BAB 3

1385 Kata
​”Alika Anastasia ...” ​Suster Laras baru saja menyelesaikan satu nama sebelum buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, maaf. Maksud saya, Alika Aditya.” ​Alika yang sedari tadi duduk di kursi ruang tunggu langsung mengangkat tangan kecilnya tinggi-tinggi. “Aku di sini, Sus!” ​Dirga menoleh sambil menahan senyum tipis. Gadis kecil itu memang tidak pernah kehabisan energi. Demamnya sudah turun sejak dua hari lalu, pipinya kembali merona, bahkan sejak berangkat dari pangkalan ia tidak berhenti bercerita tentang boneka kelinci kesayangannya bernama Bunga. ​”Ayo, Papa.” Alika menarik tangan Dirga dengan antusias. ​”Pelan-pelan, Alika.” ​Dirga mempercepat langkahnya. Tangan kirinya sigap meraih bahu Alika sebelum anak itu menabrak troli obat yang sedang didorong oleh seorang perawat dengan terburu-buru. ​”Terima kasih, Papa.” ​”Iya, sama-sama.” ​Begitu pintu ruang praktik terbuka, Kiara sedang asyik menulis rekam medis pasien sebelumnya. Tanpa mengangkat kepala, ia memberi instruksi dengan nada datar. “Silakan duduk.” ​Dirga menarik kursi untuk Alika agar anak itu bisa duduk dengan nyaman. “Selamat pagi, Dok.” ​”Selamat pagi.” ​Kiara baru mendongak beberapa detik kemudian. Tatapannya berhenti tepat di wajah Dirga. “Oh.” ​Hanya satu kata. Singkat, padat, dan cukup membuat Dirga sadar bahwa dokter itu masih sangat mengingat insiden memalukan di IGD beberapa hari lalu. ​”Kontrol demam?” tanya Kiara tanpa basa-basi. ​”Iya, Dok.” ​Kiara mengalihkan pandangan kepada Alika, kali ini dengan senyum yang jauh lebih manis. “Halo, Alika. Bagaimana perasaanmu hari ini? Sudah lebih enakan?” ​”Iya, Tante Dokter.” ​”Masih pusing tidak?” ​Alika menggeleng pelan. “Tidak.” ​”Masih batuk?” ​”Sedikit saja.” ​”Bagus, itu perkembangan yang sangat baik.” Kiara mengusap pelan rambut Alika sebelum memasang termometer untuk memeriksa suhu tubuhnya. “Tiga puluh enam koma delapan. Sudah normal.” ​Dirga mengembuskan napas lega. Setidaknya satu beban besar di pundaknya sudah berkurang. Kiara lalu memasang stetoskop di telinganya. “Coba tarik napas yang dalam, ya.” ​Alika mengikuti instruksinya dengan patuh. “Napasnya sudah bersih. Tidak ada bunyi lagi.” ​Pemeriksaan berlangsung sangat lancar. Dirga sempat berpikir kunjungan hari ini akan jauh lebih tenang dibanding pertemuan pertama mereka. Ternyata, ia terlalu cepat menyimpulkan. Kiara menutup map rekam medis, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Dirga. ​”Sekarang saya mau tanya beberapa hal terkait pola asuh Bapak,” ujar Kiara tajam. ​”Silakan, Dok.” ​”Alika sarapan apa tadi pagi?” ​Dirga terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat. Tadi pagi, saat ia sibuk dengan urusan pangkalan, Alika makan apa? Roti? Atau bubur? ​Sebelum ia berhasil menyusun jawaban yang meyakinkan, Alika sudah lebih dulu memotong dengan polos. “Aku makan telur!” ​Dirga langsung mengangguk cepat. “Iya, benar. Telur.” ​Kiara melirik Dirga sekilas dengan tatapan curiga. “Dengan apa telur itu dimasak?” ​Dirga kembali membeku. Alika menoleh ke arahnya dengan tatapan polos. “Sama nasi!” ​”Minumnya?” tanya Kiara lagi. ​Dirga sempat membuka mulut, namun ia ragu. “Air ...” ​”s**u cokelat!” seru Alika riang. ​Ruangan mendadak sunyi. Kiara perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan yang berpindah dari Alika kepada Dirga. Tatapan itu masih sama seperti beberapa hari lalu: dingin dan tajam. Dirga yang biasa menghadapi tekanan saat briefing operasi udara justru merasa lebih tertekan berada di depan meja dokter anak ini. ​”Jadi, sebagai Papa, Bapak tidak tahu anak ini makan apa saja pagi ini?” ​Dirga berdeham pelan, mencoba mencari alasan yang masuk akal. “Tadi pagi saya sedang menerima telepon penting dari pangkalan.” ​”Berapa lama?” ​”Hanya beberapa menit, Dok.” ​”Selama itu juga Bapak tidak memperhatikan menu sarapannya?” ​Dirga memilih diam. Penjelasan apa pun saat ini akan terdengar seperti pembelaan diri yang lemah. Alika ikut menoleh ke arah Dirga, mencoba membela. “Papa tadi sibuk.” ​Kiara menarik napas panjang. Ia tidak berniat mempermalukan pria itu, namun baginya pola makan anak sama pentingnya dengan obat yang diminum. Kalau pengasuhnya saja tidak tahu isi piring anaknya, bagaimana mungkin ia bisa memantau kesehatan anak itu secara serius? ​”Baik,” sahut Kiara sambil mengambil pulpen. “Saya lanjut pertanyaannya.” ​”Silakan, Dok.” ​”Alika makan buah setiap hari?” ​Dirga kembali menatap Alika. Alika ikut menatap balik dengan mata besarnya. Keduanya sama-sama menunggu jawaban yang tepat, namun Dirga tidak menemukannya. ​Kiara memijat pelipisnya pelan. “Kalau sayur?” ​Dirga mengembuskan napas panjang. “Saya kurang tahu pasti.” ​”Jam tidurnya?” ​Dirga terdiam. ​”Minum air putih berapa gelas?” ​Dirga tetap diam. ​”Alika susah makan atau tidak?” ​Semakin banyak pertanyaan yang keluar, semakin pendek jawaban Dirga, atau bahkan tidak ada jawaban sama sekali. Untungnya, Alika beberapa kali membantu menjelaskan dengan kejujurannya yang polos. ​”Papa suka nyuruh aku habisin makan,” ujar Alika. ​”Papa juga bilang sayur bikin aku kuat,” lanjutnya lagi. ​”Kalau aku tidak mau minum, Papa ambilin botolnya.” ​Kiara mencatat semua penjelasan Alika. Sedikit demi sedikit, penilaiannya mulai berubah. Pria ini memang tidak hafal detail kebiasaan Alika, namun dari jawaban sang anak, ia bisa melihat bahwa pria ini benar-benar berusaha mengurus anak itu. Hanya saja, gayanya masih sangat kaku. Sangat, sangat kaku. ​Kiara menutup map rekam medis dengan dentuman pelan. “Saya paham sekarang.” ​Dirga mengangkat kepala, menunggu vonis dokter itu. ​”Kalau Bapak memang baru belajar mengurus anak, itu tidak masalah.” ​Dirga hampir refleks meluruskan kesalahpahaman bahwa ia bukanlah ayah kandung Alika, namun kalimat itu tertahan di ujung lidah saat Kiara kembali berbicara. ​”Yang penting ada kemauan untuk belajar.” ​Dirga mengurungkan niatnya lagi. Rasanya percuma. Dokter ini selalu lebih cepat dalam menyimpulkan sesuatu. Kiara membuka laci meja dan mengambil selembar kertas kosong, lalu mulai menulis sesuatu dengan rapi. ​Sarapan. Camilan pagi. Makan siang. Buah. s**u. Makan malam. Jam tidur. Minum air putih. ​Semuanya disusun lengkap, bahkan disertai contoh menu sederhana yang mudah diikuti. Alika berdiri dari kursinya dan mencoba mengintip kertas itu. “Wah, banyak sekali tulisannya!” ​Kiara tersenyum manis. “Supaya Alika cepat besar dan kuat.” ​”Asyik!” ​Beberapa menit kemudian, kertas itu diserahkan kepada Dirga. Dirga menerimanya dengan tangan gemetar. Matanya bergerak dari baris pertama sampai terakhir. Ada jam, ada menu, ada jumlah air minum, bahkan catatan kecil tentang waktu tidur. ​Ia membalik kertas itu, masih ada lanjutan instruksi. Dirga berkedip pelan. Entah kenapa, lembaran panduan makan ini terasa jauh lebih rumit daripada lembar koordinat navigasi penerbangan yang biasa ia pegang. ​”Kalau ada yang kurang jelas, silakan ditanyakan sekarang,” ucap Kiara tenang. ​Dirga kembali membaca jadwal tersebut. Pukul 06.30. 09.00. 12.00. 15.00. 18.00. 20.00. Semuanya tersusun sangat rinci. Dalam benaknya, jadwal makan itu berubah menjadi urutan prosedur operasi militer yang tidak boleh meleset sedetik pun. ​”Dok.” ​”Iya?” ​”Semuanya harus diikuti dengan tepat?” ​Kiara mengangguk mantap. “Iya, tentu saja.” ​”Tidak boleh ada yang terlewat?” ​”Kalau bisa, jangan ada yang terlewat.” ​Dirga menatap kembali lembar itu. Ia pernah menerima peta misi lengkap dengan titik koordinat dan jalur evakuasi. Anehnya, daftar menu makan seorang anak justru membuatnya jauh lebih gugup. ​Kiara memperhatikan wajah serius pria di depannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis. ​”Papa tenang saja.” ​Dirga mendongak. ​”Ini bukan ujian militer,” lanjut Kiara jenaka. ​”Baik, Dok.” ​”Selama Alika sehat dan ceria, berarti Papa sudah menjalankannya dengan benar.” ​Dirga mengangguk pelan sambil melipat kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang menyimpan dokumen rahasia negara yang tidak boleh rusak sedikit pun. ​Saat keluar dari ruang praktik, pandangannya kembali jatuh pada jadwal makan di tangannya. Ia mengembuskan napas panjang. Mendadak ia merasa sedang membawa instruksi misi rahasia yang wajib dijalankan tanpa satu kesalahan pun demi kelancaran operasional hidupnya sebagai “Papa” bagi Alika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN