Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Senja seperti ingin lepas dari tempatnya. Elang benar-benar nekat. Pria tersebut sudah tidak waras, mungkin.
Rupanya, keputusan untuk mengaktifkan satu ponsel lamanya bukanlah keputusan yang bagus. Namun, ia terpaksa menggunakannya setelah ponsel yang biasa dipakai dirusak oleh Baskara tadi malam.
“Pesan dari siapa?” Baskara bertanya. Entah sejak kapan, pria itu sudah ada di belakangnya.
Senja langsung menyimpan ponselnya. Ia mengambil ayam yang sudah dimarinasi dan beberapa sayur mentah sebagai lalapan.
Perempuan tersebut berdiri, berusaha menampilkan senyum tipis di bibirnya yang kering.
“Dari Bening, Mas.”
Baskara berkacak pinggang. Ia berusaha mencari kebohongan di wajah istrinya. Setelah cukup lama memperhatikan, pria tersebut akhirnya menghela napas kasar.
“Lakukan tugasmu cepat! Tamu saya sudah dalam perjalanan.”
“Baik, Mas.”
Senja langsung bersiap untuk menggoreng ayam dan membuat sambal bawang. Sayur sebagai lalapan juga ia bersihkan dengan teliti.
Terakhir, ia menggoreng tahu dan tempe bacem. Juga memotong buah yang sudah dikupas oleh salah satu pelayan rumah suaminya.
Baskara yang mengawasi dari kejauhan sedari tadi kini mulai beranjak. Ia melirik jam yang membelit pergelangan.
“Ikut saya ke kamar!”
Perempuan tersebut kembali dilanda ketakutan. Ia menatap Baskara, berusaha mencari jawaban atas perintah itu.
Tapi, lagi-lagi wajah pria itu terlalu misterius. Terlalu sulit diterka. Senja bahkan tidak pernah berhasil mengetahui apa yang direncanakan sang suami.
Baskara yang sadar jika langkahnya tidak diikuti oleh sang istri, kini berbalik. Ia berdiri di ujung tangga. Matanya melotot ke arah Senja.
“Pasang telinga kamu baik-baik ketika saya bicara, Senja!”
Senja terenyak. Ia seperti orang linglung. Kesialan seakan kembali menimpanya. Perempuan tersebut cepat-cepat menyusul langkah Baskara.
Ting!
Satu pesan kembali masuk. Senja berhenti di tengah tangga. Ia memaku tatapannya pada layar ponsel yang kini menyala.
Sebuah video yang memperlihatkan dirinya tengah berc.i.u.m.an dengan Elang tadi malam terlihat jelas di sana.
[“Saya nggak akan kirim video ini ke suami kamu kalau kamu mau menemui saya. Sebentar saja, Senja.”]
Suasana makin kacau. Senja tidak bisa bersikap tenang. Ia ingin pergi—menghindar. Atau bahkan lenyap untuk sementara waktu.
“Hape siapa yang kamu pakai?!”
Teguran itu bahkan tidak ditanggapi oleh Senja. Perempuan itu melamun. Pikirannya larut dengan kemungkinan buruk yang bisa saja Elang lakukan.
“Senja!”
Senja terenyak mendengar panggilan itu. “Iya, Mas?” Tatapannya dipenuhi kebingungan.
“Jawab pertanyaan saya!”
Perempuan itu memandang suaminya. Ia geser rasa gugupnya sementara dan mulai kembali menyimpan ponselnya.
“Maaf, Mas. Bening, tanya soal revisian.”
Baskara menghampiri Senja. Ia rebut ponsel itu dan memeriksanya dengan saksama. Satu per satu pesan dibuka tanpa izin.
Senja berusaha bersikap biasa saja. Beruntung, sebelum turun ke meja makan tadi ia sempat menyembunyikan pesan Elang di brankas khusus.
Dan, beruntung pula karena Bening memang mengiriminya pesan semenjak tadi. Sahabatnya itu bertanya tentang pekerjaan.
Baskara mengembalikan ponsel milik sang istri. Ia mengajak Senja untuk masuk ke dalam kamar. Tangannya kini membuka dua pintu lemari sekaligus.
Pandangannya mengeliling, memeriksa satu per satu baju Senja yang tertata rapi di sana. Ia mengambil satu setel baju lengan panjang.
“Pakai ini!” ucapnya sambil melempar ke baju tersebut ke arah Senja. “Tutupi semua bekas lukamu.”
Tidak ada yang bisa Senja lakukan selain patuh. Ia masuk ke ruang ganti dan keluar dengan penampilan yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
“Bagus. Sekarang, kamu tutupi luka di dahi dengan makeup.”
“Iya, Mas.”
Senja langsung duduk di depan meja rias. Ia mengambil set makeup dan lekas merias wajahnya untuk menutupi luka itu.
Rasanya sangat menyakitkan. Bahkan, Senja merasa nyeri ketika spons itu menyentuh lukanya yang masih memerah.
Ketukan pintu terdengar. Baskara menoleh ke arah pintu kamar dan berjalan ke sana. Ia tarik benda itu dan menatap garang pelayan rumahnya.
“Ada apa?”
“Permisi, Tuan. Di bawah ada Tuan Elang. Katanya sudah ada janji sama Tuan.”
“Suruh dia masuk. Langsung arahkan ke meja makan supaya sarapan bersama saya.”
“Baik, Tuan.”
Baskara memutar kepala. Ia melihat sosok istrinya yang diam ketika wajahnya sudah mulus. Luka itu sudah tidak terlihat lagi.
“Kemari.”
Senja langsung berdiri dan melangkah pelan ke arah Baskara. Begitu berdiri berdampingan, pinggang rampingnya langsung direngkuh posesif.
“Ingat. Jangan memperlihatkan wajah tertekan kamu di depan rekan kerja saya.”
Mengangguk, Senja seolah bisu ketika lagi-lagi kenyataan membuatnya seperti hilang kesadaran. Ia ... bimbang. Tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.
“Aku usahain, Mas.”
“Harus.” Baskara menekan ucapannya. “Kamu harus terlihat bahagia di depan orang lain. Paham?”
“Paham, Mas.”
Senja makin dibuat tidak bisa berkutik. Ia harus bertindak seperti apa? Ah, andai suaminya tahu jika ia adalah mantan istri dari pria bernama Elang itu.
Setelah cukup lama berpikir, Senja akhirnya hanya bisa mematuhi apa pun yang diminta Baskara. Perempuan tersebut hanya bisa menunggu detik-detik yang menegangkan.
Tidak berselang lama, Baskara mengajaknya turun. Pinggangnya masih direngkuh mesra oleh sang suami. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan menilai bahwa ia dan Baskara adalah pasangan romantis.
Begitu sampai di ujung tangga bawah, Senja tidak berani menoleh. Ia menunduk, memaku tatapannya pada sepatu pantofel mengilap yang dipakai Elang.
Baskara tersenyum hangat menyambut Elang. “Pagi sekali kamu datang ke sini, Elang.” Ia menghampiri dan merangkulnya. “Maaf lama menunggu.”
“Maaf kalau mengganggu waktu Pak Baskara pagi-pagi,” ucap Elang, menunjukkan sikap tidak enaknya. “Tapi, ada hal penting yang perlu kita bicarakan.”
Elang berucap datar. Ekor matanya melirik Senja yang hanya berdiam diri di samping suaminya. Tanpa Baskara tahu, ia tersenyum penuh arti ketika menatap sang mantan istri.
“Apa kondisinya darurat?”
Pertanyaan Baskara membuat Elang terdiam beberapa detik lamanya. Ia terlihat mempertimbangkan, sebelum akhirnya mengangguk.
“Lumayan. Ini ... ada sangkut pautnya dengan orang ketiga.”
Senja hampir kehabisan napas saat mendengar ucapan Elang. Tubuhnya seperti terbakar—panas. Ia berpikir keras, berusaha untuk mencari cara supaya sang mantan suami tidak bicara macam-macam pada Baskara.
“Orang ketiga?” Baskara mengernyit heran.
Elang mengangguk. “Ya.”
Suasana hening. Baskara menoleh ke arah Senja. Istrinya itu masih diam dan tidak memberi sambutan sedikit pun pada Elang.
“Saya hampir lupa. Perkenalkan, ini istri saya, Elang. Namanya Senja.”
Baskara menekan pinggang Senja. Ia seolah memberi kode supaya perempuan tersebut bersikap ramah pada tamunya.
Atensi Elang kembali jatuh pada Senja. Ia memakunya dalam. Tangan kanannya terulur ke arah Senja. Pria tersebut tengah mendalami perannya sebagai tamu Baskara di rumah itu.
“Elang.”
Ragu, Senja membalas jabatan tangan itu. Keduanya saling bersentuhan. Pandangan perempuan tersebut naik—dari genggaman ke wajah.
Kedua pasang mata itu saling menatap. Sangat dalam. Bahkan, mereka juga merasa sedang berbicara melalui tatapan.
Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Entah apa itu.
“Senja.”
Suara lembut perempuan itu terdengar bersamaan dengan tindakannya melepas jabatan tangan Elang. Senja kembali menunduk, mengalihkan pandangan.
