Malam itu, Miranda pulang lebih larut dari biasanya. Langkah kakinya menggema di rumah mereka yang kian sepi. Lampu ruang tamu menyala otomatis, menyambut tanpa kehangatan. Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah Arvin. Tidak ada sapaan singkat yang belakangan mulai terasa hambar, namun tetap ada. Miranda menaruh tasnya dengan sedikit kasar di atas meja. Emosinya kembali bergolak. Dia berharap akan menemukan suasana rumah yang biasanya menyambutnya, Arvin yang selalu menunggunya. Sekarang rumah itu sepi. Arvin benar-benar sudah berubah. Miranda melepas sepatu dan membiarkannya tergeletak di lantai. Ia melangkah ke kamar tidur—dan terhenti di ambang pintu. Ranjang itu dingin. Seprai rapi, terlalu rapi. Tidak ada bekas tubuh lain. Tidak ada aroma sabun Arvin yang biasanya masih te

