bc

Papa Dadakan Untuk Bu Dokter

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
brave
drama
sweet
bxg
soldier
office/work place
war
like
intro-logo
Uraian

"Dia cuma meminjam peran jadi Papa, tapi malah berakhir meminjam hati."

Kiara, dokter anak yang terkenal galak, menganggap Dirga, seorang pilot tempur angkuh, adalah ayah yang lalai. Padahal, Dirga hanya terjebak merawat putri komandannya. Sialnya, perjodohan keluarga memaksa mereka terus bersama, mengungkap sisi bapakable Dirga yang perlahan meluluhkan hati Kiara.

Namun, di tengah benih cinta yang tumbuh, sebuah misi berbahaya mengubah segalanya. Saat trauma perang merenggut separuh jiwa Dirga, mampukah Kiara menjadi satu-satunya tempat pria itu untuk pulang?

Ketika cinta diuji luka, akankah mereka tetap menjadi landasan bagi satu sama lain?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
​”Dok ... anaknya menggigil!” ​Suara parau dan penuh kepanikan itu memecah riuh Instalasi Gawat Darurat RS Bhakti Medika. Pintu otomatis terbuka lebar, membiarkan angin malam yang dingin bersama tempias hujan menyusup masuk ke dalam ruangan yang hangat. ​Seorang pria bertubuh tinggi dengan seragam penerbang berwarna hijau zaitun menerobos masuk. Ia mendekap erat seorang balita perempuan yang tubuhnya tampak meringkuk kedinginan dalam pelukannya. ​Rambut pria itu basah kuyup. Air hujan terus menetes dari ujung lengan seragam hingga membentuk genangan kecil yang berpendar di bawah lampu neon lantai rumah sakit. ​”Napasnya cepat sekali,” ucap pria itu dengan napas yang masih tersengal. ​Perawat jaga yang sedang memegang berkas langsung berlari menghampiri dengan sigap. Insting medis mereka menyala saat melihat kondisi pasien kecil itu. ​”Dokter Kia!” ​Di sudut ruangan, Kiara Anastasia baru saja melepas sarung tangan karet setelah menangani pasien terakhir pada shift malamnya yang panjang. Punggungnya terasa kaku seperti kayu, dan kepalanya berdenyut sejak satu jam lalu. ​Ia bahkan belum sempat menyesap kopinya yang sudah dingin di meja kerja. Mendengar seruan itu, langkahnya segera berbalik menuju brankar dengan tatapan yang berubah siaga dan tajam. ​Begitu melihat balita yang gemetar hebat dengan pakaian yang masih basah, dahi Kiara langsung berkerut dalam. Ia merasakan sensasi tidak nyaman melihat seorang anak berada dalam kondisi separah itu. ​”Berapa usianya?” tanya Kiara sambil menarik kursi. ​”Empat tahun, Dok,” jawab perawat yang sudah menyiapkan peralatan medis. ​Kiara segera menempelkan punggung tangannya ke dahi si kecil. Panasnya terasa menyengat kulit. Suhu tubuh anak ini jelas berada jauh di atas ambang batas normal. ​”Siapkan selimut hangat sekarang. Ganti bajunya dengan yang kering. Pasang termometer segera,” instruksi Kiara dengan nada yang tidak menerima penolakan. ​Beberapa perawat bergerak cepat mengikuti komandonya. Balita kecil itu membuka mata perlahan sembari menatap sekeliling dengan pandangan sayu yang menyayat hati. ​”Tante ...” bisik si kecil dengan suara yang begitu lemah. ​Kiara segera tersenyum lembut meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran mendalam. “Halo, Sayang. Nama kamu siapa, hm?” ​”Alika ...” ​”Anak pintar.” ​Kiara mengusap pelan rambut Alika yang masih basah sebelum kembali fokus pada kondisi fisik pasiennya. Tatapannya kemudian beralih kepada pria yang berdiri kaku di samping tempat tidur. ​Seragam penerbang yang penuh lumpur. Sepatu