Vivian menahan napas sejenak, tubuhnya tegang saat Leonard menguncinya di bawah tubuhnya. Bau alkohol yang tajam menyergap penciumannya, membuatnya memalingkan wajah dengan lirih. “Leonard…” bisiknya pelan, tak ingin menyakiti, tapi juga tak ingin menyerah pada keadaan yang tidak tepat. Leonard terdiam, kepalanya tertunduk. Vivian bisa merasakan beban yang menggantung dalam da-da pria itu, seolah bukan hanya lelah fisik—tapi luka batin yang menganga. “Ada apa sebenarnya? Kamu nggak biasanya seperti ini...” tanya Vivian lembut, tangannya menyentuh lengan Leonard pelan. Leonard memejamkan mata, wajahnya tampak rapuh. “Aku bingung...aku lelah. Aku takut kehilangan...sesuatu yang belum sepenuhnya aku pahami...” Vivian terdiam. Suara Leonard lirih, seperti pecahan kaca yang tak bisa dirapi

