75

1350 Kata

Begitu pintu lift terbuka di lobi, udara sore menyapa wajah Kinan dan Bagas. Langit di luar sudah mulai berwarna jingga keemasan, pantulan sinar mentari terakhir memantul di dinding kaca gedung tinggi tempat mereka bekerja. Kinan melangkah lebih dulu, sementara Bagas masih sempat menatap punggungnya dari belakang, lembut, sederhana, tapi selalu berhasil membuat dad4nya bergetar aneh. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran basement. Langkah Bagas terasa lebih lambat dari biasanya, seolah masih ingin memperpanjang waktu bersama Kinan. Di tangannya, kunci mobil berputar-putar tanpa arah. Begitu sampai di mobil, Bagas membuka pintu penumpang dan menunggu Kinan masuk lebih dulu. Kinan sempat tersenyum kecil, lalu duduk sambil menurunkan tas kecilnya ke pangkuan. Mobil melaju pelan keluar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN