Bab 2

1619 Kata
Ciuman itu refleks berakhir. Senja tergagap. Napasnya makin memburu. Suara Baskara yang berat di luar sana seperti ancaman. Tidak. Baskara, suaminya tidak boleh melihat Elang di sini. Senja tidak mau terjadi masalah pada hari pernikahannya. “Kak. Keluar dari sini lewat pintu belakang!” Senja memberi perintah. Namun, Elang tetap memaku tatapannya pada Senja. Ia diam, berdiri di sana, seolah sedang menunggu sesuatu. Seolah sengaja ingin membuat mereka berdua terlihat. “Nggak. Biar dia tau, Senja.” “Kak!” Senja memekik. Ia menahan suaranya supaya tidak terdengar dari luar. “Jangan gila!” Elang tidak menanggapi. Ia belai pipi perempuan yang masih memakai riasan pengantin. Wajahnya maju, mendekati wajah Senja. “Saya terima konsekuensi apa pun jika dia memang harus tau saat ini juga.” “Kak—“ “Saya akan keluar dengan satu syarat.” Elang akhirnya berubah pikiran. Netra bulat dan cantik itu berselimut amarah. Senja tidak tahan dengan sikap Elang yang seolah sengaja menjadikan dirinya umpan. “Katakan. Apa syaratnya?” “Kiss me.” Perempuan itu menggeleng. “No!” Senja menolak keras. Namun, suaranya yang keras membuat orang di luar sana mengetuk pintunya tidak sabar. “Senja. Buka pintunya!” “Sebentar, Mas. Senja ... Senja lagi di kamar mandi!” Perempuan tersebut berusaha menormalkan suaranya yang tengah gugup. Elang sungguh tidak waras. Mantan suaminya itu menjebaknya dalam keadaan sulit. “Pilihan ada di tangan kamu, Senja.” Elang duduk di sisi tempat tidur dengan santainya. Ia tidak peduli dengan situasi. Kalaupun tertangkap basah, pria tersebut sudah siap atas konsekuensi. “Waktunya nggak banyak, Kak. Tolong pergi dari sini. Senja nggak mau acara hari ini hancur gara-gara Kak Elang!” Senja makin dibuat tidak karuan oleh sikap sang mantan suami. Ia berdiri gelisah, berusaha mencari cara supaya Elang keluar dari sini. “Kenapa lama sekali, Senja? Buka pintunya!” Teguran dari luar terasa makin mencekam. Senja menatap pintu yang masih terkunci. Perempuan tersebut menggigit bibir bawahnya. Ketukan Baskara berubah menjadi gedoran kasar yang membuat Senja makin berkecamuk. Ia hanya berharap Tuhan menggerakkan hati Elang supaya mau pergi dari sini. “I–iya, Mas, sebentar—hmmppttt.” Ucapan Senja terpotong saat Elang langsung membekap mulutnya dengan ciuman. Kali ini ciuman itu liar dan turun ke leher. Pria itu menyesapnya dalam, memberi tanda kepemilikan yang siapa pun bisa melihatnya dengan jelas. “K–Kak, lepas!” Senja memberontak. Ia ingin meronta, minta tolong. Namun, perempuan tersebut takut jika saja Baskara lebih percaya dengan penjelasan Elang. “Ini baru permulaan, Senja,” ucap Elang setelah melepas pagutannya di leher jenjang putih Senja. “Saya bisa datang kapan pun dan melakukan lebih dari ini!” Deg! Ancaman itu tanpa bentakan, tapi penekanan di tengah keputusan gila seorang Elang yang enggan kehilangan mantan istrinya. Senja hanya menegang sambil memegangi lehernya yang perih. Mata berkaca-kaca itu menatap nanar kepergian Elang melalui pintu balkon kamarnya. Ia lantas mendekat ke arah cermin. Bekas di lehernya terpampang jelas. Senja meraih foundation dan mengaplikasikannya hingga noda merah itu tersamar. “Senja.” Panggilan itu kembali menginterupsi. Senja menoleh dan berjalan pelan ke arah pintu. Ia merapikan penampilannya yang sedikit berantakan secara singkat. Tangan yang masih gemetar itu memutar kunci dan menarik gagang pintunya perlahan. Di sana suaminya berdiri sambil memperhatikan dirinya. “Ck! Bisa cepat sedikit, ‘kan?” Dua sudut bibir Senja tertarik, membentuk senyuman tipis. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. “Maaf, Mas. Tadi, aku kebelet banget.” Baskara berkacak pinggang. Matanya ke mana-mana, memeriksa tiap sudut kamar. Fokusnya langsung terhenti pada pintu balkon yang terbuka. “Itu pintu kenapa kamu buka, Senja?” Netra cokelat Baskara menatap curiga ke arah Senja. Perempuan itu menoleh ke arah pintu balkon. Degup jantung itu makin cepat. Wajahnya kembali beraut gelisah. Sial! Sepertinya, Elang memang sengaja meninggalkan jejak atas kehadirannya tadi. Apalagi tirainya juga terbuka penuh. Perempuan tersebut berusaha menormalkan wajah, sesaat sebelum kembali menatap sang suami. “Tadi gerah banget, Mas. Makanya aku buka pintu balkon biar anginnya masuk.” Baskara mengangguk-angguk. Ia lantas menggenggam tangan Senja. Satu tangannya membelai wajah perempuan tersebut. Tapi, tidak lama belaian itu berubah menjadi cengkeraman kasar yang menyakitkan. Senja terkejut bukan main dengan perubahan sikap suaminya. “Sekali saja kamu buat saya kecewa, kamu akan tau akibatnya!” Wajah Senja dihempas kasar. Tubuhnya tersungkur ke sisi kamar tidur. Ia menahan napasnya. Perempuan tersebut tidak menyangka jika Baskara akan sekasar ini memperlakukannya. Belum sampai rasa terkejutnya hilang, Baskara mencekal lengannya kasar. Senja diposisikan berdiri di depannya. Pria itu menatapnya berang. “Telan dalam-dalam tangisan kamu! Ingat, Senja. Kamu harus terlihat bahagia di depan mereka.” Cepat, Senja mengangguk. Ia turuti semua ucapan Baskara. Perempuan tersebut hanya bisa patuh dengan apa yang diucap oleh suaminya untuk mencari aman. “Iya, Mas.” Ia biarkan tangannya digenggam Baskara untuk dibawa ke lantai bawah. Tanpa keduanya tahu, Elang yang masih di balik pintu balkon menatap keduanya penuh. Firasatnya kuat—Senja tidak akan bahagia di tangan Baskara. Sikap Senja yang penurut dan lugu di depan Baskara membuat hatinya resah. Apalagi saat melihat langsung bagaimana kasarnya Baskara memperlakukan perempuan itu. “Saya nggak akan pernah biarin kamu hancur di tangan pria itu, Senja. Nggak akan pernah.” ** Malam hari .... Senja melepas satu per satu kancing kebayanya yang berada di bagian punggung sampai pinggul. Begitu sampai di bagian tengah, ia sedikit kesulitan meraihnya. “Duh, susah banget, sih!” Perempuan tersebut mengeluh sambil terus berusaha membukanya. Tanpa diduga, Baskara yang baru saja masuk langsung menghampiri Senja dan membantunya. “Eh!” Senja terkejut. Badannya sontak berbalik. Mata hangat itu bertemu pandang dengan mata cokelat yang tajam milik Baskara. Ia langsung menundukkan pandangan. Sikapnya begitu canggung dan segan. Senja bahkan sampai menelan ludahnya berat. “Bersihkan diri kamu. Penuhi kewajiban kamu sebagai istri malam ini.” Senja mendongak. Postur tubuh Baskara yang jauh lebih tinggi membuatnya terasa kecil ketika berhadapan. “A–aku ... aku belum bisa, Mas.” Baskara tampak kecewa. Raut wajahnya menekuk, kesal. Pria tersebut bahkan menatap Senja dengan mata gelap. Rasanya ... Senja ingin merutuki dirinya sendiri. Makin lama ditatap Baskara, hatinya makin tak karuan. Ia tidak nyaman. “Bicara sekali lagi, Senja,” tuntut Baskara. Kakinya melangkah maju, mengikis jaraknya berdiri dengan Senja. Si Perempuan mundur. Tubuhnya makin gemetar. Andai bisa, ia ingin lenyap saja dari bumi untuk sementara waktu. Satu kaki Baskara yang dibalut pantofel itu masuk ke celah kedua kaki Senja. Tangannya yang besar mencengkeram pinggang sang istri. “Ta-tapi, aku emang belum bisa, Mas. Aku ....” “Saya nggak peduli penolakan kamu.” Seluruh tubuh Senja meremang. Panas. AC yang ada di kamar bahkan tidak mampu mendinginkan tubuhnya yang seperti tengah dibakar dari dalam. Satu per satu kancing kebayanya dilepas paksa oleh Baskara. Senja hanya bisa diam, membiarkan gerakan itu terus terjadi. Ia tidak punya kuasa untuk menolak. Rasa takutnya yang besar terlanjur menguasai diri. Senja hanya bisa terjerembap. Tubuhnya terduduk di tepi tempat tidur. Entah kenapa, pada posisi seperti ini ia justru teringat Elang. Pria itu memang benar seperti hantu yang terus gentayangan di kepalanya. Dulu saat malam pertama, Elang tidak pernah bersikap manis. Pria itu terkesan acuh dan masa bodoh. Namun, Elang tidak pernah memaksanya untuk melayani. Jika beradu peruntungan, mungkin akan lebih aman di samping Elang. Meskipun penyebab keduanya berpisah adalah tindakan kasar pria itu saat menyetubuhinya. “Apa yang kamu sembunyikan dari saya, Senja? Katakan!” Tepat pertanyaan itu terdengar, Baskara selesai membuka kancing kebaya Senja. Ia menyentuh bahu perempuan tersebut. Sentuhan itu lembut, awalnya. Setelah beberapa detik, tangan Baskara mencengkeram kedua bahu perempuan itu. Senja terenyak. Tangannya menepis refleks. Tubuhnya berbalik. Ia menatap takut ke arah Baskara. Pria tersebut menggeram. Ia tersinggung dengan sikap Senja. Istrinya itu ... sungguh menolaknya. Tiap responsnya mematik gemuruh di kepala. “Takut?” Sungguh, Senja ingin mengiyakan pertanyaan itu. Menatap wajah Baskara saja nyalinya seketika menciut. Pria matang itu terlalu garang di matanya. Tiap kali sepasang mata milik Baskara menatap, Senja merasa hendak diterkam hidup-hidup. “Katakan. Apa yang kamu sembunyikan dari saya? Hm?” Suara yang tidak kasar itu justru membuat detak jantungnya memburu. Senja makin ketakutan. Ia akhirnya hanya menggeleng. Sungguh, perempuan tersebut merasa semuanya seperti di luar kendalinya. Senja lagi-lagi memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia menyalahkan keputusannya untuk menerima tawaran menikah cepat dengan pria pilihan mamanya. “Maaf kalau sikap aku bikin Mas nggak nyaman. Aku ... hanya belum bisa melakukan itu.” Akhirnya, penolakan yang dibalut dengan kalimat halus dan nada suara lembut itu keluar. Senja harus berani mengutarakannya sebelum semua makin jauh. “Belum bisa?” Baskara mengulangi kata Senja. Penolakan itu justru membuat dadanya bergemuruh hebat. Tidak. Seumur hidup, Baskara tidak pernah ditolak. Penolakan adalah sebuah penghinaan baginya. “Aku ... punya trauma, Mas. Tolong jangan paksa aku untuk melakukan itu.” “Itu urusan kamu. Saya nggak mau tau apa pun tentang masa lalu kamu. Yang jelas, saya minta hak saya malam ini.” Baskara menatap dalam wajah cantik istrinya. Ia terpaku dalam beberapa saat pada sosok perempuan yang terlihat beda dari wanita di luar sana. Senja baginya memiliki sisi spesial. Baskara pun mengakui jika pesona istrinya tidak main-main. Sungguh sebuah keberuntungan bagi pria tersebut bisa memilikinya. “Aku hanya belum terbiasa, Mas,” jelas Senja apa adanya. “Jadi, beri aku sedikit waktu untuk beradaptasi.” Ucapan Senja berhasil menyalakan api amarah dalam diri Baskara. Pria itu kalap. Dua tangannya yang besar itu mendorong bahu sang istri. Tubuhnya yang tegap tinggi menindih tubuh Senja. Ia tidak memberi ampun sedikit pun, meski Senja meronta, memohon ampun. “Tolong, Mas. Kasih aku waktu. Aku ... aku—“ “Persetan! Saya nggak mau dengar alasan apa pun! Kamu harus melayani saya malam ini, Senja!” Senja meronta. Ada segumpal air yang menggenang di pelupuk matanya. Haruskah ia mengulang traumanya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN