Bab 52. Vania Tertangkap “Kenapa aku harus diam?! Kau tak pernah mendengarku. Arggh! Luca meninju dinding gudang. “Raf, kau bukan hanya bos atau temanku, kita sudah seperti saudara. Bisa saja wanita itu juga suruhan ayahnya. Mungkin dia belum tahu bisnis kelam ayahnya. Tapi, Jonathan pasti tahu kalau dia polisi. Jadi dia terjun sendiri untuk memastikan kau tidak bangkit dan membalaskan dendam," ucap Luca akhirnya, merangkum benang merah yang kejam. "Ini lebih dari sekadar bisnis, Raf. Ini penghinaan tingkat tertinggi." Rafael mengangkat wajah. Air mata tidak keluar, yang ada hanyalah dingin yang membeku di matanya. Semua rasa sakit, kesedihan, dan keraguan seolah mengkristal menjadi satu inti yang keras dan gelap di hatinya. "Vania Larasati Saksena," ia mengulang nama itu sekali lagi,