bot yang kotor. Wajah tampan yang kini tampak pucat karena lelah. Semua detail itu langsung kalah penting dibanding satu fakta yang memicu kemarahan Kiara. ​Pria itu membiarkan anak sekecil ini kehujanan tanpa perlindungan yang layak. ​”Kamu ayahnya?” tanya Kiara dengan nada yang menusuk. ​Pria itu membuka mulut untuk menjawab. “Saya ...” ​Belum sempat kalimatnya tersusun di bibir, Kiara sudah memotong lebih dulu. “Bagaimana bisa anak demam dibawa hujan-hujanan seperti ini ke rumah sakit?” ​Pria itu terdiam rapat. Matanya menatap datar ke arah dokter di depannya. ​”Kamu lihat bajunya? Basah semua. Ini sangat berbahaya!” cecar Kiara tanpa memberi celah. ​Kiara membantu perawat membuka jaket kecil yang dikenakan Alika dengan gerakan yang sangat hati-hati. Kulit mungil itu terasa dingin saat tersentuh jemarinya. Rahang Kiara mengeras karena menahan amarah yang meluap. ​”Sudah tahu cuaca sedang buruk, kenapa masih saja dibawa keluar rumah?” ​Pria itu menarik napas panjang. “Sebenarnya saya ...” ​”Kamu tahu tidak anak seusia ini suhu tubuhnya lebih cepat turun dibanding orang dewasa?” ​Nada suara Kiara meninggi hingga mengundang perhatian. Beberapa keluarga pasien di dekat ruang observasi mulai melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran. ​Pria berseragam itu tetap berdiri tegak. Wajahnya berusaha tetap tenang, meski kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh seragamnya. ​”Saya hanya ingin—” ​”Kalau memang sibuk bekerja, bukan berarti kesehatan anak boleh diabaikan begitu saja.” ​Kalimat itu memutus penjelasan pria tersebut secara sepihak. Perawat Laras yang sejak tadi membantu hanya bisa saling pandang dengan rekannya. Dokter Kia memang sulit dihentikan jika sudah mulai mengomel soal kesehatan anak. ​Alika tiba-tiba menarik ujung lengan jas putih Kiara dengan tenaga yang tersisa. “Tante ...” ​”Iya, Sayang?” ​”Papa jangan dimarahin ...” ​Kiara menoleh, sedikit terkejut mendengar permintaan itu. “Papa?” ​Alika mengangguk pelan. “Iya ...” ​Kiara mengira anak itu sedang mengigau karena efek demam tinggi yang menyerang otaknya. Ia kembali fokus memeriksa irama napas Alika yang masih tidak beraturan. ​”Tarik napas yang dalam, ya.” ​Alika menurut dengan susah payah. Suara napasnya masih terdengar kasar dan berat. Kiara mengambil stetoskop, lalu menempelkannya ke d**a pasien kecil itu dengan sangat perlahan. ​Dadanya terasa sesak melihat kondisi balita yang tak berdaya itu. Pemandangan ini selalu membuat hatinya tidak karuan. ​”Sudah berapa hari demam?” tanya Kiara tanpa mengalihkan pandangan dari stetoskop. ​Pria itu akhirnya mendapat kesempatan bicara. “Baru sore ini.” ​”Makan?” ​”Tadi siang masih.” ​”Minum?” ​”Masih mau.” ​”Kenapa baru dibawa sekarang?” Pertanyaan itu kembali menghujam dengan nada tajam. ​Pria tersebut menatap Alika sesaat sebelum menjawab dengan datar. “Tadi saya sedang di perjalanan.” ​Kiara menggeleng pelan dengan tatapan menghakimi yang tidak ia sembunyikan. “Tidak ada alasan yang lebih penting daripada membawa anak sakit ke rumah sakit.” ​Ucapan itu terdengar sangat mantap. Pria itu memilih diam kembali. Penjelasan akan membuat situasi semakin rumit. Ia sudah berjanji pada komandannya untuk menjaga rahasia ini dengan nyawanya. Selama Mayor Aditya belum kembali dari penugasan, identitas Alika harus tetap aman, termasuk siapa ayah kandung anak itu. ​”Ayah ...” Alika memanggil lirih. ​Pria itu spontan menggenggam tangan kecilnya. “Iya.” ​”Aku dingin ...” ​”Nanti juga hangat.” ​Kiara sempat memperhatikan cara pria itu mengusap kepala Alika. Gerakannya canggung, seolah belum terbiasa mengurus anak kecil. Penilaian buruk Kiara terhadap pria ini semakin bertambah. Apakah pria ini baru belajar jadi ayah atau memang terlalu sibuk sampai tidak paham cara merawat anak? ​”Dok,” panggil seorang perawat sembari menyerahkan hasil pemeriksaan. “Suhu tubuhnya tiga puluh sembilan koma tiga.” ​Kiara menghela napas. “Oke. Siapkan obat penurun panas. Observasi dulu kondisi napasnya.” ​Perawat mengangguk. Kiara kembali menghadap pria di depannya. ​”Kapan terakhir kali anak ini minum obat?” ​”Sore tadi.” ​”Obat apa?” ​Pria itu menyebutkan nama obat dengan benar. Jawabannya singkat dan tepat. Kiara sedikit heran, setidaknya pria ini tahu apa yang diberikan pada anaknya. Meski begitu, rasa kesalnya belum juga reda. Di matanya, hasil akhirnya tetap sama. Alika masuk ke IGD dalam keadaan menggigil hebat. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa pria ini gagal menjaga anaknya. ​Beberapa menit berlalu, kondisi Alika mulai sedikit membaik setelah tubuhnya diselimuti kain hangat. Matanya perlahan terpejam lelap. Kiara mengembuskan napas lega. Ia mencatat hasil pemeriksaan ke dalam rekam medis dengan ritme yang stabil. ​Saat menoleh lagi, pria berseragam itu masih berdiri tegak di tempat semula. Basah, diam, dan tidak banyak bergerak meski air hujan menetes dari seragamnya. ​”Kenapa masih di sini?” tanya Kiara dingin. ​Pria itu mengangkat kepala. “Saya ingin menemani.” ​”Kami sedang bekerja.” ​”Saya hanya ...” ​Kiara memotong lagi dengan cepat. “Silakan tunggu di luar.” ​”Saya harus memastikan—” ​”Kondisi anak ini jauh lebih penting daripada perdebatan kita.” ​Nada suara Kiara kini terdengar sangat tegas. “Saya tidak bisa bekerja kalau terus ada orang yang menghalangi prosedur medis.” ​Ruangan mendadak sunyi. Pria itu memandang Alika beberapa detik, lalu menatap dokter yang sejak tadi memarahinya tanpa memberi celah sedikit pun. Rahangnya mengeras. Banyak kalimat memenuhi kepalanya, namun tidak satu pun keluar dari bibirnya. Ia akhirnya melangkah mundur. ​Pintu ruang tindakan tertutup perlahan di hadapannya. Kiara sudah kembali fokus menangani pasiennya dengan perasaan yang masih campur aduk. ​Sementara pria berseragam penerbang itu hanya berdiri mematung di balik pintu kaca. Ia membiarkan hujan terus turun di luar rumah sakit sementara tubuhnya mulai menggigil. ​Belum pernah seumur hidupnya ia dibungkam sedemikian rupa oleh seseorang. Padahal, perempuan itu bahkan belum mengetahui satu pun kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya. ​Dirga mengusap wajahnya yang basah. Ia harus bersabar. Jika ia marah sekarang, ia justru akan merusak skenario yang telah disusun oleh komandannya. ​Ia memejamkan mata sejenak di depan pintu IGD yang tertutup rapat. Keheningan koridor rumah sakit ini jauh lebih mencekam daripada turbulensi di udara. ​Apa yang akan terjadi besok? ​Ia tidak tahu. ​Yang ia tahu, Dokter Kiara adalah rintangan baru dalam tugas penyamarannya yang paling menyebalkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
747.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
980.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
360.7K
bc

Not just, the Beta

read
348.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook