Bab 3

1279 Kata
Mata Senja membelalak. Bahunya naik turun. Napasnya tersengal. Tubuhnya terasa sesak ketika ditindih oleh Baskara. Pikiran Senja ke mana-mana. Ia tidak bisa berpikir jernih. Wajah Baskara yang terlalu dekat membuatnya makin tidak bisa berkutik. Tidak. Senja menggeleng beberapa kali. Ia tidak mau memberikannya sekarang. Ia belum siap. Bukan tanpa sebab Senja melakukan itu. Ia hanya tidak ingin melayani suaminya atas dasar keterpaksaan. Baskara yang melihat respons Senja, seketika menarik tubuhnya dari sana. Ia melepas kancing kemejanya cepat. “Bersihkan diri kamu.” Senja langsung bergerak untuk beranjak dari tempat tidur. Ia mendekap gaun yang kancingnya sudah terlepas. Langkahnya lirih, melewati Baskara untuk masuk ke kamar mandi. Ia bisa melihat bagaimana lirikan tajam sang suami sampai dirinya masuk dan menutup pintu. Perempuan tersebut melepas gaunnya dan menggantungnya di dekat pintu. Ia menyalakan shower. Air hangat itu mengalir, membasahi kepala dan tubuhnya. Suara gemerciknya terdengar teratur. Senja mencari ketenangan di sana. Ia membasuh wajahnya yang basah. Jemarinya memijat ringan kulit kepala untuk mengurangi rasa pening. Wajahnya mendongak, membiarkan air itu terus menerpanya pelan. Entah kutukan apa yang Senja dapat hingga harus menjalani pernikahan kedua yang tidak jauh berbeda dengan pernikahan pertamanya. Ia sama-sama terjebak dalam hubungan toxic. Baskara yang ia kira baik ternyata jauh lebih buruk daripada Elang. “Cepat sedikit, Senja!” Ketukan pintu itu keras. Senja sampai terenyak dan buru-buru mematikan shower. Tangannya meraih handuk kimono dan dikenakan pada badannya yang ramping. “Iya, Mas. Sebentar.” Senja bergegas keluar dari kamar mandi. Baskara sudah berdiri di sana—bertelanjang d**a. Tatapannya langsung menyusuri tiap inci tubuh istrinya, membuat langkah Senja refleks melambat. Tanpa banyak bicara, Baskara menuntunnya ke kursi meja rias dan mendudukkannya. Dengan satu gerakan tegas, ia melepas handuk kecil yang membungkus rambut Senja dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia kemudian mencondongkan tubuh. Wajahnya mendekat ke leher Senja, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang masih hangat. “Saya suka wangi kamu.” Suara itu justru membuat Senja merasa risih. Ia sedikit menggeser duduknya, berusaha menjauh. Ketidaknyamanan itu begitu nyata, menegang di bahunya. Baskara meraih hair dryer di meja rias dan mulai mengeringkan rambut Senja. Gerakannya mantap, nyaris tanpa ragu, meski ada kesan tergesa yang sulit disembunyikan dari tiap hembusan angin panas. Tak ada percakapan di antara mereka. Senja hanya bisa terdiam, bingung menghadapi sikap suaminya—yang semula kasar, kini mendadak menunjukkan perhatian dengan cara yang tak membuatnya merasa aman. Lewat pantulan cermin, ia menatap pria matang itu. Parasnya memang tampan, tubuhnya tinggi dan tegap dengan kulit sawo matang. Raut wajahnya dingin, bersih, sementara otot-otot di lengannya tampak kekar, uratnya menonjol jelas. Potongan rambut undercut memberi kesan rapi pada sosok Baskara. Wangi maskulinnya memenuhi kamar tidur yang luas, menegaskan kehadirannya. Dari segi fisik dan materi, Baskara nyaris sempurna. Namun, ada sisi misterius yang selalu melekat padanya—terutama dalam dunia bisnis. “Bertindak sebagaimana istri pada umumnya,” ucapnya datar, tepat saat ia meletakkan hair dryer kembali ke atas meja rias. Senja gugup. Apalagi kini tangan keras sang suami menyentuh kedua bahunya. Mereka beradu pandang melalui pantulan cermin. “Tapi, aku benar-benar belum siap, Mas.” Bibir Senja bergetar. Brak! Tiba-tiba Baskara mendorong tubuh Senja. Kepala perempuan itu membentur sisi meja rias. Ia menjerit kesakitan. “Sa-kit, Mas ....” Rintihan itu terdengar menyakitkan. Senja memegangi dahinya yang nyeri. Ia menatap cermin. Memar di sana terlihat jelas. “Turuti semua permintaan saya kalau kamu mau hidup tenang.” Kalimat itu terdengar lirih, tapi penuh ancaman. Senja bisa melihat ancaman dari wajah pria tersebut. Tutur kata Baskara yang pelan justru membuatnya makin hilang keberanian. Senja menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedih sekaligus menahan sakit. Ia kecewa dengan diri sendiri yang bahkan kembali terjebak dalam hubungan rumit. “A-aku minta maaf, Mas,” ucap Senja takut. Ia mendongak, menatap wajah suaminya. “Apa pun akan aku lakukan, asal jangan minta itu.” Yakinlah, Senja mengucapkannya dengan rasa putus asa. Tidak ada sedikit pun kelegaan yang dirasakan ketika dengan Baskara. “Berarti kamu memilih jalan untuk masuk ke dunia saya, Senja.” Perempuan itu hanya tertegun. Ia kehabisan kata untuk sekadar membalas ucapan suaminya yang terlalu dingin dan ... kejam. Baskara yang sudah kepalang kesal akhirnya mengangkat tubuh ramping itu. Ia membanting tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. “Arkhhh ....” Teriakan itu sebagai bukti seberapa sakit tubuhnya menanggung perbuatan Baskara. Pria itu terlihat tidak mempertimbangkan apa pun sebelum bertindak. Dalam beberapa detik, Baskara terpaku melihat istrinya. Ia menatap lamat-lamat wajah polosnya yang justru terlihat lebih cantik daripada saat mengenakan makeup. Hal tersebut justru membangunkan h.a.s.r.a.t Baskara. Sebagai pria normal, ia jelas tergoda dengan lekuk tubuh Senja. Kulit pahanya terekspose jelas saat handuk kimononya tersingkap. Wangi cokelat yang menyeruak seperti membelai lembut indra penciumannya. Ia berdesis. Tangannya dengan lancang menjelajah bagian itu. Baskara menyentuhnya lembut, mengusap, kemudian memberi tamparan pada bagian b.okongnya. “Jangan, Mas. Aku mohon ....” Senja beringsut. Tubuhnya berderak mundur. Ia menghindari Baskara yang terus memberinya sentuhan-sentuhan liar. Kedua netra perempuan itu memanas. Senja menahan dalam-dalam air matanya yang hampir keluar. Ia terus berusaha menghindari pria tersebut. Sayangnya, tindakannya itu harus berhenti ketika ponsel Senja berdering nyaring. Atensi Baskara sampai teralih ke benda tersebut. Napas Senja makin memburu. Ia tertekan. Perempuan tersebut takut jika saja yang meneleponnya adalah Elang. Melihat Baskara yang tengah berpaling, Senja mengambil kesempatan itu untuk bangkit. Ia duduk dan meraih ponselnya. Detak jantungnya dibuat tidak aman oleh nama yang tertera di layar. Elang. Pria itu nekat meneleponnya pada malam seperti ini. Ternyata, dugaannya tidak pernah meleset. Elang menunaikan apa yang dikatakan tadi. Pria tersebut akan terus menjadi pengganggu di rumah tangganya. “Angkat.” Baskara menyadari sikap Senja yang sedikit aneh. Istrinya tampak gelisah. Kentara dari tatapan matanya pada layar tersebut. “Em, cuma tefon dari temen, kok, Om. Bening.” Senja berusaha menyembunyikan kebenarannya. Layar ponselnya dibalik untuk menghindari tatapan suaminya yang penuh curiga. “Saya bilang angkat.” Baskara memberi desakan. Mustahil Senja mengangkat telepon dari Elang, sementara sang suami masih berdiri di hadapannya. Akhirnya, Senja memilih untuk menutup panggilan tersebut dan mematikan ponselnya. Pria tersebut marah. Ia rebut ponsel sang istri, lalu melemparnya tanpa segan ke arah cermin meja rias. Pyar! Suara riuh itu membuat Senja sontak menutup kedua telinganya dengan tangan. Matanya memejam. Baskara langsung mengumpulkan rambut Senja dalam genggaman. Ia menariknya hingga kepala sang istri mendongak. “Ampun, Mas ....” “Kamu harus merasakan akibat dari kebohongan kamu!” Ia menarik rambut itu kuat. Tubuh Senja terseret hingga jatuh dari tempat tidur. Pinggangnya membentur lantai. “Sakit, Mas.” Senja berusaha mengais sedikit ampunan dari suaminya. Tangannya memegangi lengan Baskara dengan lemah. Tapi, pria itu menulikan telinganya. Ia tetap menyeret tubuh perempuan itu untuk dibawa ke kamar mandi. Baskara menyalakan kran air. Bathtub yang kosong itu diisi sampai penuh tanpa melepas genggamannya dari rambut Senja. Begitu benda itu terisi penuh, Baskara langsung menceburkan kepala Senja. Ia menahannya beberapa detik. Senja gelagapan. Ia tidak bisa bernapas. Tangannya bergerak, berusaha menghalau tindakan suaminya. Anehnya, Baskara justru tertawa, seolah puas dengan apa yang diperbuat kali ini. Pria tersebut menariknya, memperhatikan wajah Senja yang tampak pucat. Ia memberi waktu perempuan tersebut bernapas, sebelum akhirnya kembali melakukan tindakan yang sama. Setidaknya, hal itu dilakukan Baskara sebanyak lima kali. Ketika tubuh Senja sudah benar-benar lemas, pria tersebut langsung melepas genggamannya dari rambut sang istri. Tubuh perempuan tersebut jatuh, luruh ke lantai. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya terlihat biru. Senja menggigil kedinginan. Baskara berjongkok. Ia apit dagu Senja dengan jarinya. Pria tersebut mendongakkan wajah sang istri supaya menatapnya. “Jangan harap kamu akan nyaman di sini selagi belum melayani saya, Senja.” Wajah itu dihempas kasar. Baskara beranjak, meninggalkan kamar mandi. Ia mengambil cepat ponselnya dan menelepon asistennya. “Bawakan satu perempuan ke kamar saya, Romi! Sekarang!” **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN