Usai Sebelum Memulai
Malam itu yang terjadi lebih dari dua setengah tahun sebelumnya...
“Morning, Tuan Langit…”
Bisikan bermakna mesra itu menyusuri leher Sky. Gadis itu merapat merasakan kulit mereka saling bersentuhan tanpa penghalang apa pun, menuntut balasan dekapan yang hangat. Namun, Sky tetap menungkup memunggungi. Selimut abu-abu hanya menutupi batas pinggangnya mempertontonkan lekuk tubuh menawannya.
“Jangan mengusikku! Ini masih terlalu pagi, Lula!”
Peringatan dingin itu membuat Lula mematung, gairah penuh mesra semalam terasa kabur bagai mimpi yang berlalu membuatnya mundur perlahan. Kembali menjaga batasan.
“Sorry… kamu masih mau lanjut tidur ya?” bisiknya.
Tidak ada jawaban lagi. Akhirnya dengan napas menarik berat, Lula memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu melangkah ke kamar mandi.
Berendam adalah satu-satunya cara menyelamatkan diri dari dinginnya sikap Sky yang kembali. Tidak pernah ada pagi yang manis di apartemen penthouse ini. Hubungan tanpa nama ini hanya sebatas saling menguntungkan—memuaskan dahaga sang pria yang menyelamatkan dan menampungnya dari jalanan kota Chicago yang asing ini.
Lula kian memeluk dirinya, air hangat tak cukup membuatnya lupa akan sikap dingin Sky meski ia sudah memberikan segalanya.
Sementara itu di tempat tidur, Sky akhirnya terlentang, mendesah menatap langit-langit setelah dapati Lula menjauh, lalu melirik pintu kamar mandi yang tertutup tapi tak dikunci. Ia menyibak selimut, berjalan tanpa busana menuju kamar mandi yang sama, tapi tujuannya area shower berkaca transparan.
Lula memperhatikan setiap gerak pria itu dari balik busa bathtub. Tatapan tajam Sky dari balik kaca membuat d**a Lula berdegup kencang. Pria yang disapanya ‘Tuan Langit’ ini punya daya pikat yang terlampau berbahaya meski dengan sikap dinginnya.
“Kamu tidak mau bergabung denganku saja, berendam air hangat?” tawar Lula.
Sky mematikan shower adalah jawabannya, melangkah masuk ke dalam bathtub. Belum sempat ia bersandar sempurna, Lula sudah bergerak, berpindah ke atas pangkuannya.
Tangan Sky bertengger di pinggang ramping Lula.
“Sikap dinginmu menyebalkan, tapi entahlah... aku tidak bisa benar-benar menjaga jarak darimu—“
“Kamu sangat banyak bicara.”
Lula memberengut, “tapi kamu suka mencium bibirku, begitu kan?”
Sedetik kemudian tautan bibir tercipta, pelan namun dalam. Jemari Lula meremas rambut Sky saat bibir pria itu mulai menelusuri lehernya, meninggalkan tanda kepemilikan baru hingga desahan kembali lolos dari bibirnya.
Dari balik jendela kaca besar, cakrawala kota Chicago menjadi saksi bisu kehangatan yang tak mengenal waktu di antara mereka.
***
Saat Lula keluar dengan jubah mandi, Sky sudah rapi berpakaian. Di atas meja, makanan hangat telah tersaji.
“Lula,” panggil Sky.
Lula menoleh, “ya, Sky?”
Sky mengangsurkan sebuah amplop putih. “Ambil ini, milikmu.”
Lula mendekat, “isinya apa?” membuka isi amplop itu. Matanya berbinar melihat paspor, berkas identitas, dan sebuah tiket pesawat atas namanya. Hanya butuh sepuluh hari bagi Sky untuk mengembalikan seluruh dokumennya yang hilang. Tidak akan mudah, tapi Sky mendapatkannya.
“Seperti semua yang kamu minta,” ucap Sky datar.
“Artinya… aku harus pergi dari sini?” suara Lula menciut, menaruh harap.
“Ya. Siang ini jadwal pesawatmu. Kembalilah ke Indonesia. Mobil dan sopir sudah siap akan mengantarmu.”
Pernyataan dari Sky mematikan lilin harapan di d**a Lula. Sky bahkan sudah berbalik, sibuk dengan ponselnya, mengabaikan Lula yang berdiri membeku.
Dia akan pulang ke Indonesia, tapi mengapa dia kecewa?
“Sudah sampai detik-detik terakhir aku di sini, Sky… apa kamu tidak akan memberitahuku nama lengkapmu? Atau nomor rekeningmu, biar aku bisa mengganti semuanya atau jika mungkin lain kali, kita bisa bertemu lagi—”
“Tidak perlu melakukan apa pun.”
“Oh, aku tahu,” Lula tersenyum getir. Binarnya hilang, “yang sudah kita lakukan… kamu anggap itu sebagai bayarannya?”
Sky menatapnya tanpa ekspresi. “Mobilmu sudah siap. Kamu bisa terlambat jika tidak segera pergi.”
Lula mengepal jemarinya, “aku merasa kamu tidak ingin aku lebih lama tinggal. Baiklah...”
Beberapa menit kemudian. ia hanya mengambil tas selempang untuk menyimpan berkas-berkas penting itu, lalu siap melangkah menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia berbalik. Langkahnya lebar menerjang jarak, memeluk leher Sky, dan mendaratkan ciuman terakhir yang dalam. Sky membalasnya sesaat sembari merengkuh pinggangnya, sebelum Lula menarik diri.
“Aku akan tinggal di sini, bersamamu… jika kamu memintaku tinggal. Mencegahku pergi. Ini mungkin pengakuan gila, tapi beberapa hari bersamamu aku sudah mencintaimu!” bisik Lula.
Sky menatap mata itu dingin, lalu mendorong bahu Lula menjauh. “Aku ingin kamu pergi.”
Bukan respons ini yang Lula harapkan.
Tawa masam lolos dari bibir Lula bersamaan dengan lelehan air mata di pipinya.
“Siapa sebenarnya dirimu, Sky? Cukup sepuluh hari kamu buat aku menyerahkan diri, lalu kini kamu buang aku seperti tisu bekas?”
“Aku tidak pernah memaksamu. Kamu setuju melakukannya,” balas Sky tegas.
Lula mengangguk pelan, menyapu air matanya.
“Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi, Sky. Kalau pun ternyata semesta mempertemukan kita lagi… saat itu tiba, bukan aku yang akan mengejarmu. Tapi kamu sendiri yang akan datang padaku, memohon mengambil tempat dalam hidupku.”