“Beruntung Pak Baskara punya istri secantik Senja.”
Baskara mengangguk. Ia merangkul Senja, begitu bangga. Ia tatap wajah istrinya itu sejenak. “Selain cantik, dia juga pintar masak.”
“Benarkah?”
Baskara menoleh pada Elang, memberi pembenaran atas pertanyaan lelaki itu. "Iya, Lang."
“Paket komplit namanya.” Elang tertawa kecil setelah melayangkan pujian. “Oh, iya, Pak, sekalian saya mau ambil berkas yang kapan hari saya titipkan pada Pak Baskara.”
Baskara terdiam. Dahinya mengernyit, berusaha mengingat.
“Ah. Berkasnya ada di atas. Setelah saya periksa, ada beberapa hal yang sepertinya perlu direvisi,” terang Baskara menghela napasnya pelan. “Kalau kamu bersedia, saya akan merevisinya sebentar. Sambil menunggu, sekali-kali kamu harus coba sarapan di rumah saya, Elang. Masakan istri saya nggak perlu diragukan lagi.”
Elang diam, seolah berpikir panjang. “Well. Sepertinya itu menarik, Pak Baskara. Maaf karena sudah merepotkan.”
Pria itu menepuk pundak Elang dan tertawa kecil. “Santai saja, Elang,” ucapnya lantas melihat ke arah Senja. “Senja, layani tamu kita dengan baik. Saya ke atas dulu.”
Senja mengangguk. “Baik, Mas.”
Setelah Elang dan Senja duduk di meja makan, Baskara melangkah, menaiki satu per satu tangga untuk menuju ke lantai dua. Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Elang menaruh atensinya pada Senja.
“Kamu nggak mau sambut tamu suami kamu, Senja?”
Senja tetap membisu. Ia tak bergerak. Mulutnya seolah terkunci, sementara tubuhnya gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Garpu dan sendok di tangannya bergetar pelan, tak beraturan.
Elang ragu menatap sikap Senja yang demikian. Riuh di kepalanya kian menjadi. Kedua tangannya mengepal di sisi paha, menahan sesuatu yang berdesak di dadanya.
Ia melangkah maju, menarik kursi di samping Senja hingga berderit nyaring, lalu duduk tepat di samping wanita itu.
“Jangan jadi istri durhaka, Senja,” ucap Elang pelan. Ia memiringkan tubuh, mendekatkan bibir ke telinga kanan Senja, berbisik rendah, “Pak Baskara minta kamu melayani saya. Apa kamu tidak paham?”
Senja memalingkan wajah—menghindar. Ia terjebak dalam suasana yang membuat perutnya mual. Ia tegang. Ketegangan itu menjalar sampai ke perut dan kepalanya.
Sialan!
Sikap acuh Senja justru memantik sesuatu yang lain di hati Elang. Emosinya bergolak, nyaris meledak setiap kali perempuan itu memilih diam dan mengabaikannya.
Tangan kirinya meluncur lancang, menyentuh paha Senja lalu mengusapnya perlahan—terlalu lama untuk disebut kebetulan. Sentuhan itu membuat tubuh mantan istrinya tersentak ringan.
Pandangan Senja jatuh ke bawah. Jari-jari kokoh Elang menekan pahanya cukup kuat, meninggalkan jejak kemerahan di kulit putihnya.
Dress selutut yang dikenakan bahkan tersingkap sedikit. Senja bisa merasakan kulit keras Elang menyentuhnya tanpa kelembutan.
Perempuan tersebut melesatkan tatapan penuh bencinya pada Elang. Makin ia menghindar, Elang justru makin mengejar dan melakukan hal lebih jauh.
Pria di sampingnya sungguh tidak memikirkan dampak buruk yang bisa saja terjadi jika hal ini diketahui oleh Baskara.
Dengan kesadaran penuh, tangan Elang ia tepis kasar. Sentuhan itu berakhir, meninggalkan sensasi aneh yang menyeruak.
“Jangan kurang ajar kamu, Kak!”
Peringatan Senja meluncur dengan tekanan jelas. Nada kesal terselip di sana, sementara wajahnya mengeras, masam, menyimpan amarah yang nyaris tumpah.
Elang justru tersenyum penuh arti. Ia menyukai Senja yang seperti ini—berani, marah, tak lagi sepenuhnya tenang. Baginya, itu pertanda bahwa emosinya berhasil ia sentuh.
“Saya sudah memintanya baik-baik,” ujar Elang datar, nyaris santai. “Seharusnya kamu paham bagaimana caranya membalas sikap baik saya.”
***