"Iya, Ale? Kamu di mana? Gimana Paman sekarang?" "Aku di rumah sakit! Paman nanyain Kak Dita tadi. Sekarang pingsan lagi. Kritis." Dita tak sanggup mendengar kalimat demi kalimat yang Ale katakan. Rasanya seperti ada banyak jarum yang menghunjam ke dadanya. Terlalu sakit. "Lepas cincinnya di depan rumahmu. Hanya itu satu-satunya cara. Mahluk itu akan mengikuti ke mana pun kamu pergi. Maka, di depan rumah itu, di depan mahluk itu, kamu harus melepaskannya." Dita terdiam sebentar. Ia ingin segera pulang ke Lampung dan melihat bagaimana kondisi sang paman. Akan tetapi, ini juga tak kalah penting. "Aku tidak ingin kehilangan paman." "Iya. Maka lakukan." "Tapi, kenapa kamu yakin soal ini? Aji benar-benar mengatakan hal ini, kan?" Si tetangga aneh tersenyum kecut. "Kalau kamu penasaran,