elara menatap lurus ke matanya. “Aku cuma tahu satu hal, Tuan Rafael. Kalau aku masih hidup, berarti aku belum kalah.”
Senyum samar muncul di sudut bibir Rafael. “Kata-kata itu biasanya keluar dari orang yang terbiasa berperang.”
Elara tidak menjawab. Ia meneguk orange jus yang disodorkan pelayan. Cairan itu menyentuh bibirnya, lalu menuruni tenggorokannya seperti racun manis yang berbahaya.
Rafael bersandar ke kursi, menatap ke arah ruangan di belakang panggung. “Luca, awasi dia. Pastikan tak ada yang aneh.”
“Baik, Bos.”
Namun begitu Rafael berpaling, Elara sudah berjalan ke arah koridor belakang. Luka di lengannya mulai perih lagi, tapi langkahnya tak melambat. Ia membuka pintu kecil bertuliskan Staff Only dan masuk secara diam-diam.
Ruangan itu gelap, penuh kabel dan monitor yang menampilkan kamera pengawas kasino. Ia menyentuh alat kecil di belakang telinganya, menyalakan komunikasi.
“Kantor pusat, ini Vania. Aku berhasil masuk area kontrol. Sinyal stabil.”
Suara dari alat itu terdengar samar. “Bagus, Vania. Lanjutkan pemetaan area. Hati-hati, target dikenal sangat berbahaya.”
Ia mengangguk pelan meski tak ada yang melihat. “Terserah siapa pun dia, aku akan tahu rahasianya.”
Suara langkah kaki mendekat. Vania mematikan alat itu secepat kilat, lalu berbalik. Pintu terbuka, cahaya dari luar masuk, menyorot wajah seseorang yang berdiri di ambang pintu.