Pertanyaan itu sederhana, tapi langsung menyentuh hati Arvin. Ia mengangkat wajahnya, bertemu tatap dengan mata istrinya yang menunggu jawaban. “Bukan capek,” katanya akhirnya. “Aku cuma… lagi banyak pikiran.” Miranda mengangguk pelan. “Aku juga,” ucapnya jujur. “Makanya aku pengin kita mulai lagi. Pelan-pelan.” Kata-kata itu membuat da-da Arvin terasa makin berat. Ia mengangguk, meski hatinya ragu. Miranda berdiri setelah meminum separuh tehnya. “Aku mau mandi dulu.” Arvin mengiyakan. Ia masih duduk sendiri di ruang tamu, menghabiskan teh sambil menatap layar televisi yang mati. Pikirannya kembali melayang—pada kontrakan sempit itu, pada wajah Zahra yang pucat, pada telapak tangannya yang tadi menempel di perut yang kini tak lagi hanya milik Zahra seorang. Beberapa menit kemudian,

