Malam itu, Saina memutuskan untuk pergi ke rumah untuk menemui adiknya, ia butuh dukungan dari adiknya mengenai masalah rumah tangganya. Berulang kali ia mengetuk pintu rumah adiknya dengan berurai air mata hingga akhirnya adiknya membukakan pintu dan terkejut melihat keadaannya. "Tamara." "Hiks, hiks." Saina langsung memeluk erat adiknya, menumpahkan air matanya di pundak adiknya, sekarang ia butuh pelukan hangat yang memberinya kekuatan untuk menjalani ujian terberat semasa hidupnya ini. Tamara sendiri memutuskan tidak bertanya dulu karena ia tahu kondisi kakaknya sedang tidak baik untuk ditanya, ia pun menuntun kakaknya masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu lalu duduk berdampingan bersama kakaknya. Ia tak tahu kakaknya mengalami masalah apa sampai menangis seperti ini, tapi ia

