Beberapa saat kemudian ....
Seorang wanita masuk dengan langkah meliuk. Senyumnya menggoda. Gaun tipis membalut tubuh indah sosok itu.
Baskara menyeringai. Ia masuk ke kamar mandi. Menarik paksa Senja, kemudian didudukkan ke kursi rias.
Pria tersebut meraih borgol, kemudian mengunci kedua pergelangan Senja. Rantai berat itu membebat tubuhnya, sampai ke kaki.
Senja berusaha menahan rasa takutnya, meski semua terasa mencekam. Tubuhnya remuk redam. Hatinya patah, lagi.
Ia memang tidak memiliki perasaan dengan pria tersebut. Namun, untuk menerima hal kejam seperti ini, rasanya Senja tak mampu.
Perempuan yang sudah berwajah pucat itu hanya terisak. Suara tangisan yang semula mengeluarkan rintihan telah habis di dalam kamar mandi.
Baskara benci tangisan Senja. Suara itu seperti sebuah gangguan yang patut ia singkirkan. Kasar, satu tangannya menangkup wajah sang istri.
Ia memberi tekanan pada pipi perempuan itu. Diangkatnya wajah yang sudah berhias lebam di dahi. Baskara menyeringai. Pria tersebut memajukan wajahnya dan bicara tepat depan bibir Senja.
“Biar dia kasih kamu pelajaran caranya melayani saya, Senja.”
Senja terpaku. Aroma mint dari mulut pria itu membuatnya terusik. Mata sang suami melotot merah. Ia tahu Baskara marah karena penolakannya.
“Lepasin aku, Mas. Aku minta maaf.”
Baskara langsung memalingkan wajah istrinya kasar. Ia lantas mencekik leher Senja dan menekannya kuat-kuat.
“Terlambat, Senja! Malam ini kamu harus terima hukuman dari saya.”
Pria tersebut langsung menarik diri dari hadapan Senja. Ia melangkah mundur, kemudian duduk di tepi ranjang yang berhadapan dengan posisi duduk sang istri.
Kepalanya bergerak, memberi kode pada wanita panggilan itu melalui tatapan matanya.
Lekas wanita itu melakukan tugasnya. Ia terlihat begitu lihai memberi pelayanan nafsu dari Baskara yang benar-benar gila.
Berulang kali Senja memalingkan wajah. Air matanya berangsur turun, membasahi pipi. Namun, ini bukan tentang cemburu. Bukan pula tentang harapannya yang bertolak belakang dengan kenyataan.
Ini tentang harga diri. Senja merasa ia kehilangan rasa malunya. Apa yang dilakukan Baskara seperti sebuah penghinaan untuk dirinya yang hanya memohon sedikitnya ampunan dan pengertian.
Senja tahu ia salah. Perempuan tersebut juga sadar telah melakukan dosa besar karena menolak memberikan hak untuk melayani suaminya.
Tapi, kenapa? Kenapa harus dengan cara seperti ini ia dihukum? Senja bahkan berusaha menulikan telinga ketika suara-suara menjijikkan itu terus berangsur mengusiknya.
“Ahhh ... lebih dalam lagi, b***h!”
Baskara meraung keenakan ketika wanita panggilan itu bermain dengan bibirnya. Ia mendorong panggulnya, memperdalam miliknya masuk ke dalam mulutnya.
Lantas, beberapa saat kemudian, Baskara mencapai pelepasan untuk yang pertama kalinya. Deru napasnya memburu. Ia menyeringai. Puas sekali melihat Senja yang menangis sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kegiatan itu rupanya tidak berhenti sampai di situ saja. Baskara melanjutkan aksinya. Ia persilakan wanita panggilan tersebut untuk bermain di atas tubuhnya.
Wanita tersebut mendominasi permainan. Ia benar-benar memperlihatkan kelihaiannya dalam memberi servis kepada pria yang dikenal dari kalangan atas itu.
Di lain sisi, Senja rapuh. Suara desahan dan raungan yang saling bersahutan di atas tempat tidur itu makin lama makin terdengar samar.
Entah kenapa, tiba-tiba Senja justru teringat dengan Elang. Pada saat seperti ini, ia berharap pria itu datang, memberinya sedikit obat dari segala lukanya.
Ah, sial! Bahkan, dalam hal sakit saja, ia masih mengingatnya. Padahal, jelas-jelas Elang juga menorehkan lukanya lebih dalam.
Pada akhirnya, malam ini Senja habiskan menjadi penonton dari adegan dewasa suaminya sendiri dengan wanita lain.
Air matanya seperti surut saat mata itu makin berat. Seluruh tubuhnya kebas. Baskara tidak berniat melepaskannya, meskipun jam terus berganti, sampai dini hari.
**
Pagi hari ....
Dalam kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja, Senja buru-buru mengambil tas kerjanya. Insiden semalam membuatnya terlambat bangun dan berakhir kacau seperti sekarang.
Entah pukul berapa pria itu melepas borgol dan rantai yang menjerat tubuhnya. Senja bahkan tidak sadar jika tubuhnya dipindah ke atas tempat tidur.
Jam di tembok sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Lima belas menit lagi ia akan terlambat. Ia bersiap sambil menahan sakit di kepala.
Begitu turun anak tangga, Senja bisa melihat suaminya sudah duduk di kursi meja makan. Ia menghampiri dan berdiri di sana.
“Aku izin berangkat kerja dulu, Mas.”
Baskara meletakkan gelas s.u.su yang baru saja diminum. Ia bawa pandangannya pada Senja yang napasnya terdengar ngos-ngosan.
“Duduk dan sarapan. Saya tidak mengizinkan kamu kerja.”
Senja melebarkan mata. “Tapi, Mas. Aku ada liputan hari ini.”
Baskara menggeleng. Ia mempertajam tatapannya pada perempuan tersebut.
“Perlu saya perjelas lagi ucapan saya?”
Perintahnya tadi terdengar mutlak, tidak terbantahkan.
Senja menggeleng. Ia menunduk. Tangannya meremas tas yang sudah dibawa. Perempuan itu tergagap, takut.
Senja merasa serba salah. Entah kenapa ada rasa tertekan tiap kali harus menghadap pria tersebut.
Cara bicara Baskara selalu terkesan mengintimidasi. Senja merasa tertekan. Cara suaminya memandang selalu memberi bahaya padanya.
“Baik, Mas.”
Hanya kalimat itu yang terlontar di tengah rasa bimbangnya. Senja tidak bisa berucap banyak dan memilih meletakkan tas kerjanya di kursi meja makan yang kosong.
Baskara mengawasi tiap pergerakan Senja. Apa yang dilakukan perempuan itu tidak pernah lepas dari atensinya.
Lantas, tatapannya berhenti pada memar di dahi. Seketika ia membanting sendoknya keras ke piring. Bunyi denting yang nyaring membuat Senja mundur selangkah.
“Sengaja kamu memperlihatkan luka itu? Huh?!”
Senja menatap Baskara sejenak, sebelum pandangannya kembali turun, tertuju pada tangannya yang saling bertaut dan gemetar.
“A–aku ....”
“Tutupi luka kamu dan duduk!”
Cepat, jari lentik perempuan itu menyisir kepala. Ia menutupi bagian yang memar dengan anakan rambut.
Meski ragu dan mati-matian menahan takut, Senja menarik kursi dan duduk di samping suaminya. Ia menatap menu yang tersaji pagi ini.
Belum sampai ia bertindak, Baskara sudah mengambilkannya nasi. Perhatian pria ini justru membuat Senja makin tak karuan.
Kepalanya sibuk menebak. Kiranya rencana apa lagi yang Baskara pikirkan? Kenapa tiba-tiba perhatian itu diberikan padanya?
“Cukup?” tanya Baskara perihal porsi nasi yang ia ambil untuk sang istri.
Senja mengangguk pelan, satu kali. “Cukup, Mas. Lauk-pauknya, biar aku ambil sendiri.”
Baskara tidak merespons. Ia menarik tangannya dari piring Senja untuk melanjutkan makannya sendiri.
“Saya nggak suka perempuan pembangkang. Kamu harus paham itu.”
Kunyahan perempuan itu memelan ketika mendengar ucapan Baskara. Mulai sekarang, ia harus siap hidup di bawah tekanan pria tersebut.
Ini semua konsekuensi dari keputusannya dalam menerima keputusan mamanya menjodohkan dirinya dengan pria matang itu.
Sikap Senja yang diam membuat Baskara kesal. Ia meneguk minumannya dan meletakkan gelas itu sedikit kasar.
Bunyi benda yang membentur meja tersebut membuat lamunan Senja berakhir. Ia mengangkat kepalanya pelan.
“Iya, Mas. Paham.” Senja menjawab lemah. Ia kembali menyuap makanan itu ke mulut.
“Kamu juga harus pulang tepat waktu. Pastikan makan malam sudah siap sebelum saya pulang. Makanan itu harus dalam keadaan panas.”
Uhuk-uhuk!
Sontak Senja tersedak saat meneguk minumannya. Ia terbatuk beberapa kali, sampai akhirnya air yang ada di mulutnya keluar dan mengotori lantai.
Baskara menggeram tertahan. Ia langsung mengempas piring dan gelasnya hingga jatuh ke lantai.
Pecahan benda itu bahkan mengenai lutut Senja. Perempuan tersebut sontak memeganginya saat merasa perih.
“b******k!”
Umpatan itu kasar. Baskara berdiri dan langsung mencengkeram tengkuk Senja. Ia mengambil nasi di piring sang istri dan menyuapinya paksa.
Senja menggeleng. Ia bahkan sempat menutup mulutnya, sebelum akhirnya Baskara tetap mendorong sendok itu hingga melukai bibirnya.
“Aku nggak sengaja, Mas. Tadi—“
“Diam! Saya benci sikap kamu yang terus-terusan membela diri, padahal jelas-jelas kamu salah!”
Senja tidak menjawab lagi. Ia berusaha menetralkan rasa takutnya. Sampai akhirnya, ia kembali menegakkan tubuhnya dan memandang Baskara.
Bagaimana mungkin pria yang katanya terpandang dan lembut itu, bahkan jauh lebih mengerikan daripada monster.
“Sakit, Mas!” Senja memegangi lengan Baskara. “Dari semalam kamu udah nyakitin aku.”
“Jangan membalikkan fakta. Kamu yang buat saya begini! Kamu menolak saya, Senja. Itu sama saja penghinaan.”
Pernyataan itu membungkam mulut Senja. Ia menggeleng dan memejam rapat untuk menahan rasa sakitnya.
Detik berikutnya, Baskara melepas cengkeraman di tengkuk sang istri. Ia biarkan Senja bernapas lega untuk sementara.
“Aku hanya minta waktunya sebentar, Mas. Aku perlu adaptasi. Itu saja.”
Senja berucap penuh harap. Tatapan dalam dan hangat itu ia berikan pada Baskara yang menatapnya nyalang.
Baskara menyahutnya dengan tawa kecil, penuh remeh. Ia muak dengan jawaban itu. Pria tersebut tetap menuntut untuk dilayani.
“Saya nggak peduli kamu siap atau nggak. Selagi kamu menolak, berarti kamu siap dengan konsekuensi lebih sakit dari semalam.”
Suasana meja makan yang seharusnya hangat berubah menjadi ketegangan yang makin memanas.
Lantai marmer itu dipenuhi pecahan piring dan gelas. Makanannya berserakan. Pemandangan kotor itu membuat Baskara jijik.
Senja selalu tidak bisa berkutik ketika mendapat kekerasan Baskara. Ia hanya bisa melawan sekadarnya.
“Mba!”
Panggilan keras itu membuat dua pelayan rumah datang menghampiri. Mereka membungkuk segan di depan Baskara.
“Bereskan kekacauan ini!”
“Baik, Tuan.”
Keduanya langsung melaksanakan perintah dari Baskara.
Baskara berganti memandang Senja. “Dalam waktu tiga puluh menit, kamu harus siapkan menu baru. Ada tamu yang akan datang pagi ini.”
“I–iya, Mas.”
Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan meja makan yang kotor dan berantakan.
Di lain sisi, Senja langsung bergerak. Ia berjalan ke arah dapur dan melihat barang serta bahan yang ada di sana.
Di tengah situasi yang tengah membuatnya berpikir keras, suara notifikasi ponselnya terdengar.
Dengan tangan gemetar, Senja meraih ponsel tersebut dan melihat isi pesan dari Elang. Pria itu selalu mempunyai cara untuk mendekatinya lagi.
[“Saya di luar.”]
Senja memilih untuk tidak membalas. Ia berniat menyimpannya ke saku. Namun, belum sampai benda itu masuk sepenuhnya, suara notifikasi kembali terdengar.
[“Ada hal yang mau saya bicarakan. Kalau kamu nggak mau keluar, saya akan datang dan meminta izin pada Baskara langsung untuk membawa kamu.”]
***