“Saya akan cari bukti lengkapnya, Pa.” Hans terdiam. Matanya menelisik wajah putranya. “Sampai kapan?” Elang berpikir beberapa detik. Ia tidak bisa menaksir waktu supaya semuanya terungkap. Pria tersebut hanya menautkan jari-jemari kedua tangannya, lalu menunduk dalam. “Mau tunggu Nabila melahirkan baru kamu nikahi?” terka Hans dengan nada dingin. “Begitu, Lang?” Pikiran Elang makin penuh. Sisa-sisa ingatan di Bali membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Pria itu bimbang. Keraguan merayap ke hatinya. “Saya masih harus memastikan semuanya, Pa,” kata Elang. Ia menatap papanya, segan. “Saya nggak mau rugi atas keputusan yang saya ambil.” "Oke. Papa tunggu secepatnya." "Iya, Pa." Tidak ada yang bisa dilakukan Elang, selain menuruti ucapan Hans. Pria itu terlalu segan pada papanya h

