Paman Dita tahu semuanya. Ia sangat tahu seluk beluk tentang rumah yang diwariskan kepada Dita. Maka dari itu, sejak awal, pamannya memberi Dita peringatan. Gadis itu cukup bebal, tapi pamannya tak pernah menyerah untuk selalu memperingatkan gadis itu. *** "Ya, ini rumah peninggalan kakekmu." Ucapan pamannya semakin membuat semangat Dita surut. "Lokasinya cukup terpencil, apa jika rumah ini dijual, akan cepat laku?" "Dijual? Kamu ke sini dengan tujuan itu?" Dita mengangguk. "Iya, Paman. Aku kan lagi butuh uang." "Tapi, menurut Paman, sebaiknya tidak dijual. Biarkan saja." "Ha? Dibiarkan? Dibiarkan bagaimana?" "Ya, biarkan saja. Lihat saja, Ta. Memangnya, rumah ini bisa laku?" "Ah, pokoknya aku akan jual. Laku gak laku, itu urusan belakangan. Jaman sekarang, apa-apa itu pasti la