bc

Godaan Mantan Istri Saat akan Menikah

book_age18+
233
IKUTI
1K
BACA
revenge
love-triangle
contract marriage
family
HE
age gap
forced
second chance
friends to lovers
arrogant
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Slow Burn Story

18+

Tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan menikah dua kali ketika usianya masih muda. Setelah bercerai dengan Elang, Senja menikah dengan Baskara, pria terpandang yang memiliki selisih usia jauh darinya.

*

Pembawaan Baskara yang hangat dan mampu melindungi membuat perasaan Senja dilema. Dari lubuk hati paling dalam, masih ada sisa rasa untuk Elang, pria pertama yang mampu membuatnya jatuh cinta sampai akhirnya menikah dan bercerai.

*

Perlahan-lahan, hubungan Baskara dan Senja mulai renggang. Elang tidak pernah tinggal diam ketika melihat Senja bahagia dengan Baskara.

*

Bukan tanpa alasan Elang melakukan itu. Dendam, kebencian, dan amarah yang terpendam nyatanya berubah menjadi obsesi mematikan.

*

Rumah tangga Senja dan Baskara diguncang masalah bertubi-tubi. Apalagi ketika Yogas—anak kandung Baskara—melakukan skandal besar hingga menjebak Senja.

*

Yogas membongkar sebuah rahasia di balik sikap penurut Senja. "Sampai kapan pun, nggak akan ada yang bisa gantiin nyokap gue! Lo cuma benalu! Gue nggak bakal biarin lo hidup tenang, Jalang!"

*

Dari kejauhan, Elang menyaksikan kejadian itu. Ia menarik tangan Senja setelah Yogas pergi.

Senja dipaksa masuk ke mobil. Mencondongkan tubuhnya pada mantan istrinya. Bibirnya maju, hampir bersentuhan dengan bibir Senja.

*

"Cepat atau lambat, semua akan tau, Senja! Kita nggak pernah benar-benar selesai. You're mine!"

Senja terdiam. D.a.danya sesak. "Jangan menekanku lagi, Kak. Aku ingin hidup bebas. Aku mau bahagia."

*

"Teruslah bermimpi, sebelum kamu bangun dan berada di nerakaku, Senja Arunika Putri!"

