Evra melangkah dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit bersama Rayn. Napas Evra memburu dengan debaran d**a yang menggila. Hanya ada satu di dalam kepala Evra saat ini, istrinya. "Ma, Pa, Ai gimana?" "Vian.." Nia memegangi tangan anaknya itu. Rayn menoleh pada Kevin, seolah bertanya apa yang terjadi. Tak lama pintu ruangan Ai dirawat terbuka. Dokter Farhan keluar dari sana. "Bagaimana istri saya dokter?" Semua orang menunggu dengan perasaan was-was. Dokter Farhan pandangi semua orang di sana. Lalu dokter yang masih cukup muda itu hembuskan napas pelan dan tersenyum. "Alhamdulillah, kondisi Ai berangsur baik. Ai sudah sadar." Rasanya seperti mendapat siraman air di tengah gurun pasir tandus. Itulah yang Evra rasakan. Rasanya seperti ikatan pada saluran pernapasannya telah dibuka.

