Diratukan Tapi ...
"Emir, pulanglah. Kanza ... sedang tidak di rumah."
Ziva hendak menutup pintu dengan tangan yang sedikit gemetar, tapi sayangnya kaki Emir lebih cepat menahan di bawah pintu.
Dengan gerakan cepat, Emir lalu mendorong tubuh Ziva sembari menutup kasar pintu yang terbuat dari kayu mahogani itu. Kedua tangan kekar Emir kini sudah ditempelkan ke tembok dan tubuhnya menekan tubuh seksi Ziva.
"Em ... apa yang—"
"Aku tidak kemari untuk Kanza karena aku tidak pernah mendatangi rumah murid tanpa perjanjian."
Ziva menelan ludah gugup seraya mata bulatnya menatap mata dosen tampan yang jarak wajahnya hanya beberapa inci saja. "Em ... ini salah. Aku ingin ... mengakhirinya. Aku sadar ... aku sudah bersuami dan kita—"
CUP!
Emir melayangkan kecupan berani untuk pertama kalinya di mansion Ziva seolah pertanda menolak pernyataan sang puan.
Ziva yang memang sudah dimabuk oleh pesona sang dosen terkenal dingin dan badboy kini tak dapat berkutik. Belah ranumnya turut melum*t rakus bibir Emir.
***
"Ah .... lebih cepat, Toni," lenguh Ziva nikmat saat suaminya melakukan aksi menggenjot terhadap tubuh seksi itu di posisi atas.
"Maaf, Sayang. Aku sudah mau keluar," seru Toni terdengar kepayahan sembari memejam mata dengan mulut terbuka.
Seriously, lagi-lagi begini? Ergh! batin Ziva mendadak kecewa berat.
Tak lama kemudian, Toni mencapai klimaks, tapi, di saat bersamaan rasa tidak puas memenuhi relung wanita cantik berparas khas timur tengah itu.
Erg, sial sekali kehidupan s*x-ku!
Seperti biasa, Ziva hanya bisa merutuk pasrah, kecewa karena hasrat liarnya tak tersalurkan secara sempurna.
Namun, wanita yang kerap dipanggil Zee itu kembali tersadar akan resiko menikah dengan pria tua yang umurnya hampir mencapai setengah abad.
Beberapa hari kemudian.
Ziva kini sedang menunggu dengan harap cemas sembari termenung.
"Tolong, jangan positif, tolong jangan positif," gumam sang wanita cantik sesaat setelah menaruh sebuah test pack kehamilan yang baru saja selesai diuji coba pada urinnya.
Ziva Anderson, wanita berusia dua puluh dua tahun dengan senyuman semanis gula dan mata yang berkilau tengah larut menatap ke arah jendela kamar tidur yang menghadap langsung ke taman bunga mawar. Satu tahun sudah berlalu sejak ia menikah dengan Toni Anderson, pria paruh baya berusia empat puluh tujuh tahun yang telah memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya.
Toni sendiri merupakan konglomerat sukses dengan kepribadian penyayang, kerap memanjakan Ziva dengan harta melimpah. Namun, dibalik senyum dan kebahagiaan yang terlihat, Ziva sering kali merenungkan pilihan hidupnya. Apakah menikah dengan pria berselisih dua puluh tahun lebih benar-benar keinginannya?
Ziva seketika teringat akan hari ketika orang tuanya memperkenalkannya kepada Toni, duda uzur beranak dua. Ayahnya, seorang pengusaha toko kelontong kecil, berharap perjodohan ini akan membawa keuntungan finansial, mengangkat derajat keluarga dari jurang kemiskinan. Ziva pun merasa terjebak dalam keinginan orang tuanya. Ia tidak memiliki pilihan selain menerima lamaran Toni.
Saat ini, Ziva merasa hidupnya terlalu monoton. Ia hanya menghabiskan hari-harinya sebagai ibu rumah tangga, mengurus keperluan rumah, dan merawat anak-anak Toni dari pernikahan sebelumnya.
Meskipun Toni selalu menyayangi dan memanjakannya dengan segala fasilitas mewah dambaan seluruh kaum hawa, Ziva tidak bisa menyangkal perasaan pilu yang kerap menghantui benak. Masa muda yang seharusnya dipenuhi dengan kebebasan dan petualangan, kini terasa terkurung dalam rutinitas yang monoton.
"Apakah ini benar-benar hidup yang kuinginkan?" tanya Ziva pada diri sendiri sembari menatap bunga mawar merah yang bermekaran di taman.
Tak lama, Ziva terkesiap dari lamunan ketika ia mendengar suara notifikasi alarm dari ponsel. Jarinya segera menggeser tombol off dan mulai memeriksa hasil test pack setelah dua menit berlalu. Diiringi jantung yang berdebar lebih cepat, Ziva menyipitkan matanya, perlahan membalik hasil test benda pipih tipis tersebut yang ternyata hasilnya di luar dugaan.
"Oh, My God!"
Ziva lantas menghela napas panjang nan melegakan saat melihat hasil 1 garis saja. Nyatanya, ia belum siap memiliki anak sekarang. Kehidupan rumah tangganya yang nyaman dan tenang bersama Toni terasa cukup untuknya. Entah mengapa, Ziva tidak ingin kebahagiaannya terganggu oleh kehadiran seorang bayi.
DRRRT!
Tak lama, ponselnya bergetar hebat. Nama "Ibu" terpampang di layar. Ziva lantas menjawab panggilan tersebut.
"Ibu, apa kabar?" Ziva bertanya cukup antusias.
"Kabar baik, Nak. Aku sedang menikmati liburan di Maldives. Terima kasih atas uang yang kau kirim," balas Zahwa dengan nada bahagia.
"Ah itu uang Toni, Bu. Berterima kasihlah padanya."
" Sama saja, Nak. Menantu sangat baik dan dia pun menyayangimu. Jagalah keluarga kalian," pesan Zahwa menasehati.
Tak ingin berlarut membahas pernikahannya, Ziva pun mengalihkan topik.
"Apa yang sedang Ibu lakukan?" tanya Ziva penasaran.
"Aku dan ayahmu sedang berjalan-jalan di sepanjang pantai sebening kaca. Indah sekali!" seru Zahwa antusias yang entah mengapa seketika membuat iri benak Ziva. "Oh iya. Aku terus memikirkan kau dan Toni. Kira-kira, kapan kau akan hamil, Nak?" tanya Zahwa malah semakin jauh membahas keturunan.
Ziva lantas tersenyum getir dan berbohong, "Keturunan bukanlah kami yang menentukan, Bu. Tapi aku dan Toni tidak melakukan upaya untuk mencegahnya."
Apa yang dikatakan merupakan sebuah fakta. Selama menjalani satu tahun menikah, Ziva dan Toni memang melakukan hubungan badan selayaknya pasangan suami istri normal. Meski tak terlalu rutin karena keterbatasan stamina Toni dan durasi waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk bekerja, akan tetapi keduanya tak pernah melakukan upaya pencegahan memilki keturunan. Ziva terkadang bertanya-tanya dalam benak, apa hormon miliknya subur atau tidak? Atau mungkin hormon milik Toni yang bermasalah. Yang jelas, setiap periode tertentu, Ziva kerap menguji urinnya.
Tak lama, Ziva mengakhiri panggilan dengan ibunya dan berlalu menuju ruang makan untuk sarapan.
Dua anak sambungnya, Kanza dan Leon sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Kanza, gadis berusia 19 tahun merupakan sosok remaja dewasa yang cantik dengan rambut hitam panjang lurus selalu melayangkan tatapan sinis pada Ziva seperti biasa.
"Selamat pagi, Ibu Tiri," sapa Kanza dengan nada menyindir.