***

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Kita perlu bicara, Senja.” Suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba membuat Senja terlonjak. Ia terkejut, kemudian langsung menoleh ke arah pintu. Napasnya mendadak sesak. Elang. Pria itu menatap penuh arti ke arah Senja. Rautnya seperti menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia menutup pintu, lalu maju, menggenggam pergelangan tangan perempuan tersebut. Masih dengan rasa tidak percayanya, napas Senja mulai tersengal. Ia terdiam beberapa saat, meski genggaman di tangannya makin erat. Tatapan penuh kebencian Senja terpancar dari sorot mata yang memakai softlens abu. Rahangnya mengetat. Alis pun ikut menukik. “Kenapa, Senja? Kenapa secepat ini kamu menikah dengan pria lain?” Suara itu rendah, hampir tidak terdengar. Ada sirat penyesalan dalam nada bicara pria tersebut. Yang tengah bicara dengannya adalah sosok mantan suami yang dahulu begitu dingin dan otoriter padanya. “Memangnya kenapa, Kak?” seru Senja, tidak terima. “Lagian kamu udah hamilin Nabila, ‘kan? Kamu nggak berhak lagi atas aku!” Senja tidak segan melawan. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Elang. Pria tersebut jelas tidak mau kalah. Ia tetap menggenggam pergelangan Senja, seolah tidak peduli jika perempuan tersebut merasa sakit atau bahkan henna yang menghias tangannya akan rusak. “Itu tidak perlu kamu bahas, Senja. Kamu bahkan baru bercerai dari saya, tapi—“ “Itu hak aku, Kak. Masa idahku sudah selesai dan aku berhak menikah dengan pria mana pun!” Perempuan yang masih mengenakan kebaya pernikahan itu kembali terkejut ketika Elang langsung membawa tubuh rampingnya ke dekapan lelaki itu. Kepalanya bergerak, mendongak. Matanya menyapu tatapan Elang. Tatapan pria itu dalam, tapi tersirat sebuah makna yang sulit dijelaskan. "Lepas, Kak!" "Nggak bisa seperti itu, Senja." “Terserah Kak Elang mau bilang apa!” Senja berusaha mendorong tubuh Elang walau percuma. Ia berusaha tidak peduli dengan ucapan mantan suaminya yang seperti menyesal telah melepasnya. “Kak Elang nggak berhak ngatur-ngatur aku! Kamu bukan siapa-siapa aku lagi!” Ucapan Senja yang kian berani menyulut amarah Elang. Tatapannya menggelap, rahangnya mengeras, sementara kepalan tangannya mengencang—seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin ia hancurkan, meski tak kasatmata. Sikap Senja yang dingin dan tak peduli justru membuat pikiran Elang makin berkecamuk. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya kini begitu mudah diabaikan, seolah keberadaannya tak lagi berarti apa pun bagi perempuan itu. Perempuan yang baru menuntaskan masa idahnya tiga hari lalu itu kini telah sah menjadi istri orang lain. Akad nikahnya bahkan baru berlangsung beberapa jam yang lalu—terlalu cepat, terlalu menusuk bagi Elang untuk diterima. Senja masih tampak cantik dalam balutan kebaya putih dengan riasan khas adat Jawa yang membingkai wajahnya. Kulitnya terlihat kian berkilau di bawah sorot lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamar. “Jalani kehidupan Kak Elang sendiri!” ucap Senja tegas. “Kamu bukan siapa-siapa lagi. Hubungan kita cuma sebatas mantan suami-istri.” Terlihat sorot mata Senja yang penuh tekad ketika mengatakannya. Ia telah membangun batas tinggi dengan pria tersebut semenjak ketuk palu. Emosi dalam d.a.da yang menggebu membuat Elang makin bertindak gila. Satu tangannya menggenggam tangan Senja, lalu dibawa ke atas kepala dan menahannya. Tidak bisa. Sulit bagi Elang untuk menerima. Ia marah. Pria tersebut benci ketika melihat Senja justru lebih cantik ketika menjadi pengantin pria lain. Semuanya terlalu cepat. Takdir tidak berpihak padanya kali ini. Elang kalah. Gugatan cerai dari Senja berhasil membuat hubungan mereka benar-benar berakhir. “Kamu sengaja lakuin ini buat nguji saya, hm?” Cengkeraman di kedua tangan perempuan itu menguat. “Sengaja nikah sama orang yang bahkan masih ada hubungan sama saya?!” Pernyataan yang baru keluar dari mulut Elang terdengar mengejutkan bagi Senja. Namun, perempuan tersebut berusaha tetap menormalkan ekspresinya. Siapa sangka, pria yang sekarang menjadi suaminya dikenal oleh Elang. Sebuah kemenangan untuk Senja karena ia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Elang makin terusik harga dirinya. Ia bukan perempuan lemah. Senja tidak boleh membiarkan Elang kembali menguasainya lagi. Pria itu bukan siapa-siapa dan tidak berhak lagi atasnya. “Ups!” Senja menyeringai. Wajahnya terlihat mengejek. “Hubungan? Sorry, aku nggak tau kalau kamu masih ada hubungan dekat dalam relasi bisnis sama Om Baskara.” Senja terlihat tidak gentar sedikit pun. Ia benar-benar sengaja menyalakan api peperangan dengan mantan suaminya sendiri. Perempuan tersebut yakin, suaminya tidak akan tinggal diam jika ia ditindas. Dengan sekali teriak, Senja yakin sang suami akan cepat datang dan menyelamatkannya. “Ya, kamu sengaja, ‘kan?” Kesal, pria itu lantas menarik tubuh ramping Senja dan mengimpitnya di atas tempat tidur. “Pintu itu sudah saya kunci, Senja. Saya bisa lakukan apa saja sama kamu.” Dalam beberapa detik, Senja terpaku mendengar kalimat ancaman itu. Ia bisa merasakan deru napas Elang yang memburu. Pria itu benar-benar sudah diselimuti amarah. “Maksud Kak Elang ... lakuin apa pun ke istri kolega Kakak sendiri?” Elang makin dibuat gila oleh Senja yang berani mempermainkannya sekarang. Sikap perempuan itu justru makin membuat gemuruh dalam d.a.danya makin bergejolak. “Saya nggak peduli, Senja. Saya nggak akan pernah biarin kamu sama pria itu.” Elang berucap tegas, tidak keras maupun kasar, tapi cukup untuk memperjelas posisi