1, Pernikahan Mendadak.
"Tuan Muda, Istri Anda Pengantin Pengganti!" Teriakan dari seorang wanita memenuhi ruangan aula pesta yang begitu mewah dan sangat meriah.
Seorang wanita mengenakan Gaun Malam berwarna hitam terpaku mendengar teriakan tersebut. Carolin, wanita cantik itu hanya bisa terpaku dan tidak bisa berkata-kata. Suaminya menatapnya penuh selidik seakan meminta penjelasan hanya melalui tatapan.
Apa benar ia hanya wanita pengganti?
Bian Regan, pria berusia 34 tahun yang merupakan salah satu konglomerat berparas tampan rupawan tampak bingung saat beberapa pria berpakaian formal serba hitam mendekati seorang wanita yang sudah 2 bulan menjadi istrinya. Tatapannya yang terlihat tenang itu sama sekali tidak memperlihatkan apakah yang ia rasakan pada saat itu.
Carolin hanya bisa pasrah pada takdirnya, bahkan untuk meminta bantuan suaminya pun – ia tidak melakukannya karena merasa sangat malu, bahkan bingung... Dalam hati, ia juga bertanya-tanya, apa Bian marah padanya? Ataukah membencinya karena ia menipu pria tersebut?
***
Dua bulan sebelumnya...
“Akan aku beri kamu uang senilai Lima Ratus Juta, kalau kamu mau menggantikan aku menikah dengan seorang pria yang di jodohkan dengan aku.” Ucapan seorang wanita membuat Carolin termangu sepenuhnya.
"Kamu serius, Livy?" tanya Carolin dengan alis sebelah kanan terangkat ke atas.
Seorang gadis berpakaian mewah tampak menatap ke arah Carolin dengan tatapan angkuh.
"Kamu kira aku tidak sanggup membayar kamu?" tanya Livy dengan suara yang terdengar sangat sombong.
Carolin tersenyum miring, ia menatap temannya itu dengan penuh arti. "Ini sebuah tantangan atau tawaran?" tanya Carolin, bukan hanya sekedar memastikan, ia juga tampak mencari tahu, apakah yang ada di dalam pikiran temannya itu.
"Keduanya, kalau dua bulan kamu sanggup menjalani semua ini – aku akan kasih bonus!" tekan Livy lagi.
"Aku akan minta uang mukanya, dan kamu bisa memberikannya sepenuhnya setelah satu bulan. Dan – berapa bonus yang akan kamu berikan padaku?" tanya Carolin. Nada suaranya terdengar seperti menantang, dan Livy sungguh sedikit kesal mendengarnya.
Suara gebrakan meja mulai terdengar, dan bebarengan dengan semua itu – gepokan uang terlihat jelas. Pada saat itu, Carolin menatap ke arah meja dengan tatapan mata berbinar.
"Woah! Kamu memang terbaik!" ujar Carolin saat melihat gepokan uang yang ada di meja. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu mencari pengganti?" tanya Carolin sembari melirik ke arah Livy.
"Aku kan sudah bilang, aku di jodohkan, dan yang lebih gilanya – pria yang hendak di nikahkan denganku sama sekali tidak mau bertemu dengan aku! Aku curiga, dia adalah pria tua bangka, berperut buncit dan jelek! Itu sebabnya aku mencari orang lain untuk menggantikan aku." balas Livy dengan suara yakin.
Carolin tidak perduli soal penampilan pria yang hendak menjadi suaminya. Ia tampak menghitung uang yang tergeletak di meja. beberapa teman Carolin tampak terdiam saat mendengar hal gila yang mereka lihat dan dengarkan.
"Carolin, kamu benar hendak menyetujui tantangan gila ini?!" ujar seorang wanita bernama Lily.
"Carolin, dia saja tidak berani mengiyakan karena tidak tahu seperti apa wujud pria itu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu yakin?" timpal Lala, adik kembar dari Lily.
"Persetan soal itu! Aku butuh uang, dan – Livy, kapan pernikahan ini diselenggarakan?" tanya Carolin.
"Besok! Akan diadakan di sebuah hotel. Pria itu tidak kunjung mau menemuiku juga, padahal sudah tinggal menghitung jam. Aku akan kirimkan alamatnya, dan kamu akan kesana, tidak akan ada acara apapun, kamu hanya perlu menunggunya di sebuah kamar hotel. Karena kata ayahku, dia akan datang malam itu juga."
Ucapan dari Livy membuat mata Carolin terbelalak sepenuhnya. Dan akhirnya, ia begitu bimbang pada saat itu. Hening seketika, Carolin sudah menerima uang itu, tapi ia merasa seperti terjebak dalam situasi sulit yang menjeratnya.
"Kau tidak bilang padaku hal ini akan aku kerjakan mulai esok?!" tanya Carolin dengan ekspresi wajah mulai tegang karena terkejut!
"Kau sudah menerima uang dan menerima tantangan ku, jadi kau tidak bisa mundur! Aku bisa saja melaporkanmu karena tuduhan perampokan buka kau memilih mundur! Dan kalau kau bisa menjalani pernikahan ini cukup lama, aku akan memberikan bonus yang aku katakan tadi." Livy tampak pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan suatu hal yang membuat Carolin kini merasa terkejut dan bingung.
"Carolin, bagaimana ini?" tanya Lily dengan suara panik.
"Apa kamu yakin akan tetap melanjutkan hal gila ini?" timpal Lala.
Carolin akhirnya mengacak rambutnya secara kasar! Ia lumayan frustasi dengan segala keputusan bodoh yang ia buat sendiri pada saat itu.
"Aagh! Aku tidak tahu lagi!" ujar Carolin pada saat itu.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan Carolin akhirnya mau tidak mau harus menuju ke sebuah hotel yang sudah dikatakan oleh temannya melalui sambungan telepon.
Jantung Carolin berdegub sangat kencang dan bahkan ia sendirierasa jantungnya hendak mau copot dari tempatnya.
Setelah menuju ke suatu tempat untuk mengambil sebuah akses masuk, ia akhirnya menuju ke sebuah kamar paling mewah di hotel tersebut.
Meskipun demikian, ia sama sekali tidak terpukau dengan kemewahan. Carolin duduk di ranjang mewah yang penuh dengan kelopak mawar merah yang sudah berhamburan di sana.
"Apa tindakanku benar? Aku rasa tidak akan ada yang akan membenarkan, tapi – aku juga butuh uang. Jual diri jaman sekarang juga tidak akan ada yang langsung berani memberi uang lima ratus juta, 'kan?" gumam Carolin sembari menatap daun pintu dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan kata-katanya sendiri.
Jari jemarinya sudah meremas gaun pengantin putih yang ia kenakan, dan waktu serasa melambat, meskipun ia sudah berada di sana di malam yang semakin larut.
Setelah menunggu lama, akhirnya pintu terbuka. Carolin menahan nafasnya saat ia melihat seorang pria gempal dan bertubuh tinggi besar tampak masuk.
Wajahnya penuh dengan jerawat, dan hal itu membuat Carolin ketakutan. "Si–siapa kamu?!" gumam Carolin dengan suara terbata-bata.
"Kenapa harus bertanya, bukankah kamu tahu aku siapa?!" tanya pria buruk rupa yang menghampirinya. Tubuh Carolin seketika menegang, dan pergerakan pria itu yang semakin mendekat ke arahnya akhirnya membuatnya naik ke atas ranjang sembari mengangkat gaunnya.
"Aagh! Pergi kau pria sialan!" teriak Carolin. Ia sungguh tak menyangka bahwa orang yang katanya berstatus sebagai suaminya adalah pria buruk rupa!
Pria yang melihat wanita cantik mengenakan gaun pengantin itu akhirnya tidak bisa menahan diri! Ia hendak melakukan hal buruk pada wanita itu namun... Sesuatu melayang ke punggungnya dengan sangat kasar dan membuat pria gempal itu tersungkur ke ranjang.
Carolin akhirnya menatap ke arah seseorang yang ada di belakang pria yang hendak melakukan hal buruk padanya, tapi seketika – ia tercengang sepenuhnya!