Arvin terbangun oleh suara napas Zahra yang tidak teratur. Ia membuka mata dan langsung melihat Zahra duduk setengah bangun, satu tangan menutup mulut, wajahnya pucat. “Zahra?” panggilnya. Wanita itu menoleh, matanya berkaca-kaca. “Mas… aku mual.” Dalam hitungan detik, Arvin sudah bangkit. Tidak ada panik, hanya gerak cepat yang mengikuti naluri. “Kamu duduk, jangan buru-buru,” katanya sambil menuntun Zahra bersandar. “Aku ambilin air hangat.” Ia bergegas ke dapur, membuka lemari, menjerang air. Tangannya bergerak otomatis—jahe, madu, cangkir. Semua yang pernah ia baca, dengar, atau lihat tentang ibu hamil, tiba-tiba muncul satu per satu. Saat kembali ke kamar, Zahra masih duduk, memeluk bantal. “Coba diminum pelan-pelan,” ucap Arvin sambil menyodorkan cangkir. Zahra menurut. Setel

