Di kantornya yang sibuk dengan aktivitas rutin. Miranda berdiri memunggungi ruangan, matanya terpaku pada gedung-gedung yang berdiri menjulang di sekitarnya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Zahra—wajah bersalah yang justru terasa seperti tamparan. Nico, seolah sudah mengetahui keadaannya, tahu-tahu nongol di pintu ruangannya. Dia pun mendengar semua ceritanya. Ia seperti biasanya menjadi pendengar yang baik, membuat Miranda lega, ada yang mau mendengar ceritanya tanpa banyak komentar. Nico menyembunyikan senyum manipulatifnya. Ia tahu, perempuan seperti Miranda tidak perlu disuruh marah. Ia hanya perlu diyakinkan bahwa kemarahannya pantas. “Kamu terlalu tenang,” kata Nico akhirnya, suaranya santai. “Aku sampai khawatir kamu menyimpan semua ini sendirian. Itu nggak baik buat kesehat

