Bab 30. Luca Kesal “Kamu tidak perlu menangis,” ucap Rafael. “Aku tidak butuh dikasihani.” Elara menahan tangisnya. “Aku gak tahu lagi. Aku bingung harus bagaimana jika di dekatmu.” “Jangan menjauh dariku. Hadirmu memberikan rasa yang berbeda,” Rafael berkata. “Aku sudah melihat cukup banyak topeng seumur hidup. Tapi, aku berharap kamu bukan salah satu dari pemilik topeng-topeng itu.” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada ancaman mana pun. Di kepala Elara, suara komandan kembali bergema. Ingat misi. Ingat siapa targetmu. Jangan terlibat perasaan. Namun tubuh dan hatinya tidak bisa kompromi dan diajak untuk patuh. Spontanitas tak terduga, gadis itu memeluk Rafael. Bukan pelukan penuh gairah. Bukan juga pelukan putus asa. Akan tetapi berupa pelukan orang yang melihat luka orang

