Bab 1

1332 Kata
Lampu kamar itu redup. Di cermin besar di salah satu dinding terpantul bayangan dua tubuh yang menyatu dan berayun. Udara di dalam kamar terasa hangat, bercampur aroma parfum lembut yang selalu membuat Arvin tergo da. "Oh... Yes! Cepat, Mas!" Racau Miranda. Rasa nikmat semakin intens dan wanita itu tak sabar untuk segera meraih kenikmatan yang sesungguhnya. "Aahh! Jangan berhenti.." Arvin tersenyum, lalu menunduk, mengecup bahu istrinya perlahan—seperti ritual yang tak pernah ia lewati. Miranda berbaring dengan mata terpejam, bibirnya sedikit terbuka, napasnya memburu, desahannya semakin kuat. Arvin mengenalnya luar-dalam. Ia tahu sentuhan seperti apa yang membuat tubuh itu melunak, tahu ritme yang membuat Miranda menyerah pada kenikmatan. Tangannya bergerak dengan sabar, penuh perhatian. Tidak terburu-buru. Tidak egois. Arvin selalu seperti itu—menempatkan Miranda sebagai yang terutama, seolah kebahagiaannya hanya sah jika istrinya telah sampai lebih dulu. Ia bergerak lebih cepat, memenuhi keinginan istrinya. Miranda mengerang pelan. Jemarinya mencengkeram seprai, punggungnya melengkung tanpa sadar. Arvin tersenyum kecil, puas melihat reaksi itu. Dadanya dipenuhi rasa bangga—ia masih bisa membuat istrinya berteriak dalam ekstasi seperti sekarang ini. Dia tahu istrinya akan segera mencapai puncak. Dia mempercepat gerakannya, menghentak kuat dan dalam, menuntun istrinya menuju kenikmatan tertinggi. Dibawahnya tubuh sintal istrinya tersentak-sentak, erangan dan desahannya tak terkendali lagi. Hingga akhirnya... “MAS ARVIN... Ouuggghh...” Miranda menjeritkan namanya, tubuhnya menggelinjang hebat. Arvin bisa merasakan detik-detik ketika tubuh Miranda mencapai puncaknya. Tubuhnya yang berkeringat bergetar hebat, napasnya tertahan, lalu ketegangan itu mengendur perlahan. Arvin bertahan di sana, menunggu sambil menikmati rasa hangat lembab yang menyelimuti dirinya di bawah sana. Ia menahan dirinya sendiri. Setelah Miranda tenang, Arvin menegakkan punggung, siap bergerak kembali. Ia ingin ikut tenggelam, ingin menyusul kenikmatan yang baru saja ia berikan pada wanita yang sangat ia cintai. Namun sebelum itu terjadi, Miranda membuka mata. Ia menarik napas panjang, mendorong da-da Arvin, lalu perlahan menjauh. Napasnya masih cepat, dadanya naik turun. Kulitnya hangat, berkilau tipis oleh keringat. Ia berguling ke sisi ranjang, lalu duduk sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka, tanda ia merasa puas. Arvin masih di tempat semula. Tubuhnya tegang. Napasnya masih memburu. Tangannya refleks bergerak, ingin meraih, ingin melanjutkan—tapi jarak sudah terlanjur tercipta. “Mas…” suara Miranda terdengar ringan, nyaris malas. “Aku capek.” Miranda berdiri, meraih jubah tipis di ujung ranjang. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seolah tak ada yang tertinggal di belakangnya. “Nanti kita lanjutin lain waktu ya,” katanya sambil tersenyum kecil. “Besok aku berangkat ke Sorong. Penerbangan pagi.” Ia melangkah menuju kamar mandi. “Kamu terusin sendiri aja,” lanjutnya santai, tanpa menoleh. “Kayak biasa.” Pintu kamar mandi tertutup. Suara kunci berputar pelan. Arvin menatap pintu itu lama. Terlalu lama. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang bukan sekadar hasrat tertahan. Ini bukan pertama kali Miranda melakukan ini. Entah yang keberapa. Dulu, Arvin mencoba menganggapnya sepele. Istri lelah. Jadwal padat. Wanita karier memang begitu, katanya pada diri sendiri. Ia menuruti permintaan Miranda—melanjutkan sendiri, menenangkan diri sendiri, pura-pura baik-baik saja. Awalnya. Namun makin lama, rasa itu berubah. Bukan lagi pengertian, tapi perasaan ditinggalkan… di saat paling rentan. Ia duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku ke lutut, menunduk. Tangannya mengepal di atas seprai yang masih hangat, masih beraroma tubuh istrinya. Ia seorang suami. Seorang pria dewasa. Bukan remaja yang disuruh menyelesaikan urusan sendiri lalu tidur. Suara air dari kamar mandi terdengar deras. Miranda bersenandung pelan—entah lagu apa. Nada suaranya ringan, seolah dunia berjalan baik-baik saja. Arvin mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Rahangnya mengeras. 