Leonard terpaku. Tangannya bergetar saat ia perlahan menarik kembali selimut ke tempatnya semula, seolah mencoba menutupi kenyataan yang baru saja ia lihat. Napasnya memburu, dadanya sesak—bukan karena mabuk, tapi karena guncangan batin. Kepalanya memang masih berdenyut, namun bukan itu yang membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Tatapan matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. “Apa yang sudah kulakukan?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Ia menunduk, menatap Vivian yang masih tertidur lelap di sampingnya. Perasaan bersalah menghantamnya keras. Dia tak tahu pasti bagaimana semua ini bisa terjadi, hanya potongan-potongan samar dari semalam yang muncul—rasa rindu, kerinduan yang menggerogoti, dan kelemahan yang akhirnya membawanya pada tindakan yang bahkan tak bisa ia pertanggungja

