Vivian mengerjap pelan, membuka mata saat samar-samar mendengar suara percakapan di dekatnya. Begitu sadar, pandangannya langsung tertuju pada sosok Leonard yang berdiri di tepi ranjang, dan Keira yang duduk sambil menatap ayahnya dengan mata masih mengantuk. "Maaf, membangunkanmu?” suara Leonard terdengar pelan namun jelas, nada lembutnya berbeda dari biasanya. Vivian buru-buru bangkit duduk, menyibakkan rambut panjangnya yang berantakan. “Tidak, aku memang harus bangun...” Wajahnya memerah, terlebih saat menyadari Keira ada di antara mereka dan suasana menjadi canggung seketika. Keira lalu bersandar lagi ke Vivian, memeluknya erat. “Aku suka tidur sama Kak Vivian,” ucapnya polos. Leonard hanya memandangi adegan itu dengan da-da yang sesak oleh rasa yang belum bisa dia beri nama. Hat