'Akhirnya kita sampai di titik ini..' Dan ia justru merasa makin sendirian. Matanya kembali tertuju ke pintu kamar mandi yang tertutup, lalu menatap langit-langit kamar. Nafasnya berat, tertahan di da-da. Tubuhnya masih tegang, hasratnya belum surut, tapi yang lebih menyiksa adalah perasaan kosong yang merambat pelan. Ia menelan ludah. Aku ini siapa di hidupmu, Mir? Partner… atau sekadar jadwal yang bisa dicut kalau kamu lelah? Suara air dari kamar mandi terdengar—Miranda sedang membersihkan dirinya, seperti menutup sebuah aktivitas yang baginya sudah selesai. Arvin memejamkaan mata, berusaha menahan emosi. Egonya tergores. Ia pengacara sukses. Pria yang disegani di ruang sidang. Namanya sering muncul di media. Banyak orang menghormatinya. Banyak perempuan—ia tahu itu—yang akan memberikan perhatian penuh tanpa diminta. Tapi di rumahnya sendiri, di ranjang pernikahannya sendiri, ia merasa seperti seseorang yang harus meminta sisa. Pintu kamar mandi terbuka. Miranda keluar dengan handuk melilit tubuhnya, wajahnya segar, langkahnya ringan. Ia tak menyadari tatapan Arvin yang sarat emosi. “Kamu nggak tidur?” tanyanya sekilas sambil mengeringkan rambut. Arvin menggeleng pelan. “Kamu selalu begini, Mir,” ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, ditahan. “Datang… lalu pergi sebelum semuanya selesai.” Miranda berhenti bergerak. Ia menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mas, jangan lebay. Aku capek. Kamu tahu sendiri jadwalku padat.” “Aku juga capek,” sahut Arvin, lebih pelan. “Tapi aku nggak pernah pergi di tengah jalan.” Miranda mendengus kecil, seperti menahan kesal. “Ini soal itu lagi?” Ia berjalan ke meja rias, mulai mengoleskan skincare. “Mas, kamu terlalu sensitif.” Kata itu—sensitif—menancap dalam. Arvin tersenyum tipis, pahit. Mungkin benar. Atau mungkin… ia hanya seorang suami yang mulai merasa tidak diinginkan. Di balik pintu kamar, malam terus berjalan. Dan tanpa mereka sadari, jarak kecil yang dibiarkan itu mulai tumbuh—pelan, senyap—menjadi celah yang suatu hari akan menelan segalanya. *** Jam di nakas menunjukkan 04.18. Miranda sudah bangun. Kamar masih setengah gelap, tapi ritme langkahnya tegas dan terarah. Koper kecil tergeletak terbuka di lantai, isinya tersusun rapi—seperti hidupnya yang selalu terjadwal. Blus kerja sudah melekat di tubuhnya, rambut disanggul sederhana, wajahnya segar tanpa tanda-tanda baru terbangun dari tidur. Arvin terbangun oleh suara samar istrinya. “Mir?” gumamnya, suara masih berat. Ia membuka mata perlahan, menatap punggung istrinya yang sibuk di depan cermin. “Aku mau berangkat,” jawab Miranda tanpa menoleh. “Boarding jam setengah enam.” Arvin duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu menatap jam. “Masih jam setengah lima.” “Iya. Harus sampai bandara lebih awal.” Arvin menoleh. “Kamu langsung pulang hari ini?” Miranda berhenti sebentar, lalu mengangkat bahu. “Belum tahu. Bisa satu hari, bisa lebih.” “Ada undangan pesta besok malam,” ucap Arvin, mengabaikan kerut di wajah istrinya. Kecewa semalam belum selesai sepenuhnya, dan malah semakin menekan. Miranda menatapnya. “Pesta?" Tanyanya sambil meraih jam tangan, memakainya dengan gerakan cepat. Saat itu Arvin berdiri, melangkah mendekat. “Iya. Penting,” lanjutnya. “Mereka undang pasangan. Aku harap kita berdua bisa hadir.” Miranda terdiam beberapa detik. Wajahnya terlihat berpikir—bukan ragu, lebih ke menimbang untung rugi. “Mas, ini klien pertamaku di Papua,” katanya akhirnya. “Nilai kontraknya gede. Kalau lancar, bisa buka banyak peluang.” “Memangnya nggak bisa diterusin sama timmu?” suara Arvin naik tanpa ia sadari. “Ini bukan pertama kalinya aku datang sendiri.” Miranda menghela napas, jelas mulai jengah. “Arvin, ini karierku. Tolong mengerti,” “Aku tahu,” sahut Arvin cepat. “Tapi aku juga suamimu.” Sunyi menggantung di antara mereka. Miranda menutup koper, lalu mendekat. Ia meraih wajah Arvin, mencium pipinya singkat—terlalu singkat untuk disebut mesra. “Kalau kamu jengah datang sendiri,” katanya ringan, “ajak Zahra aja.” Nama itu keluar begitu saja. Zahra. Sahabatnya. Arvin tertegun. “Dia pasti punya waktu,” lanjut Miranda sambil mengenakan blazer. “Kafenya kan bisa ditinggal sama anak buahnya.” lanjut Miranda ringan. Seolah itu solusi paling masuk akal di dunia. “Aku berangkat dulu,” ucap Miranda. “Doain aku ya. Kalau semuanya udah beres, aku usahain pulang lebih cepat.” Dia mengecup pipi Arvin sekilas sebelum melangkah keluar. Pintu kamar tertutup. Suara koper diseret menjauh. Rumah kembali sunyi. Arvin berdiri di tempatnya, lama. Nama Zahra berputar di kepalanya, bercampur rasa asing yang sulit ia jelaskan. 'Kenapa harus nyuruh aku pergi dengan orang lain, Mir? Yang aku butuh itu kamu, istriku.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN