Evra berlari sekencang yang ia bisa menyusuri lorong rumah sakit. Tak ada hal lain yang bisa Evra pikirkan sekarang selain sang istri. Begitu sampai di UGD Evra langsung bertemu dengan sang Mama dan Papa. Air mata Evra berderai begitu sang Mama memeluknya dengan wajah bersimbah air mata. Hati Evra hancur tak berbentuk. Rasanya seperti ia jatuh ke titik paling dalam. Pintu UGD terbuka. “Pasien harus segera dioperasi..” ucap Dokter. Hanya sekilas. Dokter itu berlalu. Sang Papa mengikuti langkah si dokter untuk membahas beberapa hal. Evra mematung di tempatnya. Ia belum pernah merasa sedingin ini seumur hidupnya. Entah berapa menit berlalu saat Evra disadarkan oleh sentuhan sang Mama. Di hadapan Evra kini berdiri dua orang dokter bersama seorang suster memegang sebuah dokumen. “Moho

