Bab 23

1783 Kata

Zahra baru sadar satu hal setelah hari-hari itu berjalan: diam terlalu lama ternyata melelahkan juga. Pagi-paginya kini selalu sama. Ia bangun, lalu mendapati dapurnya sudah rapi, lantai bersih, dan aroma makanan mengepul dari panci. Asisten rumah tangga yang dipesan Arvin—perempuan paruh baya bernama Bu Ratna—bekerja cekatan tanpa banyak bicara. “Mbak Zahra duduk aja, ya. Jangan kebanyakan berdiri,” katanya hampir setiap jam, seolah Zahra terbuat dari kaca. Zahra hanya bisa mengangguk, meski dalam hati ingin mengeluh. Ini kontrakannya sendiri, tapi ia seperti tamu. Pukul delapan pagi Bu Ratna datang, pukul empat sore pulang. Setelah itu, giliran perawat yang datang—memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, lalu bertanya dengan nada profesional tapi ramah. “Mualnya masih ada?” “Sedikit,”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN