Bab 3. Berdetak

1293 Kata
Bab 3. Berdetak “Rafael.” Elara membeku. Tatapan pria itu sangat dingin, tajam, dan berbahaya. “Aku pikir kamu cuma penyanyi. Ternyata kau juga suka berkeliaran.” Vania menegakkan tubuh. “A-aku, sepertinya nyasar. Niatnya mau cari toilet” Rafael melangkah masuk, pintu tertutup di belakangnya. Hanya suara tarikan napas mereka yang terdengar. “Masalahnya,” ucap Rafael pelan sambil berjalan mendekat, “toilet ada di arah sebaliknya.” Vania mundur satu langkah, jantungnya berdetak cepat. “Aku... salah lihat tanda.” Rafael berhenti tepat di depan Elara. Debaran di d**a gadis itu sungguh sudah tiada ritme. Sedangkan mata Rafael menatap lurus, seperti ingin membedah isi pikiran Elara. “Tentu. Semua orang pernah salah jalan.” Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Tapi kalau kau salah langkah, kau mungkin nggak akan sempat untuk berbicara.” Vania/Elara menelan saliva. “Kamu mengancamku?” Rafael tersenyum samar. “Belum. Tapi aku mulai penasaran siapa sebenarnya wanita yang kutarik dari laut malam itu.” Ia berbalik perlahan dan membuka pintu. Sebelum keluar, ia menatap sekilas, suaranya berat. “Besok malam, kamu menyanyi lagi. Dan jangan sampai aku lihat kamu ada di ruangan ini lagi.” Pintu tertutup dengan keras. Vania berdiri kaku di tengah ruangan, napasnya berat. Tangannya menyentuh alat di belakang telinganya, akan tapi sinyal sudah terputus. Lampu monitor tiba-tiba berkedip. Di layar utama, wajah Rafael muncul menatap ke arah kamera, langsung ke mata Elara. Gadis itu membeku. Ia sadar, kalau Rafael sedang menyelidikinya, artinya target penuh dengan kecurigaan. —--- “Aku gak suka dibohongin.” Nada suara Rafael datar, akan tetapi dinginnya bisa memecah udara dini hari itu. Luca berdiri di hadapannya, tangannya di belakang punggung. “Bos, aku udah ngecek lagi. Hasilnya sama. Gak ada catatan tentang dia selain dia adalah penyanyi kafe dan kapal kargo tiga tahun lalu yang memiliki banyak hutang." “Justru itu masalahnya.” Rafael meletakkan gelas di meja. “Orang bersih, biasanya yang paling kotor. Penyanyi yang hanya hutang? Cukup menarik." Ia berjalan pelan ke arah jendela besar. Hujan tipis-tipis membasahi kaca, menampakkan bayangan samar wajahnya sendiri. Dalam pantulan itu, matanya gelap, seperti sedang menatap sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Sementara itu, di kamar tamu lantai atas, Elara duduk di tepi tempat tidur. Rambutnya masih basah sehabis mandi. Ia menatap refleksi dirinya di cermin. Gadis itu terlihat lembut, rapuh, dan sedikit menggoda. Padahal, di bawah kulitnya, denyut ketegangan terasa jelas. Ia mengambil gelang silver di meja rias, benda kecil yang bisa merekam percakapan dalam radius lima meter dan tahan air. Benda itu memang terlihat seperti perhiasan kebanyakan. Padahal itu adalah alat yang penting. Ia menekan ujungnya sampai lampu kecil di dalamnya berkedip hijau. Pintu terbuka pelan. Luca muncul, tanpa mengetuk. Elara tersentak. “Hei, apa nggak bisa kalian masuk itu, ketuk pintu dulu, hah?! Gimana kalau aku sedang–” “Maaf.” Luca memotong cepat perkataan Elara. “Seharusnya kamu juga mengunci pintu ini.” Elara hanya menghela napas dengan kasar. “Jika aku mengunci pintu, pasti kalian semua makin curiga. Entahlah, kenapa aku diselamatkan, kalau hanya untuk kalian curigai? Aku juga gak bisa keluar dari tempat ini.” “Bos minta kamu untuk turun. Sarapan sudah tersedia.” Luca tak menjawab ucapan Elara. Tangan kanan Rafael itu hanya memberi info singkat. Elara menoleh pelan. “Jam segini?” “Dia jarang tidur. Nanti juga kamu bakal tahu.” Ia mengikuti Luca turun lewat tangga yang berbentuk spiral. Rumah itu besar, dingin, dan selalu rapi. Bau kayu mahal dan kopi pahit bercampur di udara. Di ruang makan, Rafael sudah duduk dengan kemeja hitam, lengan digulung sampai siku. Di depannya ada secangkir espresso dan piring kosong. “Duduk.” Elara menarik kursi tanpa bicara. Rafael menatapnya lama, seperti sedang menimbang sesuatu. “Tadi malam kamu menyanyi cukup bagus. Tapi sayangnya, kamu juga masuk ruang kontrol kamera tanpa izin.” Elara menatap balik. “Sudah kubilang, aku tuh kesasar” “Nyasar? Kamu nggak baca petunjuk arah? Atau kamu terlalu sibuk mencari i sesuatu?” Elara menyilangkan tangan di d**a. “Kamu bisa menuduhku sesuka hati. Aku cukup tahu diri. Aku tuh di sini cuma tamu yang telah kamu selamatkan dari kematian.” Rafael bersandar di kursi. “Tamu biasanya tahu sopan santun.” “Tuan rumah biasanya juga nggak main asal tuduh dan curigaan terus.” Mata mereka saling mengunci. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hanya terdengar bunyi hujan di luar jendela. Rafael akhirnya tersenyum samar, senyum yang lebih menakutkan daripada tatapan dinginnya. “Berani juga kamu adu mulut denganku. Jarang ada orang yang berani.” Elara berdiri. “Mungkin karena aku bukan ‘orang kamu’ lagipula, aku nggak merasa seperti yang kamu curigai.” Ia melangkah pergi, tapi suara Rafael menahan langkahnya. “Kamu pikir aku nggak tahu siapa kamu?” Elara menoleh setengah berbalik. Mendadak jantungnya berdetak kencang. “Maksudnya?” Rafael menatapnya dari bawah. “Nama kamu bukan Elara, dan kamu bukan cuma penyanyi.” Ruangan langsung terasa sesak. Elara terdiam, wajahnya datar berusaha menenangkan suasana, akan tetapi di mata gadis itu ada kegelisahan kecil yang sulit disembunyikan. Rafael mengangkat gelasnya. “Aku sudah main di dunia ini cukup lama. Buat tahu kalo orang yang punya identitas sebersih kamu biasanya menyimpan duri di balik senyuman. Atau bisa jadi juga itu pisau yang siap menghunusku kaan saja.” Elara tercekat. Terlihat jelass gerakan di kerongkongannya “Maaf Tuan, ucapan anda tidak begitu jelas.” “Ok. Aku hanya mau tahu kenapa orang kayak kamu tiba-tiba jatuh ke laut, dan kenapa setiap langkahmu seperti udah diatur sebelumnya.” Ia berdiri perlahan, langkah Rafael terlihat berat. “Mulai malam ini, kamu kerja di bawah pengawasanku langsung. Menyanyi, jalan, bahkan kamu beranapas pun akan aku pantau.” “Kamu pikir aku mau?” “Kamu nggak punya pilihan.” Elara menatapnya dengan tatapan menatang. “Kalau aku kabur?” Rafael mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal. Berkata lirih nyaris seperti berbisik. “Aku bakal menemukanmu, bahkan sebelum kau sadar kalau sudah dikejar.” Ada sesuatu dalam cara Rafael berbicara. Itu bukan ancaman. Namun peringatan. Elara tetap bersikap tenang. Mereka kini berdiri begitu dekat. Elara bisa mencium aroma kopi dari napas pria itu. Sesuatu dalam dirinya bergetar, antara takut dan penasaran. Namun tugas tetaplah tugas. Apapun resikonya, Elara siap. Suara ketukan pintu memecah ketegangan. Luca masuk dengan ekspresi aneh. “Bos, kita punya masalah.” Rafael menatapnya tajam. “Masalah apa?” Luca menyerahkan tablet. “Ada orang menyusup ke gudang pelabuhan kita. Dua penjaga hilang.” Elara menunduk sedikit, menyembunyikan keterkejutan. Gudang itu adalah lokasi berikutnya dalam misi penyadapan dan penyergapan. Rafael menyipit. “Tunjukkan rekamannya!” Video di layar menampilkan bayangan seseorang yang melintas cepat di antara kontainer. Wajahnya tertutup masker. Gerakannya ringan dan terlatih. Rafael berhenti menatap layar, lalu perlahan menoleh ke arah Elara. “Kamu kelihatan tegang. Kenapa?” Elara menatap datar. “Aku cuma ngeri membayangkan darah.” Rafael menatapnya lebih lama, seolah membaca pikirannya. “Lucu. Aku malah ngerasa kamu itu udah biasa lihat darah.” Ia mematikan tablet, lalu berjalan menuju pintu. “Siapkan mobil. Kita ke pelabuhan.” Elara menatap punggung Rafael yang menjauh. Jantungnya berdetak cepat. Kalau Rafael sampai tahu perwira intel lain juga dikirim malam ini, misinya bakal gagal total. Begitu Rafael keluar, Elara buru-buru menuju kamarnya, menyalakan alat komunikasi kecil yang tersembunyi di tabung lipstik. “Pusat, ini Vania. Target menuju lokasi. Ulang, target menuju pelabuhan. Jangan—” Suaranya terputus. Alat itu tiba-tiba mati total. Ia menatap benda kecil yang sudah tak berkedip itu. Dadanya terasa sesak. Dari balik cermin, bayangan seseorang muncul perlahan, sosok tinggi dengan tatapan tajam. Suara berat terdengar dari belakang. “Lain kali, pastikan alatmu nggak pakai frekuensi yang sama kayak sistem keamanan rumahku.” Elara menoleh cepat. Rafael berdiri di sana, wajahnya tanpa ekspresi, akan tetapi matanya menyala tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN