Citra duduk di sisi tempat tidur, dengan Ans yang duduk bersila di dekatnya bersandar pada dinding. “Mama kenal tante yang kemaren?” “Hanya tahu. Kalau kenal baik mungkin enggak. Dia bilang apa sama Ans tempo hari?” “Dia bilang,” Ans menarik napas sejenak sembari menatap ibunya. “Tidak apa-apa, bilang aja, meskipun itu mungkin bukan sesuatu yang baik untuk kita dengar.” “Dia bilang, Mama perebut tunangan orang,” Ans menarik napas sejenak. “Dan dia juga bilang, Papa punya anak yang lain.” Citra menghela napas. Ans pasti terluka sebab gambaran papanya yang sempurna runtuh seketika oleh omongan tidak bertanggung jawab orang lain. Diraihnya tangan anak sulungnya itu dan digenggamnya erat. “Ans, tidak ada perebut tunangan orang. Dan tidak ada anak yang lain selain kalian. Papa dan Mama

