Arvin masih berdiri di tempatnya, lama setelah pintu kamar menutup dan langkah Miranda menghilang di balik lorong. Kata-kata istrinya terus berputar di kepalanya, seperti gema yang tak mau hilang, terus bergaung.
'Kalau jengah datang sendiri, ajak Zahra aja…'
Ia mengembuskan napas perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terjatuh lemas di paha, sementara pandangannya kosong menatap lantai. Saran itu terdengar ringan, nyaris tanpa beban. Seolah kehadiran pendamping hanyalah formalitas. Padahal bagi Arvin, bukan itu intinya.
Yang ia inginkan sederhana.
Datang bersama.
Masuk ke ruangan pesta dengan tangan istrinya di lengannya. Bertukar senyum kecil saat bertemu undangan lainnya. Berdiri sebagai pasangan—bukan sekadar suami yang ditemani siapa saja agar tampak utuh di mata orang lain.
Ia tidak sekedar membutuhkan pendamping. Ia membutuhkan Miranda, istrinya yang seharusnya hadir mendampinginya, ikut bersosialisasi.
Hanya di awal-awal pernikahan saja mereka terlihat sebagai pasangan mesra yang selalu tampil berdua di depan publik. Semuanya perlahan berubah setelah Miranda memutuskan fokus sepenuhnya pada peningkatan karir.
'Aku udah lama memimpikan ini, Mas. Punya bisnis sendiri yang sesuai dengan skillku.'
Miranda merintis bisnis yang bergerak di bidang desain interior, dan dalam waktu tak sampai 2 tahun, bisnisnya berkembang pesat.
Saat ini, perempuan itu seolah bisa berlari lebih cepat dari waktu. Pekerjaan, proyek, klien—semuanya terasa lebih mendesak daripada hangatnya kebersamaan yang kian terkikis.
Tiga tahun pernikahan, tapi momen-momen kecil kebersamaan suami istri telah terabaikan.
Arvin bersandar ke kepala ranjang, menutup mata. Da-da kirinya terasa berat, bukan karena dia masih marah atas semua yang telah terjadi, tapi karena dia lelah. Lelah menunggu waktu yang tak pernah benar-benar tersedia lagi. Lelah berharap pada jeda yang selalu tertunda.
Miranda terasa semakin jauh.
Arvin lama duduk di atas ranjang, memikirkan semua hal yang makin ke sini terasa semakin tidak pada tempatnya.
Sudah pukul 06.25 ketika dia meninggalkan kamar dan berjalan ke ruang makan.
Sudah ada pelayan mereka di sana.
"Selamat pagi, Tuan. Mau sarapan apa?" tanya pelayan sopan.
Arvin menatap ruang makan kosong, seolah mewakili hatinya yang terasa kosong pagi ini.
"Saya sarapan di kantor saja," jawabnya sambil berbalik cepat.
Hatinya masih diliputi kekecewaan, dan dia tidak ingin menikmati sarapan sendirian, hanya akan membuat dirinya terlihat lebih mengenaskan.
***
Pagi di kantor berjalan seperti biasa.
Rapat. Diskusi. Strategi.
Arvin memimpin timnya membahas sidang perdana kasus besar: pelecehan seksual dan pembunuhan. Media sudah ribut, publik sudah menghakimi, tapi insting Arvin berkata lain.
“Klien kita nggak sebodoh itu,” katanya tegas. “Ada yang main di belakang.”
Setelah rapat, rekan terdekatnya menepuk bahunya. “Jangan lupa pesta besok. Jangan sampai nggak ngajak istrimu yang seksi itu, Vin.”
Arvin tersenyum miring. “Nggak tahu. Istriku sibuk.”
“Wah,” temannya terkekeh. “Bahaya itu. Tiga tahun nikah belum punya anak, malam sibuk terus.”
Arvin mengangkat bahu. “Mungkin belum rezeki.”
Hanya kalimat sederhana itu yang selalu dia gunakan sebagai pembelaan. Padahal sebenarnya, Miranda yang belum mau punya anak.
Sore itu, tanpa rencana jelas, Arvin mengemudikan mobilnya ke sebuah kafe kecil yang berada tak jauh dari kantornya.
Marigold Kafe milik Zahra.
Ia hanya ingin minum kopi. Menenangkan kepala.
Aroma kopi langsung menyergap begitu ia melangkah masuk—pahit, hangat, menenangkan. Musik akustik mengalun rendah, cukup untuk menutup kebisingan jalanan. Beberapa meja terisi, sisanya kosong. Waktu masih terlalu sore, biasanya lebih ramai menjelang malam.
