Bab 3

1640 Kata
“Lumayan,” jawab Zahra jujur. “Ada apa?” "Mas Arvin belum ngomong ke kamu?" "Oh! Ngomong soal apa, Mbak? Kemarin dia kesini, tapi nggak ada hal penting yang diomongin." Zahra tahu, kalau Miranda sudah nelepon langsung, pasti ada yang penting, bukan sekedar obrolan ringan seperti kemarin. Miranda tertawa kecil. “Oh gitu.. Jadi gini, Za, aku mau minta tolong. Sebentar malam Mas Arvin ada undangan pesta kliennya. Yang diundang pasangan, tapi aku nggak bisa pulang cepat, urusanku di sini masih banyak. Kamu bisa temenin dia, kan?” Zahra terkejut. Permintaan ini, membuatnya tidak nyaman. Dia merasa tidak nyaman pergi dengan lelaki yang bukan siapa-siapanya, apalagi suami sahabatnya sendiri. Ia menoleh ke sekitar—kafe, pelanggan, suara mesin kopi—seolah mencari alasan untuk menunda jawaban. “Mbak Mir, aku—” “Please,” potong Miranda ringan. “Cuma formalitas. Kamu kan tahu, aku nggak enak ninggalin dia sendirian.” Zahra menggigit bibir. “Tapi, aku juga ngerasa nggak enak, Mbak.” Zahra mengaku dengan jujur. Miranda di ujung telepon terkekeh. “Nggak apa-apa. Kamu itu sahabat aku, udah kayak adikku sendiri malahan. Jadi aku lebih tenang kalo Mas Arvin pergi sama kamu. Aku percaya, Mas Arvin aman sama kamu, Za. Nanti kalo ada yang nanyain kamu, bilang aja adik aku. oke?” Kalimat itu membuat da-da Zahra mengencang. “Aku pikir-pikir dulu ya, Mbak,” katanya akhirnya. “Yaelah, Za. Pestanya sebentar malam, kelamaan kalo mau pikir-pikir dulu. Keburu bubar malah nanti, Za.” sela Miranda cepat. “Nanti telepon Mas Arvin buat jemput kamu,” Seolah Zahra sudah setuju, Miranda lanjut memberikan saran untuk penampilannya nanti. Telepon lalu ditutup. Zahra berdiri mematung beberapa detik. Aman. Kata itu berputar-putar di kepalanya. 'Aman menurut siapa?' Ia menatap pantulan dirinya di kaca—perempuan sederhana, janda baru kemarin, pemilik kafe kecil. Ia tahu stigma yang menempel. Ia tahu batas yang harus dijaga. *** Ponsel Arvin bergetar saat ia baru saja keluar dari ruang sidang simulasi bersama timnya. Zahra menelepon. Arvin berhenti di lorong, mengangkat. “Halo?” “Mas,” suara Zahra terdengar ragu. “Pestanya jam berapa?” Dia terpaksa bertanya karena Miranda tidak memberitahu jam berapa pesta itu dimulai. Arvin terdiam sepersekian detik. “Pesta?” dia bingung sesaat. Namun kemudian teringat kembali saran istrinya tadi pagi. “Mbak Miranda telepon aku, Mas,” jawab Zahra cepat, membenarkan dugaan Arvin. “Dia minta aku menemani Mas Arvin.” Arvin menghela napas pelan. Ada rasa lega yang datang tanpa diundang, disusul rasa bersalah yang sama cepatnya. “Jam tujuh,” jawabnya. “Dresscode semi formal.” “Oke,” kata Zahra singkat. “Aku… cuma ingin tahu soal itu aja, Mas.” “Kalau kamu nggak nyaman—” “Nggak apa-apa,” potong Zahra. “Aku bisa tinggalin Kafe ke anak buahku.” "Ya udah, aku jemput kamu jam setengah tujuh," Telepon berakhir. Arvin menyimpan ponsel, bersandar sebentar ke dinding lorong. Ia menutup mata, menghitung napas. Ia ingin Miranda di sana. Selalu itu maunya. ** Pukul 18.30 Arvin mengenakan setelan hitam, dasi abu gelap. Ia sudah tiba di depan kosan Zahra. Dia menelepon wanita itu, memberitahu dirinya sudah menunggu. Tak lama, Zahra melangkah keluar lift, mengenakan gaun berpotongan sederhana berwarna putih. Tidak mencolok. Tidak berlebihan. Rambutnya diikat rapi, riasan tipis. Ia terlihat… pantas. Arvin terpana sesaat, menyukai penampilan pendamping pestanya malam ini. “Terima kasih, udah mau nemanin aku, Za," kata Arvin setelah mereka masuk ke dalam mobil. Zahra mengangguk. “Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma… nurutin permintaan Mbak Miranda.” Arvin menatap jalan. “Aku tahu.” Gedung tempat acara berlangsung megah. Lampu kristal, karpet merah, suara musik lembut. Orang-orang berjas, gaun-gaun mewah, tawa yang melengkapi kemegahan pesta malam itu. Arvin memperkenalkan Zahra sebagai “Adik iparnya”. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Sebagian besar tamu yang hadir sering berjumpa dengan Arvin di berbagai pesta sebelumnya, dan Pengacara yang disegani itu lebih sering datang sendiri, tanpa istrinya. Alasannya selalu sama, istrinya sibuk. Semua orang memakluminya, tidak ada yang berani mencampuri urusan pribadi seorang Arvin Pratama. Begitu juga saat ini. Zahra berjalan di sisinya, tenang, di bawah tatapan penuh penghargaan tamu lainnya. Bahkan Tuan dan Nyonya pesta menyambut mereka dengan penuh kehangatan. 'Wow! Ternyata Mas Arvin begitu dihormati. Sayang banget Mbak Miranda nggak bisa ikut,' Zahra menatap Arvin kagum. Dia terus mengikuti langkah pria itu. Ia menjaga jarak setapak—cukup dekat untuk terlihat bersama, cukup jauh untuk tidak menyentuh. Saat seorang klien menepuk bahu Arvin dan berbasa-basi sebentar, Zahra sedikit menjauh dan menunggu dengan sabar. Ketika dia ikut dilibatkan dalam percakapan, ia menjawab dengan santun. “Pendamping Anda menyenangkan,” kata seorang kolega sambil tersenyum. Arvin membalas senyum itu, dalam hati merasa bangga. “Iya.” Jawabnya sambil menatap Zahra sedikit lebih lama. Mereka berpindah ke sisi lain ruangan, menyapa undangan lain, lalu kembali ke meja yang sudah disiapkan untuk tamu. Musik klasik terus mengalun lembut, cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu percakapan para tamu yang tampak serius dalam kelompok-kelompok kecil, sedang membangun percakapan bisnis. Arvin dihampiri seorang tamu, pengacara juga. “Kasus yang sedang Anda tangani makin viral saja. Tapi jangan menyerah, itu bisa jadi batu loncatan besar,” ujar seorang pria paruh baya itu sambil menepuk bahu Arvin. “Atau sebaliknya.” Arvin tersenyum tipis. “Saya tidak terbiasa melompat tanpa perhitungan, Pak.” Tamu itu tertawa. "Tapi Anda telah menyedot perhatian publik sejauh ini. Aku rasa, kasus ini akan selesai dengan kejutan besar." "Prosesnya masih sementara berlangsung, Pak. Kesimpulan yang terlalu dini cukup berbahaya." Percakapan lalu mengalir begitu saja—tentang klien, tentang hotel yang terlalu dingin, tentang musik yang terlalu serius untuk pesta. “Mas Arvin kelihatan nyaman di acara seperti ini,” kata Zahra. Setelah Arvin terbebas dari orang-orang yang ingin berbicara dengannya. "Malam ini, aku menyaksikan langsung betapa populernya kamu, Mas," bisik Zahra. Arvin tertawa kecil. “Nggak sehebat itu, Za Tapi kamu juga cukup mengejutkan, pintar bersosialisasi,” puji Arvin. Ada sesuatu dalam caranya mendengarkan—tatapannya fokus, kepalanya sedikit miring, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Arvin dan tamu yang mengajak mereka bicara penting. "Ah, itu mungkin karena aku terbiasa mendengarkan suara pelanggan kafe, Mas. Konsumen adalah raja." Benar juga. Arvin membenarkan. Tapi gestur Zahra ini membuat Arvin membandingkannya dengan Miranda. Berbeda. Sangat berbeda. Biasanya, Miranda akan berdiri di sampingnya dengan aura dominan. Menyela, mengarahkan, memastikan semua orang tahu siapa mereka. Zahra tidak melakukan apa-apa— hanya mendengarkan lalu berkomentar seperlunya, dan justru itulah yang membuat kehadirannya terasa. “Kamu nggak capek?” tanya Arvin tiba-tiba. Zahra mengernyit. “Capek kenapa?” “Menjadi… pendengar terus.” Zahra terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku cuma tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam.” Kalimat itu membuat da-da Arvin menghangat dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Tanpa sadar, jarak mereka menyempit. Bahu mereka hampir bersentuhan. Arvin bisa mencium aroma ringan dari parfum Zahra—tidak menusuk, hanya samar, seperti bunga yang mekar setelah hujan. Di sudut lain ruangan, sepasang mata mengamati mereka. Pria itu berdiri dengan postur santai, segelas anggur di tangannya. Bibirnya melengkung tipis. Tatapannya berpindah dari Arvin ke Zahra, lalu kembali lagi, seolah sedang menyusun potongan puzzle. “Menarik,” gumamnya pelan. Ia memberi isyarat kecil pada pelayan yang lewat membawa nampan berisi tiga gelas anggur merah. Pelayan itu berhenti, sedikit membungkuk. Pria itu mengambil satu gelas. “Tolong,” ujarnya dengan suara rendah. “Antarkan dua gelas ini ke meja sana.” lanjutnya sambil menggerakkan dagu. Pelayan mengikuti arah pandangan sang pria—ke arah Arvin dan Zahra. Gerakan pria itu cepat. Saat kepala pelayan bergerak ke arah yang ia tunjuk, sesuatu yang ia siapkan sudah berpindah ke dalam gelas-gelas anggur yang masih tersisa di nampan. “Pastikan diberikan ke Tuan dan Nyonya di meja itu,” tambahnya, menunjuk sekilas. “Yang berdasi abu-abu dan gaun putih.” Pelayan mengangguk, tidak curiga. Ia hanya menjalankan tugas. Sementara itu, Zahra sedang menceritakan sesuatu tentang kafenya—tentang pelanggan yang datang pagi-pagi hanya untuk duduk diam sambil minum kopi. “Banyak orang yang suka tempat yang tenang. Termasuk aku. Karena itu aku sering berkunjung." Komentar Arvin. Pelayan tiba di samping mereka. “Anggur untuk Tuan dan Nyonya.” Zahra refleks hendak menolak. “Oh, maaf, saya ti—” “Tidak apa-apa,” potong Arvin, sopan. “Terima kasih.” Ia mengambil satu gelas, lalu satu lagi disodorkan pada Zahra. Jari mereka bersentuhan sesaat. Singkat, tapi cukup untuk membuat Zahra menarik napas lebih dalam. “Untuk malam yang panjang,” ujar Arvin ringan, mengangkat gelasnya sedikit. Zahra ragu sepersekian detik, lalu tersenyum. “Untuk malam yang berkesan.” Gelas mereka beradu pelan. Dari kejauhan, pria itu menyesap anggurnya sendiri, senyumnya melebar tipis. Cairan merah itu terasa hangat saat melewati tenggorokan Arvin. Tidak pahit, tidak aneh. Ia meneguknya sekali lagi, sekadar membasahi kerongkongan yang kering akibat terlalu banyak berbicara malam ini. Zahra hanya menyesap sedikit. “Anggurnya… kuat,” gumamnya. Arvin tersenyum. “Hotel mahal memang tidak pernah setengah-setengah.” Namun beberapa menit kemudian, Arvin mulai merasa ada yang berubah. Lampu kristal itu… sejak kapan cahayanya terasa terlalu terang?Garis-garis di sekeliling ruangan seolah sedikit mengabur, seperti lukisan yang disapukan air tipis. Dan dia mulai merasa gerah. “Mas baik-baik saja?” Zahra bertanya, cepat menangkap perubahan di wajah Arvin. Arvin mengangguk, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin. “Cuma… mungkin terlalu lama berdiri.” Ia menurunkan gelasnya ke meja. Tangannya sedikit bergetar. Sangat halus—nyaris tak terlihat—tapi Zahra melihatnya. “Kita duduk sebentar,” usulnya, nada suaranya tidak memaksa. Mereka berpindah ke sofa di sudut ruangan, agak terlindung dari lalu lalang tamu. Arvin menyandarkan punggung, menarik napas panjang. Aroma parfum Zahra kembali menyeruak—lebih dekat sekarang. Terlalu dekat. “Zahra,” panggilnya pelan, berusaha tetap fokus pada situasi ruang pesta yang penuh percakapan hangat. Zahra menoleh. Wajah Arvin tambah memerah. Dan Zahra juga mulai merasa aneh dengan tubuhnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN