Mantan Suami Sialan
Aku baru sampai hotel setelah perjalanan hampir lima jam. Punggungku pegal, kepala agak berat, dan mood-ku benar-benar tipis setipis tisu dibelah tujuh. Kalau bukan karena proyek penting dari kantor, aku jelas lebih memilih rebahan di rumah sambil nonton drama China.
Besok pagi aku harus meeting dengan klien besar. Lokasi proyeknya lumayan jauh dari pusat kota, makanya aku sengaja booking hotel yang paling dekat supaya nggak repot di jalan.
Setelah turun dari mobil, aku langsung menyeret koper ke lobby. Hotel ini lumayan ramai. Beberapa orang terlihat check-in, ada juga yang duduk santai di sofa sambil main ponsel.
Aku mendekati meja resepsionis.
“Selamat malam, Mbak. Saya ada booking atas nama Nadira Zeavanya.”
“Baik, ditunggu sebentar ya, Bu.” Resepsionis itu tersenyum ramah dan mulai mengetik sesuatu di komputer.
Aku berdiri sambil menahan ngantuk. Satu menit berlalu, kemudian aku melihat ekspresinya berubah. Senyumnya perlahan menghilang, alisnya sedikit berkerut. Perasaanku nggak enak.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku penuh harap.
Dia menatapku dengan ekspresi bersalah. “Maaf, Bu… sepertinya ada kendala di sistem kami.”
Aku menarik napas dalam-dalam mencoba tenang meskipun aku sendiri gak tahu bisa tenang atau tidak.
“Kendala gimana?”
“Reservasi Ibu… mengalami double booking.” katanya dengan nada yang memelas.
Aku menatapnya datar. Oke, tenang Dira, meskipun capek, lapar dan ngantuk tetap hadapi semuanya dengan kepala dingin.
“Maksudnya kamar saya sudah dipakai orang?”
“Maaf sekali, Bu.”
Aku memijat pelipis. “Oke. Ada Kamar lain?”
Resepsionis menunduk melihat layar lagi. Mulutku komat-kamit berdoa semoga tidak perlu cari hotel lain.
“Untuk malam ini… tersisa satu kamar.”
Alhamdulillah ya Allah. “Ya sudah, saya ambil…”
“Kalau suite room yang tersisa, saya ambil.”
Tubuhku membeku. Suara itu terdengar familiar, seperti pernah ku dengar entah di dimensi mana. Perlahan aku menoleh ke sumber suara itu.
Astaga, yang benar saja? Semesta benar-benar sedang mempermainkan aku ya?
Arsen Pradana.
Dia berdiri santai di belakangku. Kemeja hitam dengan lengan terlipat sampai siku, tangan masuk ke saku celana, wajah tenang seolah kehadirannya tidak cukup untuk menghancurkan sisa kewarasanku.
Aku menatapnya tajam. Dia menatap balik hingga kami seperti orang yang sedang melakukan kontes menatap. Hingga beberapa detik berlalu, bibirnya melengkung.
“Wah… Semesta ternyata masih naik kapal kita ya?”
Aku berkedip pelan, mencoba mencari sisa kesabaranku yang tersisa malam ini. Kenapa harus dia? Kenapa dari sekian banyak manusia di bumi ini, yang muncul justru mantan suamiku?
“Kenapa diem?” tanyanya santai.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku balik.
Dia hanya mengangkat bahu. “Pertanyaan yang sama. Kenapa kamu ada di sini? Kangen?”
Aku menutup mata sebentar. Oh, jadi begini rasanya kehilangan kesabaran.
“Enggak.”
“Sayang banget. Padahal aku iya.”
Aku menatapnya sekali lagi dan dia masih sama. Masih suka ngomong ngawur, masih suka bikin emosi dan yang bikin aku kesal setengah mati, wajahnya masih tampan dan masih bikin jantungku bereaksi sedikit terlalu cepat. Aku benci itu.
Aku kembali menghadap resepsionis yang sejak tadi terlihat serba salah.
“Jadi... kamarnya tinggal satu?”
Resepsionis mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Aku mengembuskan napas panjang, berusaha tetap berpikir jernih. “Hotel lain?”
Gadis itu tampak ragu sebelum akhirnya menjawab, “Di sekitar sini hampir penuh semua, Bu. Lagi ada event perusahaan, jadi kamar cepat habis.”
Bagus! Berarti aku gak punya banyak pilihan. Belum sempat aku memikirkan jalan keluar lain, suara yang sangat kukenal kembali menyela dari samping.
“Kalau mau, kamarnya buat kamu aja.”
Aku menoleh cepat. “Serius?”
Arsen mengangguk mantap selama satu detik.
Lalu...
“Enggak lah.”
Mataku membulat sempurna. Sementara dia justru menahan tawanya, seolah ekspresiku barusan adalah hiburan paling lucu hari ini.
Ya, Allah. Masih menyebalkan dan sama persis seperti dulu.
“Aku loh bercanda,” ujarnya santai. “Masa kamu masih gampang ketipu?”
“Arsen.”
“Iya?” sahutnya ringan.
“Jangan ganggu aku.”
Bukannya menjauh, dia malah menyandarkan siku di meja resepsionis. Wajahnya menoleh sedikit ke arahku, masih dengan ekspresi tengil yang rasanya ingin kusumpal pakai map proposal.
“Dira.”
Nada suaranya kali ini terdengar sedikit berbeda. Tetap santai, tetapi lebih pelan dari sebelumnya.
“Pilihanmu sekarang cuma dua.”
Aku menyipitkan mata. “Apa?”
“Pindah hotel yang jaraknya hampir dua jam dari lokasi proyekmu.” Ia mengangkat telunjuknya. “Atau...”
Jari tengahnya ikut terangkat, membentuk angka dua. “Sekamar bareng aku.”
Aku menatapnya beberapa saat, memastikan pendengaranku tidak sedang bermasalah.
“Bareng kamu?”
“Iya.”
“Dalam satu kamar?”
Arsen tersenyum simpul.
Aku tertawa pendek sambil menggeleng. “Mending aku tidur di lobby.”
Arsen justru mengangguk pelan seolah menyetujui ide itu.
“Romantis juga.”
Aku menatapnya datar. “Apanya yang romantis?”
“Kita tidur bareng di bawah satu atap yang sama lagi.”
Aku hampir tersedak mendengar kalimat itu.
“Siapa bilang bareng?”
“Kamu di lobby, aku di kamar.” Senyum tengilnya kembali muncul. “Tetap satu atap, kan?”
Aku langsung memalingkan wajah. Kalau lima menit lagi aku masih berdiri di dekat manusia ini, kemungkinan besar tekanan darahku bakal naik.
Namun, aku benci mengakui kalau dia benar.
Besok pagi aku harus sudah ada di lokasi proyek sebelum jam delapan. Kalau sekarang masih harus mencari hotel lain yang jaraknya hampir dua jam, tenaga dan pikiranku pasti habis di jalan.
Seolah bisa membaca isi kepalaku, Arsen memperhatikanku sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
“Masih suka overthinking, ya?”
“Aku nggak overthinking.”
“Bohong.”
Dia melangkah mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuatku harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.
“Kalau takut sama aku,” katanya pelan, “bilang aja.”
Aku spontan mendengus. “Takut?”
“Iya.”
“Takut apa?”
Tatapan Arsen berubah jahil. Senyum tipis perlahan menghiasi wajahnya.
“Takut jatuh cinta lagi sama aku.”
Aku tersenyum sinis dan tanpa pikir panjang, aku menginjak kakinya. Dia meringis, tapi malah tertawa pelan dan itu membuat dadaku terasa aneh.
Sial.
Aku masih ingat suara tawanya, caranya bicara dan semua hal tentang laki-laki itu, bahkan hal-hal kecil yang seharusnya sudah lama kulupakan.
Aneh.
Benci dan rindu bercampur menjadi satu sampai aku sendiri tak lagi bisa membedakan mana yang sedang kurasakan. Aku mengusap wajah pelan, berusaha mengembalikan kewarasan yang sejak tadi terus diuji.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa harus setelah bertahun-tahun?
Dan kenapa cuma karena melihatnya lagi, semua perasaan yang kukira sudah terkubur malah kembali berantakan?
Saat aku kembali mengangkat kepala, Arsen masih menatapku.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi usil atau godaan seperti beberapa menit yang lalu. Untuk beberapa saat dia hanya diam, seperti sedang membaca sesuatu di wajahku yang bahkan aku sendiri tidak sanggup memahaminya.
"Dira." Panggilannya terdengar pelan.
Aku menelan ludah sebelum akhirnya menjawab, "Apa?"
"Tenang aja." Nada suaranya rendah, jauh lebih lembut dibanding biasanya.
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain."
Aku hanya menatapnya tanpa berkedip, kalimat sesederhana itu justru membuat jantungku berdetak semakin tidak karuan.
Namun, seperti biasa Arsen memang tidak pernah tahan menjadi serius terlalu lama. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke arahku, lalu menurunkan suaranya hingga nyaris seperti sebuah bisikan.
"Kecuali..."
Aku langsung menyipitkan mata. "Kecuali apa?"
Senyum b******k itu kembali muncul di wajahnya. Dengan tatapan yang tak lepas sedikit pun dariku, dia berkata santai,
"Kalau kamu yang mulai duluan."
"ARSEN!"
Tawanya langsung pecah memenuhi lobi hotel, sementara aku resmi ingin mencekik mantan suamiku malam ini.
Menyebalkan! Kurang ajar! Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, dia masih tahu cara paling mudah membuat emosiku jungkir balik.
Aku hanya berdiri di tempat, memandangi pintu masuk hotel yang seharusnya sudah kulewati sejak tadi. Kalau dipikir-pikir, aku tinggal melangkah pergi. Sesederhana itu.
Namun anehnya, kakiku seperti menolak bergerak dan itu hanya menyisakan dua kemungkinan.
Aku benar-benar kehilangan akal sehat.
Atau...
aku memang belum benar-benar selesai dengan Arsen Pradana.
Bersambung…