88

804 Kata

Begitu Risa pergi, Kinan menutup laptopnya pelan. Napasnya terdengar berat. Suasana ruang kerja yang tadinya ramai dengan suara ketikan dan tawa kecil antar karyawan, mendadak terasa pengap. Ia bersandar di kursi, menatap ke arah jendela besar di sudut ruangan. Dari sana, langit sore tampak redup, seperti menyesuaikan suasana hatinya. Ia menunduk, memandangi brosur Trocadéro yang masih tergeletak di meja. Di sana, ada foto Menara Eiffel berpendar di bawah langit senja, indah, hangat, dan romantis. Tapi di balik senyum kecil yang tersungging di bibirnya, ada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Mas Bagas …" bisiknya pelan. Ponsel di mejanya tiba-tiba bergetar. Nama Bagas muncul di layar. Kinan langsung meraih ponsel itu dengan jantung berdegup cepat. Kinan mengusap tombol hijau dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN