Zahra mematikan lampu terakhir di dalam kafe, lalu memastikan pintu sudah terkunci rapat. Bahunya terasa berat, punggungnya pegal, tetapi matanya sempat melirik papan kecil di dekat kasir yang mencatat omset hari itu. Angkanya membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Lelahnya terbayar. Ia menyampirkan tas ke bahu, menarik napas dalam, lalu melangkah keluar. Pintu kafe tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan—seolah menjadi penanda bahwa satu hari lagi berhasil ia lalui. Hari ini ia tidak membawa sepeda motor. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, dan ia merasa belum cukup kuat untuk menyetir sendiri. Jadi Zahra berjalan menyusuri sisi bangunan kafe, berniat memesan ojek daring di depan. Langkahnya terhenti. Di bangku kayu depan kafe—bangku yang biasanya dipakai pelanggan m

