Penyesalan datang terlalu terlambat, dan tak ada jalan kembali. Namun, masa lalu harus diselesaikan. Miranda langsung menghubungi Nico, meminta bertemu. Restoran kecil di sudut kota itu hampir kosong saat Miranda masuk. Nico sudah menunggu di meja pojok, senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang dulu terasa menenangkan, namun kini sangat menjijikkan. “Mir,” sapa Nico lembut. “Aku khawatir sama kamu.” Miranda duduk tanpa membalas senyum Nico. Tatapannya lurus, dingin. “Aku tahu semuanya,” katanya langsung. Nico terdiam sejenak. “Tentang Arvin?” “Bukan,” Miranda menggeleng pelan. “Tentang kamu.” Senyum Nico retak. Miranda meletakkan ponselnya di atas meja. Layar menyala, menampilkan potongan rekaman video CCTV malam pesta. Wajah Nico berubah. “Kamu yang menjebak mereka,” ucap M
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