Mata Arvin menyapu ruangan, lalu berhenti.
Zahra.
Perempuan itu berdiri di balik bar, mengenakan kemeja putih sederhana dan celemek cokelat tua. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Ia sedang menunduk, sedang memeriksa pesanan, ekspresinya tenang dan terlihat sangat menyukai aktivitasnya.
Saat itu Zahra mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan Arvin. Sedetik ia terkejut, lalu senyum kecil muncul—hangat, tidak berlebihan.
“Mas Arvin,” sapanya. “Sendirian?”
Arvin mengangguk. “Seperti biasa.”
Zahra tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lama. “Kopi hitam?”
“Yup! Seperti biasa juga.”
Zahra tertawa kecil, mengabaikan nada sarkastis dalam suara Arvin. Ia berjalan ke mesin pembuat kopi tanpa banyak bicara. Tidak perlu. Zahra mulai mengerti, suami sahabatnya itu sering kali bersikap begitu saat lagi ada masalah.
Arvin duduk di meja dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat aktivitas kafe—pelanggan yang mengetik di laptop, sepasang mahasiswa yang berbisik-bisik, seorang pria tua membaca koran.
Dunia berjalan normal di tempat ini.
Tidak seperti di rumahnya.
Zahra datang membawa secangkir kopi. Ia meletakkannya perlahan, lalu duduk di kursi depan Arvin.
“Mas Arvin kelihatan capek,” katanya.
Arvin mendengus kecil. “Aku selalu kelihatan capek, Za. Dan sayangnya istriku sendiri nggak peka soal itu.”
Zahra menggeleng. “Mungkin karena Mbak Miranda terlalu sibuk, Mas. Harusnya diomongin aja langsung, biar dia tahu apa yang Mas rasakan.”
Arvin mendengus pelan,nmenatap kopinya, meniup uap tipis yang naik. “Miranda ke Sorong. Kami nyaris nggak ada waktu ngobrol berdua,” keluh Arvin.
“Oh.” Zahra mengangguk pelan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada komentar. Ia takut salah berkomentar.
Arvin mulai rutin berkunjung tak lama setelah kafe ini dibuka. Baru kali ini Zahra mendengarnya mengeluh. Dia hanya tahu pernikahan Miranda sempurna, membuat orang iri, termasuk dirinya. Lalu saat ini suami yang nyaris sempurna di mata Zahra ini datang dengan keluhan.
Dan Zahra merasa tidak cukup berpengalaman untuk menanggapi terlalu jauh.
Hening sejenak.
Arvin menyeruput kopi. Rasanya pas. Tidak terlalu pahit. Tidak juga terlalu ringan. Rasa yang ia sukai.
“Kafenya mulai ramai,” kata Arvin akhirnya.
"Alhamdulillah, Mas,” jawab Zahra. “Sekarang aku buka sampai jam 10 malam, karena pengunjung paling banyak hingga jam segitu.”
“Apa nggak bikin kamu kecapean?”
“Nggak sih, timku cukup,” Zahra tersenyum. “Aku cuma… lebih tenang kalau ikut ngawasin.”
Arvin mengangguk. Ia tahu rasanya—tenang karena memegang kendali atas sesuatu, sekecil apa pun.
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Zahra berdiri sebentar, melayani pelanggan lain, lalu kembali.
“Ada apa?” tanyanya saat duduk lagi. “Biasanya Mas banyak cerita,”
Arvin tersenyum miring. “Kamu hafal kebiasaan aku?”
“Mas kan sering ke sini,” jawab Zahra santai. “Aku belajar mengenali orang.”
Arvin menatapnya. Ada garis lelah tipis di bawah mata Zahra, nyaris tak terlihat kalau tidak diperhatikan. Ia teringat perceraian Zahra—proses panjang, melelahkan, tidak adil.
“Mantan suamimu masih ke sini?” tanya Arvin pelan, mengalihkan topik.
Zahra menghela napas. “Kadang.”
“Masih bikin masalah?”
“I-iya.. Dia nggak terima,” jawab Zahra jujur. “Merasa dirugikan. Padahal dia yang minta cerai."
Arvin mengerutkan kening. “Hati-hati, Zahra.”
Zahra tersenyum kecil. “Insya Allah.”
Jawaban yang terdengar ringan, tapi Arvin tahu—perempuan ini sudah melewatibmasa-mass berat.
“Kalau perlu bantuan hukum—”
“Aku tahu,” potong Zahra lembut. “Dan terima kasih. Tapi aku nggak mau terlalu merepotkan.”
Arvin mengangguk. Ia paham perasaan itu.
Hening kembali turun. Zahra memainkan sendok kecil di atas tatakan. Arvin memperhatikan jari-jarinya—tidak ada cincin.
“Kamu kelihatan lebih tenang,” kata Arvin tiba-tiba.
Zahra mengangkat alis. “Aku?”
“Iya,” lanjut Arvin. “Padahal hidup kamu… ya, pasti nggak gampang.”
Zahra tersenyum, kali ini tanpa humor. “Tenang itu pilihan, Mas. Kalau aku terus marah, aku nggak akan bisa jalan maju, nggak bisa memperjuangkan hidupku sendiri,”
Arvin terdiam. Kalimat itu meenyentuh hatinya. Sesaat dia merasa malu karena sudah mengeluh.
“Mas Arvin sayang banget sama Mbak Miranda, ya?” ucap Zahra tiba-tiba.
Arvin menatapnya. “Kenapa kamu bilang begitu?”
“Cara Mas ngomong soal dia,” jawab Zahra. “Kelihatan banget, Mas, laki-laki yang jatuh cinta pada istrinya,"
'Semoga kelak aku juga bisa dapetin suami yang sebaik Mas Arvin.' lanjut Zahra dalam hati.
Arvin tersenyum tipis. “Iya.”
Ia memang sayang. Hanya saja… akhir-akhir ini, rasa itu terasa sepi.
Zahra berdiri saat seorang pelanggan memanggil.
“Aku harus ke dapur sebentar,” katanya. “Mas nggak apa-apa aku tinggal sebentar, kan?”
“Nggak apa-apa, tenang aja,” jawab Arvin. “Aku lagi nggak buru-buru.”
Zahra pergi.
Arvin menyesap sisa kopinya. Ia suka berbicara ngalor-ngidul sepeeti ini dengan Zahra setiap kali dia berkunjung ke sini. Tidak ada topik khusus, hanya apa yang terlintas di pikiran seperti obrolan mereka barusan.
Namun anehnya, Arvin merasa lebih tenang. Mungkin karena Zahra berbicara apa adanya.
Zahra sahabat Miranda, sebenarnya lebih dianggap sebagai adik oleh istrinya itu. Di masa lalu wanita itu pernah menolong Miranda, dan akhirnya mereka bersahabat.
Satu hal yang membuat Arvin semakin mengagumi istrinya itu. Miranda menyayangi Zahra yang anak yatim piatu dan besar di panti asuhan seperti saudaranya sendiri.
Arvin merasakan rindu pada istrinya. Dia melirik jam tangannya, sudah pukul setengah enam. Di Sorong sudah jam setengah delapan.
Arvin segera menekan nomor Miranda, mungkin dia sudah tidak terlalu sibuk.
Namun nomor ponsel istrinya tidak aktif. Arvin kecewa. Kebiasaan Miranda yang sering membuatnya jengkel, mematikan ponsel saat dia sedang sibuk.
'Masa jam segini masih sibuk juga?' gerutu Arvin dalam hati.
Sudah seharian ini tidak ada pesan dari Miranda.
Ia mengetik singkat, lalu menghapus. Mengetik lagi, menghapus lagi. Pada akhirnya, ia hanya menaruh ponsel di meja, membiarkan layar gelap.
Di kepalanya, percakapan subuh itu kembali berputar—Miranda yang terburu-buru, ciuman singkat, nama Zahra yang keluar begitu saja. Seolah solusi paling praktis untuk kekosongan yang ia rasakan.
Arvin mengusap wajah. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Ini hanya pesta. Pendamping hanya formalitas. Banyak kolega datang sendiri.
Saat Zahra kembali, Arvin memutuskan untuk tidak mengikuti saran istrinya. Tidak apa-apa kali ini dia kembali datang sendirian. Dia tidak ingin mengganggu aktivitas wanita itu, terutama di jam banyak pengunjung.
***
Pagi hari, di kafe, Zahra menata meja-meja kecil dengan teliti. Ia memindahkan vas bunga, merapikan kursi, memastikan semuanya lurus. Tangannya sibuk, pikirannya lebih sibuk.
Telepon bergetar di saku celemek.
Miranda.
Zahra berhenti sejenak sebelum mengangkat. Ia mengatur napas.
“Halo, Mbak Mir.”
“Hai, Za.” Suara Miranda terdengar ceria, sedikit terburu-buru. “Lagi sibuk?”