Senja dalam hidupnya. “Kalo Kak Elang berani ngelakuin hal nekat, aku bakal teriak! Suamiku pasti dateng dan nggak mungkin diem aja liat istrinya lagi diperlakukan kayak gini!” Senja berusaha melawan. Tatapannya saling berbalas dengan mata gelap berkabut amarah milik mantan suaminya. Elang menggeleng. Seringai tipis menghias wajah tampannya. Makin Senja melawan, makin tertantang pula untuk ia melampiaskan kekesalannya pada perempuan tersebut. Pria itu memiringkan kepala. Ia hapus jarak wajahnya dengan wajah Senja. Detik berikutnya, ia pun membisikkan sesuatu. “Saya jamin, kamu nggak akan pernah berani lakukan itu.” Bisikan itu lirih, tapi menekan. Ketegangan di kamar tersebut makin terasa. Elang benar-benar tengah berusaha keras mengambil alih situasi. Wajah Elang makin dekat dengan wajah Senja. Deru napasnya yang panas menyapu cepat. Pria itu tetap mempertahankan posisinya untuk mengimpit tubuh Si Perempuan. Tidak dapat dimungkiri, jantung Senja berdegup kencang. Darahnya berdesir hebat ketika Elang kini menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Ia bisa merasakan jika pria tersebut menghirup aroma tubuhnya. Senja berusaha beringsut, menggeser tubuhnya supaya menjauh. “Akhiri semua ini sebelum semuanya terlambat, Kak. Aku berhak menentukan pilihanku!” Senja kembali memberi peringatan dengan suara tegasnya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya dianggap remeh oleh mantan suaminya sendiri. Elang membisu. Ia tarik kepalanya dari leher Senja dan membawa pandangannya kembali pada mata sendu itu. “Kamu mengancam saya, Senja?” “Ya! Aku membencimu, Kak! Aku nggak akan pernah biarin Kak Elang nindas aku lagi!” Senja memberontak. Ia berusaha melepas genggaman Elang yang menahan kedua pergelangan di atas kepalanya. Tapi, usaha itu sia-sia. Tenaga Elang jauh lebih besar. Pria itu tidak bergerak sama sekali ketika menahan Senja agar tetap berada di posisinya. “Lepasin, Kak! Kalo Kak Elang nggak mau lepasin, aku bakal teriak!” Wajah Elang terlihat dingin. Tidak pernah terbayangkan jika ia akan kembali berdebat panas dengan perempuan yang tidak akan pernah ia lepaskan. Ia ingin marah, meluapkan semua keresahan pada Senja, meskipun dengan cara kasar. Namun, hati kecilnya melarang. Pria tersebut masih punya rasa belas kasih kepada Senja. Ia sadar kesalahan yang dulu pernah diperbuat. Elang tidak boleh mengulangi. “Coba saja, Senja. Saya mau lihat sehebat apa teriakan kamu.” Elang selalu berusaha tenang menanggapi apa pun yang keluar dari mulut Senja. “Tolong—“ Ucapan Senja terpotong saat Elang langsung bergerak cepat, menindih tubuh perempuan tersebut. Gerakannya pelan, tapi tepat. Seolah-olah ia memang hendak menjaga sang mantan istri dari rasa sakit. “Kurang ajar! Apa yang udah Kak Elang lakuin kali ini bener-bener keterlaluan!” Senja berseru berang. Ia berusaha menghindari Elang. Tidak banyak bicara, Elang langsung melumat bibir Senja. Satu tangannya menyangga kepala perempuan tersebut, menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Lumatan itu lembut. Bahkan, Senja belum pernah merasakan hal seperti ini ketika masih menjadi istri Elang. Pria itu menyesap dan memagut dalam-dalam bibir Senja. Lidahnya mengabsen satu per satu gigi rapi dan putih milik sang mantan istri. Senja meronta. Tangannya mengepal, memukul punggung Elang yang kokoh namun, gerakan itu tidak berpengaruh sedikit pun. Elang tetap melancarkan aksinya. Tatapan keduanya saling terpaut. Mata pria itu ... seolah ingin bicara. Senja bisa melihat bagaimana dalamnya tatapan itu. Sementara Elang, ia bisa merasakan degup jantung Senja yang cepat. Mata bulat itu tidak bisa berbohong. Ia tahu perempuan tersebut masih mencintainya. Adegan itu berlangsung beberapa detik. Sampai saat keduanya sama-sama sesak napas, Elang menarik tubuh, menatap mata merah Senja yang diselimuti kemarahan. “Kamu brengsk, Kak! Kamu hamilin Nabila dan sekarang masih datang ke aku?!” Senja memaki pria yang tersenyum puas sambil menatapnya. “Kamu harusnya nikahin dia, bukan sibuk gangguin aku!” Mata pria itu menatap penuh arti ke arah Senja. Elang ingin membantah, tapi ia tahu ia salah. Entah, apa benar Elang menghamili Nabila, ia benar-benar ragu. “Bibir kamu manis.” Elang memuji. Ia mengusap bibirnya yang basa dengan ibu jari. “Brengsk!” Senja mengumpat. Ia berusaha untuk tetap tidak menjatuhkan air mata karena sikap Elang. “Pergi dari sini, Kak! Jangan ganggu hidup aku lagi!” Elang justru tersenyum mendengar perintah Senja. Ia mencondongkan tubuhnya lagi ke arah sang mantan istri. Senja beringsut mundur. Ia tidak menyangka jika Elang bisa bertindak nekat seperti tadi. “Kamu hanya milik saya. Saya berharap kamu tetap menjaga semuanya untuk saya.” “Apa hak Kak Elang minta kayak gitu sama aku?” Elang tidak menjawab. Ia justru melumat bibir Senja untuk yang kedua kalinya. Kali ini pria tersebut memagutnya lebih dalam. Tangannya yang menyentuh tengkuk Senja kini bergerak ke leher, mengusapnya pelan dan hati-hati. Senja bisa merasakan kulit dingin itu membelainya pelan. Ada gelenyar aneh yang membuat tubuhnya meradang. Sensasi itu justru membuatnya seperti candu. Tanpa sadar, lidahnya bergerak. Ia balas ciuman Elang dengan imbang. Gerakannya lihai. Senja seolah sudah mengerti cara mainnya. Beberapa detik kemudian, di tengah aksi panas keduanya, ketukan pintu menginterupsi. Tok-tok-tok! “Senja, buka pintunya. Saya mau masuk.” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.3K
bc

Too Late for Regret

read
345.4K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.5K
bc

The Lost Pack

read
457.9K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook