Devi sudah kembali ke kantornya setelah pertemuan dengan Devon tadi. Berjalan gontai menuju ruang kerjanya. Pikiran nya menerawang, terngiang kembali akan apa yang tadi Devon sampaikan. Perlukah ia percaya dengan semua yang Devon katakan. Rasanya cukup sulit dipercaya jika memang Denzel telah benar - benar merelakan Devon. Seharusnya ia senang, akan tetapi ketakutan masih menderanya. Mendaratkan tubuhnya di kursi kerja lalu menghela nafasnya berat. Satu tangan memijit pelipisnya. Ia terjengit kaget dengan kehadiran Lia yang kini sudah duduk di hadapan nya. Wajah wanita itu menelisik. "Kenapa kau tampak semakin menyedihkan. Adakah yang ingin kau ceritakan padaku?" Devi tersenyum lalu menatap Lia teduh. Sebenarnya ia ingin bercerita tapi tidak tahu harus dimulai dari mana. "Sebenarn

